LAMPUNG -(deklarasinews.com)- BPS Provinsi Lampung mencetak terobosan kreatif dalam upaya menyosialisasikan program nasional Sensus Ekonomi 2026 (SE2026). Alih-alih mengandalkan pendekatan konvensional, BPS Provinsi Lampung memilih berbicara melalui bahasa sinema.
Pada Malam Anugerah Festival Film Lampung (FFL) 2026 di Aula Rektorat Lantai III IIB Darmajaya, Minggu (10/5). Film pendek berjudul “Abah” berhasil menjadi pemenang pada Nominasi Kategori Film Terfavorit Lampung. Film produksi Underscene dan BPS Provinsi Lampung ini sekaligus menjadi simbol bahwa pesan-pesan kebijakan pemerintah dapat disampaikan dengan cara yang jauh lebih humanis.
Bima Prastya Handawi, Sutradara film “Abah” yang juga Humas BPS Provinsi Lampung, mengungkapkan bahwa film tersebut lahir dari keinginan sederhana, untuk menyentuh sisi kehidupan masyarakat. Film Abah memotret kehidupan Supian, seorang pemilik bengkel sekaligus montir sederhana yang berjuang menghidupi keluarganya di tengah himpitan ekonomi,” tutur Bima.
Konflik utama dalam film ini dihadirkan melalui sosok Ilham, putra Supian yang masih menganggur. Ketegangan antara rasa lapar, harga diri, dan pahitnya kenyataan hidup menguji ikatan batin antara ayah dan anak tersebut hingga ke titik yang paling rapuh. Namun, alur cerita menawarkan titik balik yang bermakna, Ilham diterima sebagai petugas Sensus Ekonomi 2026, sebuah kesempatan yang tidak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga membuka cara pandangnya pada kehidupan.
“Di balik setiap angka dan data statistik, ada kisah nyata tentang perjuangan, ketabahan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.” ungkap Bima.
Melalui film ini, BPS Provinsi Lampung ingin mengubah cara pandang masyarakat tentang Statistik. SE2026 yang berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026 ini bukan sekadar pendataan teknis yang kaku, melainkan instrumen vital untuk memotret kondisi riil masyarakat guna menentukan arah kebijakan ekonomi nasional yang tepat sasaran di masa depan.
Keberhasilan “Abah” tentu tak lepas dari panggung yang selama ini konsisten menghidupkan ekosistem perfilman daerah. Festival Film Lampung sendiri telah memasuki tahun ke-17 penyelenggaraannya. Sebuah pencapaian yang tak mudah dipertahankan. Wakil Rektor Bidang Nonakademik IIB Darmajaya, Muprihan Thaib, menyampaikan apresiasinya atas konsistensi festival yang telah menjadi rumah bagi sineas-sineas muda Lampung ini.
“FFL yang ke-17 selalu konsisten dalam pelaksanaannya. Jangan sampai film Indonesia ini punah. Kalau bukan kita yang menggerakkan, siapa lagi. Ini penting karena tidak semua anak muda mau menggelar festival film.” Ungkap Muprihan Thaib, Wakil Rektor Bidang Nonakademik, IIB Darmajaya.
Abah menjadi pengingat tentang pengorbanan, penyesalan, dan arti keluarga, namun di saat yang sama, ia berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Harapannya sederhana, agar masyarakat lebih terbuka dalam memberikan data yang akurat dan jujur apa adanya pada saat pelaksanaan SE2026 mendatang. Karena dari data yang benar, kebijakan yang tepat akan lahir, dan dari kebijakan yang tepat, nasib Supian dan Ilham di dunia nyata pun bisa berubah menjadi lebih baik.