Driver Ojol Jadi UMKM: Makin Sejahtera atau Merana? Ini Temuan Diskusi Paramadina

JAKARTA -(deklarasinews.com)– Rencana pemerintah menetapkan pengemudi ojek online (ojol) sebagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu agenda kebijakan yang berpotensi membawa perubahan besar bagi jutaan pekerja platform digital di Indonesia. Di satu sisi, kebijakan tersebut dipandang mampu memberikan kepastian hukum, memperluas akses terhadap pembiayaan, pelatihan, legalitas usaha, serta berbagai program pemberdayaan UMKM. Namun di sisi lain, perubahan status tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap produktivitas, kesejahteraan driver, hubungan kemitraan dengan perusahaan aplikasi, perlindungan sosial, hingga keberlanjutan ekosistem ekonomi digital nasional 31 Juli 2026.

Berangkat dari pentingnya memastikan bahwa kebijakan tersebut benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat, Universitas Paramadina bersama Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), dan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyelenggarakan Diskusi Publik bertajuk “Driver Ojol Menjadi UMKM: Makin Sejahtera atau Makin Merana” pada Jumat (31/7/2026). Diskusi dimoderatori oleh Fadhila Maulida, Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM INDEF.

Dalam sambutannya, Managing Director Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Muhamad Rosyid Jazuli, menegaskan bahwa perkembangan ekonomi digital telah membawa perubahan besar terhadap struktur pasar kerja Indonesia. Platform digital telah membuka kesempatan kerja bagi jutaan masyarakat, namun pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan baru terkait regulasi, hubungan kemitraan, perlindungan pekerja, hingga tata kelola ekonomi digital.

Menurut Rosyid, perubahan status driver menjadi UMKM tidak boleh dipahami semata sebagai perubahan administratif, tetapi harus menjadi momentum untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat dan menciptakan ekosistem transportasi online yang lebih adil dan berkelanjutan. “Kebijakan publik harus disusun berdasarkan data, bukti, dan dialog yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Yang terpenting bukan sekadar mengubah status driver menjadi UMKM, tetapi memastikan bahwa perubahan tersebut benar-benar meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujar Rosyid.

Ia menambahkan bahwa diskusi publik ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Paramadina dan PPPI dalam menghadirkan rekomendasi kebijakan berbasis riset yang mampu menjembatani kepentingan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Sebagai keynote speaker, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM RI, M. Riza Damanik, menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang menyusun regulasi yang mengatur hubungan kemitraan antara perusahaan aplikasi dan driver ojol dalam kerangka pemberdayaan UMKM. Menurutnya, perkembangan ekonomi berbasis platform digital telah menciptakan model usaha baru yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam kerangka regulasi yang ada. Karena itu, pemerintah berupaya menghadirkan kepastian hukum yang mampu menjawab dinamika baru tersebut.

Riza menjelaskan bahwa terdapat lima tujuan utama dari kebijakan tersebut. Pertama, memberikan kepastian status hukum bagi driver yang selama ini berada dalam posisi yang belum memiliki landasan regulasi yang jelas. Kedua, memperkuat hubungan kemitraan yang lebih setara antara perusahaan aplikasi dan para pengemudi sehingga hak serta kewajiban kedua belah pihak dapat diatur secara lebih transparan. Ketiga, memberikan perlindungan terhadap praktik-praktik yang berpotensi merugikan driver, termasuk penghentian kemitraan secara sepihak maupun ketidakjelasan berbagai komponen biaya yang dikenakan dalam hubungan kemitraan. Keempat, membuka akses yang lebih luas bagi driver terhadap berbagai program pemberdayaan UMKM yang selama ini belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh para pengemudi transportasi online. Kelima, menjaga keberlanjutan ekosistem transportasi online sehingga mampu terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menciptakan peluang usaha yang sehat bagi seluruh pelaku.

Pemerintah, lanjut Riza, juga tengah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung apabila kebijakan tersebut diterapkan. Fasilitas tersebut meliputi penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), pendampingan hukum, literasi kewirausahaan, literasi keuangan, penguatan kelembagaan ekonomi kolektif, hingga mekanisme penyelesaian sengketa melalui platform SAPA UMKM. “Kami ingin memastikan bahwa apabila driver masuk dalam ekosistem UMKM, mereka memperoleh manfaat nyata berupa akses terhadap pembiayaan, pelatihan, legalitas usaha, dan perlindungan yang lebih baik,” jelasnya.

Namun demikian, Riza juga menegaskan bahwa regulasi tersebut masih berada dalam proses pembahasan lintas kementerian dan lembaga. Pemerintah masih terus melakukan konsultasi dengan berbagai komunitas driver, perusahaan aplikasi, serta para pemangku kepentingan lainnya agar regulasi yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan seluruh pihak. Bagi pemerintah, keberhasilan kebijakan tidak hanya diukur dari jumlah driver yang nantinya memiliki Nomor Induk Berusaha atau terdaftar sebagai UMKM, tetapi juga dari sejauh mana kebijakan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan pengemudi sekaligus menjaga keberlanjutan industri transportasi berbasis aplikasi di Indonesia.

Direktur Program Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Annisa R. Leofianti, M, mengajak peserta melihat perubahan status driver ojol bukan hanya sebagai isu hukum atau ekonomi, melainkan juga sebagai persoalan psikologis yang menyangkut identitas, rasa aman, kesejahteraan, dan kualitas hidup para pengemudi. Menurut Annisa, pekerjaan sebagai driver ojol telah berkembang menjadi sumber penghidupan utama bagi jutaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, setiap perubahan kebijakan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap individu yang menjalani pekerjaan tersebut setiap hari.

Annisa memaparkan hasil survei terhadap 1.000 driver ojol dari berbagai wilayah di Indonesia. Survei tersebut menunjukkan bahwa karakteristik pengemudi sangat beragam, baik dari sisi usia, tingkat pendidikan, maupun latar belakang pekerjaan. Tidak sedikit driver yang sebelumnya bekerja di sektor formal, kemudian beralih menjadi pengemudi akibat pemutusan hubungan kerja (PHK), pensiun dini, atau terbatasnya kesempatan kerja.

Temuan lain menunjukkan bahwa 72 persen responden menjadikan pekerjaan sebagai driver ojol sebagai sumber penghasilan utama, sedangkan 87 persen telah bekerja lebih dari satu tahun. Data tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan sebagai pengemudi platform digital telah menjadi bagian penting dari struktur pasar kerja Indonesia dan tidak lagi dapat dipandang sebagai pekerjaan sementara. Berdasarkan temuan tersebut, Annisa mengingatkan bahwa perubahan status menjadi UMKM harus benar-benar menghasilkan peningkatan kesejahteraan, bukan sekadar memindahkan tanggung jawab dari perusahaan aplikasi kepada individu.

Annisa memperkenalkan konsep pseudo-autonomy, yaitu kondisi ketika seorang pekerja secara administratif dianggap sebagai pelaku usaha yang mandiri, tetapi dalam praktiknya tidak memiliki keleluasaan dalam menentukan tarif, memperoleh order, maupun mengendalikan mekanisme kerja yang sebagian besar ditentukan oleh sistem aplikasi. “Kemandirian bukan hanya soal status hukum. Kemandirian berarti memiliki ruang untuk mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang dijalankan. Jika tanggung jawab semakin besar tetapi ruang kendali tetap terbatas, maka yang terjadi bukanlah pemberdayaan, melainkan pergeseran risiko kepada individu,” jelas Annisa.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan kebijakan harus diukur melalui indikator kesejahteraan yang lebih luas, seperti stabilitas pendapatan, rasa aman dalam bekerja, tingkat stres finansial, risiko kelelahan (burnout), dan kualitas hidup pengemudi beserta keluarganya. Annisa juga menilai bahwa Indonesia dapat belajar dari pengalaman sejumlah negara, salah satunya Brasil, yang menerapkan mekanisme opt-in bagi pekerja platform. Dalam skema tersebut, pekerja diberikan kesempatan memilih secara sukarela apakah akan bergabung sebagai pelaku usaha mikro, tanpa kehilangan hak atas skema yang telah dimiliki sebelumnya.

Dipo Satria Ramli, Ekonom CORE Indonesia, menilai bahwa keberadaan transportasi online telah menjadi salah satu penyangga penting pasar tenaga kerja Indonesia, terutama di tengah terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal. Diperkirakan terdapat sekitar tiga juta masyarakat Indonesia yang menggantungkan penghidupannya sebagai pengemudi transportasi online. Oleh karena itu, perubahan kebijakan terhadap sektor ini akan berdampak luas, tidak hanya bagi driver, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Dipo menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua kebijakan besar yang sedang menjadi perhatian para pengemudi, yaitu rencana perubahan status menjadi UMKM dan implementasi kebijakan batas maksimal komisi aplikasi sebesar delapan persen. Menurutnya, kebijakan komisi merupakan hasil perjuangan panjang komunitas driver. Namun, penurunan komisi belum otomatis meningkatkan kesejahteraan apabila jumlah order menurun atau biaya operasional terus meningkat.

Ia menilai bahwa persoalan yang paling banyak dikeluhkan para pengemudi hingga saat ini justru berkaitan dengan transparansi algoritma pembagian order, kepastian insentif, serta mekanisme penentuan tarif yang belum sepenuhnya dipahami oleh driver. “Perbaikan tata kelola platform digital tetap menjadi isu yang sangat penting. Status UMKM tidak boleh mengalihkan perhatian dari persoalan utama yang selama ini dihadapi para pengemudi,” ujarnya.

Dipo juga mengingatkan bahwa sebagian driver masih memiliki kekhawatiran mengenai konsekuensi perubahan status, termasuk kemungkinan munculnya beban administratif baru, kewajiban perpajakan, maupun berkurangnya tanggung jawab perusahaan aplikasi terhadap para mitranya. Karena itu, implementasi kebijakan dinilai harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap, dengan memastikan bahwa manfaat yang diterima driver lebih besar dibandingkan biaya maupun risiko yang harus mereka tanggung.

Menurut Direktur Program INDEF, Eisha Maghfiruha Rachbini, pertumbuhan ekonomi digital telah mempercepat perkembangan gig economy, sementara pada saat yang sama sektor informal masih menjadi penyangga utama ketenagakerjaan Indonesia. Kondisi tersebut menuntut hadirnya regulasi yang mampu mengakomodasi bentuk-bentuk pekerjaan baru, termasuk ojek online tanpa mengurangi perlindungan terhadap para pekerjanya

Berdasarkan kajian bersama INDEF dan PPPI menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE) 2026, sektor transportasi online memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap perekonomian nasional. Kajian tersebut menunjukkan bahwa sektor ini menciptakan sekitar 2,9 juta lapangan kerja langsung dan 2,62 juta lapangan kerja tidak langsung, sehingga total dampak kepada lapangan kerja adalah 5,53 juta pekerja Selain itu, Transportasi online juga memberikan kontribusi besar terhadap output ekonomi nasional mencapai sekitar Rp 565 Triliun.

Selain membuka kesempatan kerja, transportasi online juga berkontribusi terhadap efisiensi logistik, peningkatan produktivitas ekonomi, serta membantu menjaga daya beli masyarakat melalui biaya distribusi yang lebih efisien. Namun demikian, Eisha mengingatkan bahwa legalitas status UMKM tidak akan otomatis meningkatkan produktivitas apabila tidak diikuti dengan akses nyata terhadap pembiayaan, pelatihan, pengembangan kapasitas usaha, dan perlindungan sosial.

Ia menjelaskan bahwa UMKM memang menyumbang sekitar 61 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Akan tetapi, kelompok usaha mikro yang jumlahnya mendominasi masih menghadapi tantangan produktivitas yang relatif rendah dibandingkan usaha kecil maupun menengah. Oleh sebab itu, apabila driver ojol nantinya dikategorikan sebagai usaha mikro, pemerintah perlu memastikan bahwa perubahan tersebut benar-benar menjadi pintu masuk menuju peningkatan kapasitas usaha, bukan sekadar perubahan klasifikasi administratif. “Legalitas harus menjadi instrumen pemberdayaan. Driver perlu memperoleh akses terhadap pembiayaan, pelatihan, perlindungan sosial, serta peluang diversifikasi usaha agar dapat berkembang dan meningkatkan produktivitasnya,” jelas Eisha.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan perlindungan sosial, termasuk kepastian mengenai BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, maupun berbagai bentuk dukungan pemerintah lainnya selama masa transisi kebijakan.

Diskusi publik ini menunjukkan bahwa transformasi ekonomi digital memerlukan pendekatan kebijakan yang adaptif sekaligus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Perubahan status driver ojol menjadi UMKM berpotensi memberikan manfaat apabila diikuti oleh penguatan hubungan kemitraan yang lebih adil, kepastian hukum, perlindungan sosial yang memadai, serta akses nyata terhadap berbagai program pemberdayaan. Sebaliknya, apabila perubahan hanya berhenti pada aspek administratif tanpa memperbaiki persoalan mendasar yang dihadapi para pengemudi, maka tujuan meningkatkan kesejahteraan berisiko tidak tercapai.

Melalui diskusi ini, Universitas Paramadina, Paramadina Public Policy Institute (PPPI), INDEF, dan CORE Indonesia berharap proses penyusunan kebijakan dapat terus melibatkan berbagai pihak secara inklusif sehingga regulasi yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat dan mampu memperkuat daya saing ekonomi digital Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga riset, perusahaan platform, komunitas pengemudi, dan masyarakat sipil dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem transportasi online yang lebih adil, produktif, dan berkelanjutan.

This email and any files transmitted with it are confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom it is addressed. If you have received this email in error, please contact the sender and delete the email from your system. If you are not the named addressee you should not disseminate, distribute or copy this email.

Email ini dan berkas yang dilampirkan bersamanya adalah rahasia dan hanya dikirim kepada orang-orang atau entitas yang dituju oleh si pengirim email ini. Bila anda menerima email ini karena suatu galat, mohon segera hubungi pengirimnya dan hapus email ini dari sistem anda. Bila anda bukan termasuk orang yang dituju oleh si Pengirim email ini, anda tidak diperkenankan untuk menyebarluaskan, meneruskan atau menyalin isi dari email ini.

Universitas Paramadina – www.paramadina.ac.id. (Red)

Inovasi Digital Pertanian Antar Akademisi UBL, Riza Muhida Raih Penghargaan Nasional

JAKARTA -(deklarasinews.com)– Akademisi Universitas Bandar Lampung (UBL), Riza Muhida, S.T., M.Eng., Ph.D., meraih penghargaan Excellence Leadership in Agriculture Digital Technology Innovation pada ajang INAGRITECH 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Kamis (30/7/2026). Penghargaan tersebut diberikan oleh Forum Sinergi Inovasi Industri (FSII) sebagai apresiasi atas kepemimpinan dan kontribusinya dalam pengembangan teknologi digital untuk pertanian modern.

FSII, yang dibentuk oleh Tender Indonesia sejak 2020, merupakan forum kolaborasi antara akademisi, peneliti, dunia usaha, dan pemerintah untuk mendorong inovasi berkelanjutan. Dalam INAGRITECH 2026 yang mengusung tema “Peningkatan Produksi Pangan & Energi Melalui Inovasi Pertanian Modern”, penghargaan diberikan kepada tokoh-tokoh yang dinilai berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan sumber daya manusia di sektor strategis.

Riza terpilih setelah melalui proses observasi dan penilaian oleh penyelenggara. Penghargaan tersebut diberikan dalam forum yang mempertemukan pemerintah, asosiasi, pelaku industri, kontraktor, konsultan, produsen teknologi pertanian, hingga kalangan akademisi.

Di lingkungan akademik, Riza dikenal aktif mengembangkan riset di bidang mekatronika, robotika, otomasi, sistem cerdas, dan transformasi digital. Keahlian tersebut dinilai relevan dengan perkembangan pertanian modern yang kini memanfaatkan teknologi presisi, sensor, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), serta sistem otomasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Menurut Riza, masa depan pertanian bergantung pada kemampuan mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan nyata di lapangan. “Pertanian masa depan tidak hanya berbicara tentang peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana teknologi mampu membuat proses menjadi lebih presisi, efisien, terukur, dan berkelanjutan. Tantangannya adalah memastikan inovasi yang dikembangkan benar-benar dapat dimanfaatkan oleh petani maupun industri,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026)

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempercepat transformasi tersebut melalui riset terapan dan kolaborasi dengan pemerintah serta dunia usaha. Menurutnya, inovasi harus mampu melampaui tahap prototipe dan publikasi, hingga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Rektor UBL, Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, MBA, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan ini membuktikan bahwa dosen dan peneliti UBL mampu berkontribusi dalam pengembangan teknologi di sektor strategis nasional.

“Penghargaan ini bukan hanya menjadi pengakuan terhadap kompetensi individu, tetapi juga menunjukkan bahwa UBL memberikan kontribusi terhadap agenda inovasi nasional. UBL terus membangun ekosistem pendidikan tinggi yang menghubungkan pendidikan, penelitian, inovasi, industri, dan kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi lintas sektor, hasil riset diharapkan dapat diimplementasikan untuk mendukung pembangunan nasional,” kata Yusuf.

Penghargaan yang diterima Riza juga memperkuat komitmen UBL dalam mendorong inovasi berbasis teknologi yang memberikan dampak nyata, khususnya pada sektor pertanian, pangan, energi, dan pengembangan sumber daya manusia. Dari Lampung, UBL menunjukkan bahwa perguruan tinggi daerah mampu melahirkan inovasi yang berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.(Red)

ITC-TI 2026 Kampus Unggul Darmajaya Cetak Jagoan Teknologi, dari Cyber Security, Website Development hingga Mobile Legend

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMA TI) Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya dan Prodi Teknik Informatika Kampus Unggul IIB Darmajaya kembali menggelar Information Technology Competition – Teknik Informatika (ITC-TI) 2026 dan IT Fest 2026 sebagai wadah bagi pelajar SMA/SMK untuk mengembangkan kompetensi di bidang teknologi informasi pada Kamis, (30/7/26).

Kegiatan yang menjadi agenda tahunan tersebut menghadirkan berbagai kompetisi dan pameran teknologi yang berfokus pada pengembangan talenta digital masa depan. ITC-TI 2026 mempertandingkan sejumlah bidang yang saat ini menjadi kebutuhan industri digital, seperti Cyber Security, UI/UX Design, Mobile Technology, dan Data Science, sekaligus memperkenalkan perkembangan teknologi terkini kepada para peserta.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Komputer IIB Darmajaya Prof. Dr. Muhammad Said Hasibuan, S.Kom., M.Kom. menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, ITC-TI menjadi sarana untuk menemukan bibit-bibit unggul di bidang teknologi informasi yang kelak mampu bersaing di dunia kerja maupun tingkat kompetisi yang lebih tinggi.

“Setiap tahun kami terus berkomitmen mencetak talenta-talenta unggul di bidang teknologi. Dunia saat ini membutuhkan tenaga-tenaga terampil, khususnya di bidang Cyber Security, Artificial Intelligence (AI), Mobile Technology, UI/UX, hingga Data Science. Program Studi Teknik Informatika IIB Darmajaya juga terus mengembangkan kompetensi tersebut agar selaras dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Ia juga memberikan semangat kepada seluruh peserta agar menjadikan kompetisi sebagai pengalaman belajar yang berharga.

“Selamat berlomba dan selamat berkompetisi. Kami dari Dekanat memberikan dukungan penuh. Semoga dari kegiatan ini lahir bibit-bibit terbaik yang nantinya menjadi generasi unggul di bidang teknologi informasi,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Informatika IIB Darmajaya, Dr. Chairani, S.Kom., M.Eng., mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, sekolah, sponsor, panitia, dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan ITC-TI 2026 sehingga dapat berjalan dengan lancar.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi seluruh peserta dalam ITC-TI 2026. Terima kasih juga kepada para sponsor yang telah mendukung kegiatan ini. Menjadi juara tentu merupakan sebuah prestasi, namun yang lebih penting adalah bagaimana kompetisi ini menjadi tempat menempa kemampuan, kreativitas, dan pengalaman adik-adik semua,” ungkapnya.

Ketua Pelaksana ITC-TI 2026, Hary Sabita, S.Kom., M.T.I., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan HIMA TI yang kini memasuki penyelenggaraan ketiga dan terus mengalami perkembangan.

“Alhamdulillah, ITC-TI merupakan event tahunan dan tahun ini menjadi penyelenggaraan yang ketiga. Kami menghadirkan kompetisi di bidang Cyber Security, UI/UX Desain, Website Development, Mobile Technology, serta berbagai rangkaian kegiatan dalam IT Fest 2026 sebagai ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus meningkatkan kompetensi di bidang teknologi informasi,” jelasnya.

Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kompetisi dengan menjunjung tinggi sportivitas. “Berkompetisilah secara sportif, saling mendukung, dan semoga seluruh peserta dapat memperoleh hasil yang terbaik,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMA TI) IIB Darmajaya M. Naufal juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah hadir mengikuti kompetisi.

“Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi. Selamat berlomba untuk memperebutkan gelar juara. Namun setelah kompetisi berakhir, saya berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat dibagikan kepada teman-teman lainnya sehingga manfaatnya semakin luas,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan ITC-TI 2026 dan IT Fest 2026, IIB Darmajaya kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung lahirnya generasi muda yang unggul di bidang teknologi digital. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi media kolaborasi, inovasi, dan penguatan ekosistem teknologi informasi yang relevan dengan kebutuhan dunia industri di era transformasi digital. (**)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Kampus Unggul IIB Darmajaya Tembus Jurnal Scopus, Doktor Pertama Prodi Sains Data Publikasikan Riset AI untuk Prediksi Stunting

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Prestasi akademik kembali ditorehkan Kampus Unggul Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya. Dosen Program Studi Sains Data, Dr. Nurjoko, S.Kom., M.T.I., berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal internasional bereputasi Scopus, Journal of Applied Data Sciences (JADS) edisi Vol. 7 No. 2 Mei 2026. Jurnal tersebut terindeks Scopus dengan peringkat Q2 dan berada pada kategori Q3 SCImago Journal Rank (SJR).

Artikel yang dipublikasikan berjudul “Performance Evaluation of Support Vector Machine (SVM) and XGBoost for Predicting Toddlers’ Stunting Status Based on Anthropometric Data.” Penelitian ini mengevaluasi kinerja dua algoritma machine learning, yakni Support Vector Machine (SVM) dan XGBoost, dalam memprediksi status stunting balita berdasarkan data antropometri sehingga diharapkan mampu mendukung deteksi dini dan pengambilan keputusan yang lebih akurat dalam penanganan stunting.

Capaian tersebut semakin istimewa karena Dr. Nurjoko, S.Kom., M.T.I. merupakan doktor pertama yang dimiliki Program Studi Sains Data IIB Darmajaya. Sebelumnya, ia menyelesaikan studi doktor melalui disertasi yang juga berfokus pada penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk pemetaan dan deteksi dini risiko stunting berbasis wilayah.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IIB Darmajaya, Dr. Sri Lestari, S.Kom., M.Cs., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan tersebut. Menurutnya, publikasi pada jurnal internasional bereputasi Scopus menunjukkan kualitas riset dosen IIB Darmajaya yang semakin kompetitif di tingkat global.

“Publikasi pada jurnal bereputasi Scopus merupakan indikator penting kualitas penelitian dosen sekaligus pengakuan internasional atas kontribusi keilmuan yang dihasilkan. Kami mengapresiasi capaian Dr. Nurjoko yang tidak hanya berhasil menembus jurnal Scopus, tetapi juga menghadirkan penelitian yang relevan dengan salah satu isu strategis nasional, yakni penanganan stunting melalui pendekatan kecerdasan buatan,” ujar Dr. Sri Lestari saat diwawancarai pada Senin (27/7/2026).

Ia menambahkan, LPPM IIB Darmajaya terus berkomitmen membangun budaya riset yang unggul melalui pendampingan penulisan artikel ilmiah, peningkatan kolaborasi penelitian, serta penguatan publikasi pada jurnal bereputasi internasional. “Kami berharap prestasi ini menjadi inspirasi bagi seluruh dosen untuk terus menghasilkan penelitian yang inovatif, berdampak, dan mampu meningkatkan rekognisi akademik IIB Darmajaya di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya. (**)

Praktisi Industri Berbagi Rahasia Sukses Berkarier dalam Pelatihan Soft Skill kepada Ratusan Calon Wisudawan/ti

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)– Career Center Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya terus memperkuat komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja melalui Pelatihan Soft Skill dan Pembekalan Dunia Kerja kepada calon wisudawan/ti bertempat di Aula Rektorat Lantai III Gedung H. Alfian Husin pada Rabu, (29/7/26).

Kegiatan ini menghadirkan praktisi dari berbagai perusahaan nasional untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan nonteknis, strategi menghadapi proses rekrutmen, hingga kesiapan memasuki dunia profesional.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Nonakademik IIB Darmajaya, Muprihan Thaib, S.Sos., M.M., mengatakan bahwa pelatihan tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen kampus dalam menciptakan lulusan yang memiliki daya saing tinggi, tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan soft skill yang dibutuhkan dunia kerja.

“Darmajaya menghadirkannya bukan sekadar memenuhi kewajiban atau hanya agar mahasiswa memperoleh sertifikat sebagai syarat kelulusan. Tujuan kami jauh lebih besar, yakni agar lulusan Darmajaya mampu diserap oleh masyarakat, baik sebagai tenaga profesional maupun menjadi pengusaha,” ujarnya.

Menurut Muprihan, keberhasilan seseorang di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kompetensi akademik, tetapi juga oleh kemampuan interpersonal dan karakter. Berdasarkan berbagai kajian, porsi penilaian dunia kerja terhadap soft skill kini semakin besar.

“Dulu komposisinya sekitar 60 persen soft skill dan 40 persen hard skill. Sekarang bahkan menjadi 70 persen berbanding 30 persen. Sehebat apa pun kompetensi seseorang, apabila tidak memiliki soft skill yang baik, akan sulit berkembang di lingkungan kerja,” katanya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar mulai memperhatikan jejak digital sejak dini. Menurutnya, media sosial kini menjadi salah satu aspek yang turut diperhatikan perusahaan saat proses rekrutmen.

“Ketika perusahaan melakukan seleksi berkas, jejak digital juga menjadi perhatian. Jika media sosial menunjukkan hal-hal yang kurang baik, tentu akan menjadi catatan bagi perusahaan. Karena itu, mulai hari ini bangun citra diri yang positif,” pesannya.

Sementara itu, Senior Technical Operations Studies Specialist PT Bukit Asam Tbk, Satria, menyampaikan materi mengenai pentingnya growth mindset dan leadership skill dalam menghadapi dinamika dunia kerja.

Menurutnya, perusahaan saat ini lebih mengutamakan sikap dan karakter dibandingkan sekadar kemampuan teknis.

“Orang yang pintar tetapi tidak memiliki attitude yang baik biasanya sulit berkembang di perusahaan karena tidak mampu mendukung visi organisasi. Dunia kerja saat ini lebih menghargai mereka yang memiliki kemauan belajar, mampu bekerja sama, dan terus berkembang,” ungkapnya.

Satria menjelaskan enam kompetensi penting yang harus dimiliki lulusan saat ini, yakni critical thinking dan problem solving, leadership, AI literacy dan big data, emotional intelligence, kemampuan beradaptasi, serta pola pikir berkembang (growth mindset).

Ia mengajak mahasiswa meninggalkan pola pikir tetap (fixed mindset) dan mulai membiasakan diri untuk terus belajar.

“Berhentilah menyalahkan orang lain. Skill bisa dilatih, sedangkan soft skill dibentuk dari kebiasaan. Mulailah dari diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dari kampus menuju karier, kuasai enam skill yang akan membuat Anda tidak tergantikan,” tuturnya.

Pada sesi berikutnya, Dhanawa Rylla Insani dari HR Supervisor PT Tunas Dwipa Matra (TDM) Honda membekali peserta mengenai teknik menghadapi wawancara kerja menggunakan metode STAR (Situation, Task, Action, Result).

Ia menjelaskan bahwa pewawancara umumnya menggali pengalaman masa lalu pelamar untuk mengetahui bagaimana mereka menyelesaikan tantangan di tempat kerja maupun organisasi.

“Jawablah setiap pertanyaan dengan struktur yang jelas melalui pendekatan STAR agar pengalaman yang dimiliki dapat tersampaikan secara sistematis dan meyakinkan,” jelasnya.

Sementara itu, Area Marketing Associate Manager PT. Nutrifood Indonesia Dr. Dian Vio Septiana, S.Si., M.M. memberikan materi mengenai persiapan memasuki dunia kerja, mulai dari kesiapan mental hingga penyusunan curriculum vitae (CV) yang sesuai dengan perkembangan proses rekrutmen digital.

Menurutnya, mahasiswa perlu memahami perbedaan antara CV berbasis Applicant Tracking System (ATS) dan CV kreatif. Saat ini, sekitar 98 persen perusahaan besar telah menggunakan sistem ATS untuk menyaring dokumen pelamar.

“Pastikan CV menggunakan kata kunci yang sesuai dengan posisi yang dilamar agar dapat terbaca oleh sistem ATS. Selain itu, optimalkan profil LinkedIn sebagai personal branding profesional karena menjadi salah satu referensi perusahaan dalam mengenal calon karyawan,” jelasnya.

Melalui pelatihan tersebut, IIB Darmajaya berharap mahasiswa tidak hanya siap menyelesaikan pendidikan, tetapi juga memiliki mental, karakter, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi proses rekrutmen di era digital.

Pelatihan Soft Skill dan Pembekalan Dunia Kerja ini menjadi bagian dari upaya IIB Darmajaya dalam mewujudkan lulusan yang unggul, adaptif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia usaha, dunia industri, maupun masyarakat luas. (**)

Jangan Puas dengan Gelar Lama! Kepala Balitbangda Pesawaran Dorong ASN Kuliah Lagi di Kampus Unggul IIB Darmajaya demi Karier Gemilang

PESAWARAN -(deklarasinews.com)- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Pesawaran, Rohana Sri Hartati, S.Sos., M.M., menyambut positif pelaksanaan sosialisasi studi lanjut Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya sebagai upaya memperluas wawasan mengenai pentingnya melanjutkan studi dalam peningkatan karier dan kompetensi pada Rabu, (29/7/26).

Dalam penyampaiannya, Rohana menekankan bahwa pendidikan merupakan salah satu modal utama dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, dan persaingan yang semakin dinamis. Oleh karena itu, perlu mempersiapkan masa depan dengan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi.

Ia mendorong para pegawai agar tidak berhenti belajar. Menurutnya, melanjutkan pendidikan menjadi investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan diri, keluarga, masyarakat, dan kemajuan daerah.

Rohana juga menilai Kampus Unggul IIB Darmajaya dapat menjadi salah satu pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan di bidang informatika dan bisnis. Pendidikan yang diberikan diharapkan mampu membentuk lulusan yang kompeten, mandiri, berdaya saing, serta mampu memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan berbagai inovasi.

Para pegawai juga diingatkan untuk memilih program studi sesuai dengan minat, kemampuan, dan rencana masa depan. Pemilihan program studi yang tepat akan membuat proses pendidikan dapat dijalani secara sungguh-sungguh sekaligus menghasilkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Selain memberikan pendidikan akademik, perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan daerah melalui kegiatan penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Pesawaran.

Sebelumnya, Direktur Humas, Kerja Sama dan Pemasaran IIB Darmajaya Dian Eka Darma Wahyuni, S.E., M.M. menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan birokrasi yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi serta pelayanan publik.

Menurutnya, IIB Darmajaya membuka berbagai pilihan program studi jenjang S1 maupun S2 yang dapat diikuti oleh ASN melalui sistem perkuliahan yang fleksibel melalui jalur RPL sehingga tetap dapat disesuaikan dengan aktivitas pekerjaan.

“Melanjutkan pendidikan bukan hanya untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga sebagai investasi kompetensi yang akan memberikan nilai tambah dalam pengembangan karier maupun peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. IIB Darmajaya berkomitmen memberikan layanan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, termasuk bagi ASN,” ujarnya.

Informasi mengenai program studi S1, S2, dan S1 serta S2 jalur RPL bagi pekerja menjadi bagian dari upaya IIB Darmajaya dalam mendukung peningkatan kualitas SDM aparatur. Melalui sosialisasi tersebut, peserta diharapkan memperoleh informasi dan gambaran yang lebih luas mengenai pendidikan tinggi sekaligus termotivasi untuk merencanakan masa depan sejak dini.

Kehadiran IIB Darmajaya di tengah masyarakat juga diharapkan dapat memperluas akses informasi pendidikan dan mendorong lahirnya generasi muda Pesawaran yang unggul, kreatif, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan zaman. (**)

Polres Morowali Tangani Kasus Penganiayaan Yang menyebabkan Korban Meninggal Dunia Di Desa Bahomakmur Kec. Bahodopi

MOROWALI -(deklarasinews.com)- Terkait perkembangan penanganan kasus pengeroyokan yang terjadi pada Sabtu, 25 Juli 2026, sekitar pukul 22.30 WITA, di Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi yang menyebabkan korban meninggal dunia, Polres Morowali telah melakukan serangkaian langkah – langkah sesuai prosedur.

Wakapolres Morowali Kompol I Nyoman Raka Arya Wiyasa, S.H. Mengatakan bahwa Polres Morowali telah melakukan rangkaian penyelidikan, meliputi mendatangi dan mengolah tempat kejadian perkara (TKP), menerima laporan polisi, mengamankan rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, mengumpulkan barang bukti, serta telah memeriksa sebanyak tujuh ( 7 ) orang saksi. Ujar Wakapolres

Lanjut Wakapolres mengatakan, Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi-saksi, penyidik telah mengantongi identitas terduga pelaku yang jumlahnya lebih dari satu orang. Untuk sementara telah diamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, Lanjut Wakapolres

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, korban diduga mengalami kekerasan akibat pemukulan menggunakan kepalan tangan yang dilakukan oleh para pelaku. Namun demikian, proses penyelidikan masih terus dilakukan. Ungkap Wakapolres

Wakapolres juga mengimbau kepada seluruh masyarakat, Apabila terjadi tindak pidana agar tidak main hakim sendiri dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib untuk diproses lebih lanjut, Sesuai Ketentuan yang hukum yang berlaku. Polres Morowali komitmen akan mengungkap peristiwa ini. Tutup Wakapolres.(Rpdm)

Karya Poster Mahasiswa Prodi Sains Data Kampus Unggul Darmajaya Juara Favorit Pre Event G.E.N.I.U.S. 2026

BANDAR LAMPUNG –(deklarasinews.com)- Mahasiswa Program Studi Sains Data Kampus Unggul Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, M. Hardi Saputra, berhasil meraih Juara Favorit pada Lomba Poster Digital dalam rangka Pre-Event G.E.N.I.U.S. (The Gemini Nexus for Next-gen Innovation & Unlocking Skills) 2026 yang diumumkan pada Senin (27/7/2026).

Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Google Developer Student Clubs (GDSC) Universitas Lampung dalam rangkaian kegiatan G.E.N.I.U.S. 2026. Mengangkat tema “Digitalisasi Warisan Budaya: Menjaga Tradisi Lampung di Era AI”, ajang ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas melalui pemanfaatan teknologi digital dalam upaya melestarikan budaya daerah.

Melalui karya poster yang inovatif dan sarat makna, M. Hardi Saputra berhasil menarik perhatian dewan juri hingga dinobatkan sebagai Juara Favorit. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Sains Data IIB Darmajaya mampu mengombinasikan kompetensi teknologi dengan kreativitas serta kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.

Ketua Program Studi Sains Data IIB Darmajaya, Egi Safitri, S.Mat., M.Si., mengapresiasi pencapaian tersebut. Menurutnya, prestasi mahasiswa merupakan hasil dari semangat belajar, kreativitas, dan keberanian untuk terus berkompetisi.

“Kami mengucapkan selamat kepada M. Hardi Saputra atas prestasi yang diraih. Penghargaan ini menunjukkan bahwa mahasiswa Sains Data tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi dan analisis data, tetapi juga mampu menghadirkan karya kreatif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan kompetensi, berinovasi, dan mengharumkan nama Program Studi Sains Data serta IIB Darmajaya di berbagai ajang kompetisi,” ujar Egi Safitri.

Ia menambahkan bahwa Program Studi Sains Data IIB Darmajaya terus mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik maupun nonakademik  sebagai sarana mengasah kemampuan, membangun jejaring, dan meningkatkan daya saing di era transformasi digital.(**)

Dr. Handi Risza: Reformasi Pendidikan Tinggi yang Bermutu dan Terintegrasi Menuju Indonesia Emas 2045

JAKARTA -(deklarasinews.com)– Reformasi pendidikan tinggi yang bermutu, berkeadilan, dan terintegrasi dinilai menjadi prasyarat utama untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Upaya tersebut tidak hanya memerlukan peningkatan kualitas akademik, tetapi juga reformasi tata kelola, pembiayaan, dan ekosistem inovasi yang mampu memperkuat peran seluruh perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza, menyampaikan hal tersebut sebagai tanggapan atas artikel Direktur Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Mukhamad Najib, berjudul Indonesia Emas dan Pendidikan Tinggi Bermutu yang dimuat di harian Media Indonesia pada 27 Juli 2026.

Menurut Handi, gagasan yang disampaikan Prof. Najib memberikan penegasan bahwa pendidikan tinggi merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa. Pandangan tersebut sejalan dengan teori human capital Gary Becker (1964) dan teori endogenous growth Paul Romer (1994), yang menempatkan investasi pada pendidikan sebagai faktor utama peningkatan produktivitas dan daya saing nasional. Ia juga menilai pandangan tersebut selaras dengan rekomendasi OECD dan UNESCO yang menempatkan pendidikan tinggi sebagai investasi produktif bagi pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Meski demikian, Handi menilai reformasi pendidikan tinggi tidak cukup hanya berhenti pada penguatan narasi mengenai pentingnya investasi pendidikan. Menurutnya, pemerintah juga perlu menjawab berbagai persoalan struktural yang masih dihadapi sektor pendidikan tinggi nasional.

“Kita tidak hanya membutuhkan penegasan bahwa keberadaan pendidikan tinggi di Indonesia itu penting. Kita juga memerlukan penjelasan mengenai mengapa mutu pendidikan tinggi di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan struktural dan bagaimana cara mengatasinya,” ujarnya.

Salah satu tantangan terbesar, lanjut Handi, adalah kondisi perguruan tinggi swasta (PTS) yang selama ini menjadi tulang punggung pemerataan akses pendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data nasional, sekitar 91,7 persen perguruan tinggi di Indonesia merupakan PTS, dengan hampir separuh mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di institusi tersebut.

Namun demikian, banyak PTS saat ini menghadapi tekanan akibat menurunnya jumlah mahasiswa, keterbatasan pendanaan, hingga ancaman penutupan program studi. Selain dipengaruhi kondisi ekonomi, Handi menilai belum adanya regulasi yang mengatur kuota dan pola penerimaan mahasiswa di luar jalur SNBP dan SNBT turut memperburuk kondisi tersebut.

“Tidak dapat dimungkiri, masa depan pendidikan tinggi Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kita memperkuat kualitas ribuan PTS yang selama ini menjadi tulang punggung pemerataan akses pendidikan tinggi nasional,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Handi mengusulkan reformasi sistem pembiayaan pendidikan tinggi, khususnya bagi PTS. Menurutnya, model pembiayaan yang selama ini bergantung pada APBN, uang kuliah mahasiswa, dan hibah kompetitif belum mampu menciptakan keberlanjutan pengembangan institusi.

Ia mengusulkan pembentukan Dana Abadi Perguruan Tinggi Swasta (Endowment Fund for Private Higher Education) sebagai instrumen investasi jangka panjang berbasis kinerja. Dukungan tersebut, menurutnya, perlu diberikan kepada PTS yang memiliki tata kelola yang baik, mutu akademik tinggi, produktivitas riset yang kuat, kemitraan industri yang luas, serta kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.

“Sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan pembentukan Dana Abadi Perguruan Tinggi Swasta (Endowment Fund for Private Higher Education),” kata Handi.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan perguruan tinggi ke depan tidak lagi cukup dilihat dari jumlah lulusan, publikasi ilmiah, maupun status akreditasi semata. Perguruan tinggi harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produktivitas nasional melalui inovasi, pengembangan teknologi, penguatan UMKM, transformasi digital, transisi energi, hingga menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

Selain pembiayaan, Handi juga mendorong transformasi peran Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI). Menurutnya, LLDIKTI perlu berkembang menjadi lembaga yang tidak hanya menjalankan fungsi administrasi dan pengawasan, tetapi juga menjadi pendamping peningkatan mutu, fasilitator kolaborasi riset, penghubung dengan dunia usaha, inkubator inovasi, serta akselerator internasionalisasi perguruan tinggi.

Ia juga menilai pemerintah perlu menyusun peta jalan pembangunan pendidikan tinggi yang terukur menuju Indonesia Emas 2045, lengkap dengan indikator kinerja yang jelas, mulai dari target jumlah doktor, komersialisasi paten, perusahaan rintisan berbasis kampus, investasi industri dalam riset, hingga kontribusi inovasi perguruan tinggi terhadap produktivitas nasional.

Pada akhirnya, Handi menegaskan bahwa reformasi pendidikan tinggi harus dilakukan secara menyeluruh agar seluruh ekosistem pendidikan tinggi memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

“Reformasi pendidikan tinggi menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai secara serentak dari reformasi tata kelola, reformasi pembiayaan, hingga reformasi ekosistem inovasi. Dengan demikian, seluruh ekosistem pendidikan tinggi—baik PTN maupun PTS—memiliki kemampuan dan daya saing yang setara dalam menghasilkan inovasi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah bagi bangsa. Semua ini harus diawali dari kemauan politik (political will) untuk mendesain kebijakan serta memberikan perlakuan terhadap PTN dan PTS secara proporsional dan berkeadilan,” pungkasnya. (Red)

Kampus Unggul IIB Darmajaya Resmi Terima SK Program Doktor Informatika Pertama PTS se Sumbagsel dari LLDikti Wilayah 2

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya resmi menerima Surat Keputusan (SK) Program Studi Doktor Informatika dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah II pada Selasa (28/7/26). Penyerahan SK tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan pendidikan tinggi di Provinsi Lampung sekaligus memperkuat peran IIB Darmajaya dalam menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas di bidang informatika.

SK Program Doktor Informatika diserahkan langsung oleh Kepala LLDikti Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc, kepada Bendahara Yayasan Alfian Husin, Ronny Nazar, S.E., M.M. Penyerahan tersebut turut didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik IIB Darmajaya, Dr. Sutedi, S.Kom., M.T.I, dan Wakil Rektor Bidang Nonakademik, Muprihan Thaib, S.Sos., M.M.

Wakil Rektor Bidang Akademik IIB Darmajaya, Dr. Sutedi, S.Kom., M.T.I., mengatakan bahwa diterimanya SK Program Doktor Informatika merupakan momentum bersejarah bagi IIB Darmajaya. Menurutnya, kehadiran program doktor menjadi wujud kepercayaan pemerintah sekaligus amanah bagi institusi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

“Diterimanya SK Program Doktor Informatika bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan, tetapi juga amanah untuk menghadirkan pendidikan doktor yang berkualitas, menghasilkan riset yang berdampak, serta melahirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan transformasi digital di Indonesia. Kami berkomitmen menyelenggarakan Program Doktor Informatika dengan mengedepankan mutu akademik, kolaborasi riset, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, dunia industri, maupun pemerintah,” ujar Dr. Sutedi.

Ia menambahkan, Program Doktor Informatika akan menjadi ruang bagi dosen, peneliti, profesional, dan praktisi untuk mengembangkan riset yang inovatif serta menghasilkan solusi atas berbagai tantangan di era digital. Kehadiran program ini juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem penelitian dan inovasi di Lampung maupun Indonesia.

Dengan diterimanya SK tersebut, IIB Darmajaya kini resmi memiliki kewenangan menyelenggarakan Program Studi Doktor Informatika. Program ini diharapkan memperluas akses masyarakat, khususnya di Provinsi Lampung dan Sumatra bagian selatan, untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor tanpa harus ke luar daerah.

Sebagai perguruan tinggi yang terus berkomitmen pada peningkatan mutu akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, IIB Darmajaya optimistis kehadiran Program Doktor Informatika akan semakin memperkuat kontribusi institusi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul, memperkuat budaya riset, serta mendukung percepatan transformasi digital di tingkat daerah maupun nasional.(**)