Inovasi Tani Cerdas Bawa Dosen Sains Data Kampus Unggul IIB Darmajaya Raih Juara Harapan 3 Nasional

BENGKULU -(deklarasinews.com)— Inovasi digital untuk sektor pertanian mengantarkan dosen Program Studi Sains Data Kampus Unggul Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, Ruki Rizal Nul Fikri, S.Kom., M.T.I., meraih Juara Harapan 3 Lomba Gelar Inovasi Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong (AKREL) Tahun 2026.

Prestasi tersebut diraih Ruki melalui inovasi Tani Cerdas, sebuah solusi digital yang dirancang untuk membantu petani Indonesia memperoleh informasi dan edukasi pertanian secara lebih mudah, cepat, dan terpercaya.

Lomba Gelar Inovasi AKREL Tahun 2026 diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi di tingkat nasional. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Gelar Karya di Kampus AKREL Simpang Nangka, Bengkulu.

Capaian tersebut mendapat dukungan dari Pimpinan IIB Darmajaya. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendorong dosen untuk terus mengembangkan inovasi yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Dalam ajang tersebut, Ruki membawa Tani Cerdas sebagai inovasi yang memanfaatkan teknologi digital untuk menjawab kebutuhan petani di tengah perkembangan teknologi informasi.

Tani Cerdas merupakan platform berbasis web yang membantu petani mendapatkan informasi pertanian, melakukan diagnosis tanaman, serta memperoleh edukasi pertanian secara praktis.

Ruki mengatakan, Tani Cerdas dikembangkan sebagai bentuk pemanfaatan teknologi digital agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di sektor pertanian. “Tani Cerdas hadir sebagai solusi digital untuk membantu petani mendapatkan informasi, diagnosa tanaman, dan edukasi pertanian secara mudah, cepat, dan terpercaya,” ujar Ruki.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Capaian Juara Harapan 3 dalam Lomba Gelar Inovasi AKREL Tahun 2026 menjadi pencapaian Ruki dalam mengembangkan inovasi berbasis teknologi untuk sektor pertanian.

Melalui Tani Cerdas, teknologi digital dihadirkan lebih dekat dengan kebutuhan petani, sekaligus membuka peluang pemanfaatan teknologi untuk mendukung pertanian Indonesia. Prestasi tersebut turut memperkuat kiprah dosen Program Studi Sains Data IIB Darmajaya dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi yang memiliki manfaat bagi masyarakat. (**)

Gebrak Arena Pencak Silat, Mahasiswa Teknik Informatika Kampus Unggul IIB Darmajaya Sabet Juara 2

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)— Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya. Warham Adiguna, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, berhasil meraih Juara 2 Grand Final Sirkuit Pencak Silat IPSI Lampung kategori Tanding Kelas Open Putra.

Grand final Sirkuit Pencak Silat IPSI Lampung tersebut dilaksanakan pada 25–27 September 2026 di Padepokan IPSI Lampung. Warham berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya hingga mengamankan posisi kedua dalam kompetisi tersebut.

Prestasi ini menjadi pencapaian tersendiri bagi Warham. Di tengah aktivitasnya sebagai mahasiswa Teknik Informatika, ia tetap mampu mengembangkan potensi di bidang olahraga, khususnya pencak silat, hingga berhasil naik podium pada ajang tingkat Provinsi Lampung.

“Saya bersyukur bisa meraih Juara 2 di Grand Final Sirkuit Pencak Silat IPSI Lampung. Ini menjadi pengalaman dan pencapaian yang sangat berarti bagi saya,” ujar Warham.

Menurut Warham, hasil yang diraihnya tidak membuatnya berhenti berlatih. Sebaliknya, pencapaian tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dan memperbaiki berbagai kekurangan dalam pertandingan. “Hasil ini tentunya menjadi motivasi bagi saya untuk terus berlatih, memperbaiki kekurangan, dan memberikan hasil yang lebih baik lagi ke depannya,” lanjutnya.

Keberhasilan Warham meraih Juara 2 juga memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan berbagai potensi di luar bidang akademik. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, Warham tidak hanya fokus pada dunia teknologi dan perkuliahan, tetapi juga aktif mengasah kemampuan serta mental kompetitif melalui olahraga pencak silat.

Dengan torehan tersebut, Warham berharap dapat terus berkembang dan kembali meraih prestasi pada ajang pencak silat berikutnya. Prestasi ini sekaligus menjadi pengalaman berharga untuk semakin meningkatkan kemampuan dan kepercayaan dirinya di arena pertandingan. (**)

Bawa Nama Lampung, Mahasiswa Sistem Informasi Kampus Unggul IIB Darmajaya Raih Putra Kampus Indonesia 2026

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)— Membawa nama Lampung ke panggung nasional, Eqi Sheva Al Mubaroq, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, berhasil meraih predikat Putra Kampus Indonesia 2026 dalam ajang Putra Putri Pariwisata Nusantara 2026.

Prestasi tersebut menjadi semakin istimewa karena Eqi merupakan satu-satunya finalis pria yang mewakili Provinsi Lampung pada ajang tingkat nasional tersebut. Bersama satu finalis perempuan, Eqi menjadi bagian dari delegasi Lampung yang bersaing dengan finalis dari berbagai provinsi di Indonesia.

Rangkaian grand final Putra Putri Pariwisata Nusantara 2026 berlangsung pada 22–29 September 2026 di Hotel Merlynn Park, Jakarta. Di tengah persaingan para finalis dari berbagai daerah, Eqi mampu menunjukkan kemampuan dan kepercayaan dirinya hingga berhasil membawa pulang predikat Putra Kampus Indonesia 2026.

“Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan predikat Putra Kampus Indonesia 2026. Bagi saya, ini bukan hanya sebuah pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk membawa nama Lampung dan kampus ke tingkat nasional,” ujar Eqi.

Ia mengatakan, mengikuti ajang tersebut memberikan pengalaman berharga karena dirinya dapat bertemu dengan peserta dari berbagai daerah sekaligus mengembangkan kemampuan diri.

“Selama mengikuti rangkaian kegiatan, saya mendapatkan banyak pengalaman baru, mulai dari bertemu dengan teman-teman dari berbagai provinsi, belajar tampil di depan publik, hingga bagaimana membawa diri dan memperkenalkan potensi daerah,” lanjutnya.

Sebagai mahasiswa Sistem Informasi, Eqi juga melihat pengalaman tersebut sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik. Menurutnya, keterlibatan dalam ajang nasional menjadi kesempatan untuk mengasah komunikasi, kepercayaan diri, dan kemampuan berjejaring.

Eqi berharap predikat yang diraihnya dapat menjadi motivasi untuk terus mengembangkan diri sekaligus memberikan kontribusi positif bagi kampus dan Provinsi Lampung.(**)

Tim Asesor LAMSPAK Laksanakan Asesmen Lapangan Prodi Ilmu Komunikasi FISIP

BANDA LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) melaksanakan Asesmen Lapangan Akreditasi yang dilakukan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Sosial Politik, Administrasi, dan Komunikasi (LAMSPAK), Senin, 28 September 2026, di Gedung A lantai 1 FISIP Unila.

Asesmen lapangan ini dihadiri Rektor Universitas Lampung, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., Wakil Rektor I Bidang Akademik. Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si., M.T., Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unila Dr. Maulana Mukhlis, S.Sos., M.IP. l, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Unila Prof. Dr. Abdurrahman, M.Si., tim akreditas Unila, dosen, tim task force serta menghadirkan dua asesor LAMSPAK, yaitu Dr. Rd. Hj. Funny Mustikasari Elita, M.Si. dari Universitas Padjadjaran dan Dr. Kinkin Yuliaty Subarsa Putri, M.Si. dari Universitas Negeri Jakarta.

Dalam sambutannya, Prof. Lusmeilia menyampaikan bahwa kehadiran asesor tidak hanya menjadi bagian dari proses penilaian akreditasi, tetapi juga merupakan kesempatan penting bagi universitas untuk melakukan refleksi, memperoleh masukan, serta memperkuat budaya mutu secara berkelanjutan.

“Kami memandang kehadiran para asesor bukan semata-mata sebagai bagian dari proses penilaian akreditasi, tetapi juga sebagai kesempatan yang sangat penting bagi Universitas Lampung untuk melakukan refleksi, memperoleh masukan, dan memperkuat budaya mutu secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, budaya mutu di lingkungan Universitas Lampung tidak hanya berfokus pada pemenuhan dokumen maupun standar administratif, tetapi juga menjadi bagian dari budaya kerja seluruh sivitas akademika. Melalui asesmen lapangan ini, universitas berharap dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi program studi sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat dan pembangunan.

Ketua Tim Asesor LAMSPAK, Funny menegaskan bahwa asesmen lapangan tidak hanya berfungsi sebagai proses evaluasi, tetapi juga menjadi sarana untuk berbagi praktik baik dan pengalaman dalam pengembangan program studi untuk terus berkembang melalui inovasi yang berkelanjutan agar mampu menghasilkan lulusan dan kontribusi yang semakin baik bagi masyarakat. Hasil asesmen lapangan LAMSPAK nantinya akan menjadi salah satu dasar dalam penetapan status akreditasi Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung.

Melalui asesmen ini, Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unila diharapkan mampu mempertahankan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan, serta memperkuat komitmennya dalam mewujudkan budaya mutu yang berkelanjutan. [Red]

SMK Wiratama Kota Gajah Asyik Belajar IoT Bersama Prodi Sistem Komputer Kampus Unggul IIB Darmajaya

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)— Belajar teknologi tak harus selalu di ruang kelas. Siswa SMK Wiratama Kota Gajah, Lampung Tengah, merasakan langsung serunya belajar Internet of Things (IoT) saat mengunjungi Kampus Unggul Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya pada Senin (28/9/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kegiatan outing class perdana SMK Wiratama Kota Gajah ke Kampus IIB Darmajaya. Para siswa tidak hanya mendapatkan teori mengenai dasar sistem otomasi dan IoT, tetapi juga diajak praktik langsung menggunakan perangkat IoT.

Suasana belajar berlangsung interaktif. Siswa terlihat antusias mengikuti penjelasan dosen sekaligus mencoba perangkat IoT secara langsung. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat bagaimana konsep teknologi yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Kepala Sekolah SMK Wiratama Kota Gajah Lampung Tengah, Dian Wisudawati, S.S., mengatakan kunjungan tersebut merupakan kali pertama sekolahnya melaksanakan outing class dengan mengunjungi Kampus IIB Darmajaya. “Ini merupakan pertama kalinya kami melaksanakan outing class dengan mengunjungi Kampus IIB Darmajaya. Tentunya kami berharap kegiatan ini memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi para siswa,” ujar Dian.

Sementara itu, Senior Staf Kerja Sama IIB Darmajaya, Ketut Artaye, S.Kom., M.T.I., berharap kunjungan tersebut tidak hanya menjadi pengalaman belajar teknologi bagi siswa, tetapi juga memberikan gambaran lebih luas mengenai pendidikan tinggi. “Melalui kunjungan ini, kami berharap dapat meningkatkan literasi siswa dalam menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain menambah wawasan, kegiatan ini juga diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk terus mengembangkan potensi dan mempersiapkan diri menghadapi jenjang pendidikan berikutnya,” ujar Ketut.

Dalam kegiatan tersebut, siswa mendapatkan pendampingan dari dosen Program Studi Sistem Komputer IIB Darmajaya, yakni Danang Ade Muktiawan, S.Kom., M.T.I.; Nurfiana, S.Kom., M.Kom.; dan Bayu Nugroho, S.Kom., M.Eng.

Materi yang diberikan tidak berhenti pada pengenalan teori. Siswa juga diperkenalkan dengan dasar sistem otomasi dan konsep IoT melalui praktik menggunakan perangkat IoT. Dengan pendekatan tersebut, siswa dapat memahami keterkaitan antara materi yang dipelajari di sekolah dengan perkembangan teknologi yang semakin terhubung.

Ketua Program Studi Sistem Komputer IIB Darmajaya, Dr. Dodi Yudo Setiawan, S.Si., M.T.I., berharap kunjungan perdana tersebut dapat menjadi awal dari hubungan kerja sama yang berkelanjutan antara kedua institusi. “Harapannya, kunjungan pertama ini bukan menjadi yang terakhir. Kami berharap kerja sama antara SMK Wiratama Kota Gajah dan IIB Darmajaya dapat terus berlangsung secara berkelanjutan,” kata Dodi.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal lebih dekat lingkungan perguruan tinggi dan perkembangan teknologi. Tak hanya belajar IoT secara teori, siswa juga mendapatkan pengalaman praktik sekaligus motivasi untuk mempersiapkan langkah pendidikan mereka setelah lulus SMK. (**)

Keren! Mahasiswa Hukum Bisnis Ini Jadi Ketua Rumah Tahfidz IIB Darmajaya

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)— Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa Program Studi Hukum Bisnis, Muhammad Fakri Amar memiliki rutinitas lain. Amar — begitu ia biasa disapa –merupakan mahasiswa semester 7 Kampus Unggul Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya yang dipercaya menjadi Ketua Rumah Tahfidz IIB Darmajaya periode 2023–2026.

Amanah tersebut dijalaninya dengan mendampingi 14 santri dalam berbagai kegiatan Rumah Tahfidz. Setiap kegiatan menjadi bagian dari rutinitas Amar bersama para santri, mulai dari sabaq atau setoran hafalan baru hingga manzil, yakni murojaah atau pengulangan hafalan yang telah dimiliki.

Kesehariannya bersama para santri juga menjadi ruang bagi Amar untuk belajar tentang kepemimpinan. Ia tidak hanya ikut menjaga kegiatan tetap berjalan, tetapi juga berinteraksi dan mendampingi santri dalam menjaga konsistensi hafalan Al-Qur’an.

Kedekatan Amar dengan dunia tahfidz sendiri telah dibangun sejak menempuh pendidikan di MA Nurul Ulum Kebun Tebu, Lampung Barat. Hingga saat ini, ia telah menghafal 21 juz Al-Qur’an.

Komitmennya terhadap hafalan Al-Qur’an juga mendapat dukungan melalui Beasiswa Hafidz Quran dari Yayasan Alfian Husin yang diterimanya untuk menempuh pendidikan di IIB Darmajaya.

Tak hanya aktif di Rumah Tahfidz, Amar juga aktif dalam berbagai organisasi di lingkungan kampus, di antaranya UKM DCFC, BEM, HIMA Hukum Bisnis, dan UKM Assalam. Beragam pengalaman organisasi tersebut menjadi ruang baginya untuk bertemu banyak orang, belajar bekerja dalam tim, sekaligus mengembangkan kemampuan diri.

Bagi Amar, keaktifan dalam organisasi bukan sekadar mengisi waktu di luar perkuliahan. Ia menjadikannya sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan soft skill sekaligus memperluas relasi. “Alasan saya aktif berorganisasi untuk meningkatkan kemampuan soft skill dan memperbanyak relasi,” ujar Amar saat diwawancarai pada Jumat (25/9/2026).

Berbagai aktivitas tersebut membuat perjalanan Amar selama menjadi mahasiswa di IIB Darmajaya tidak hanya diisi dengan kegiatan akademik. Ia juga mendapatkan pengalaman memimpin, berinteraksi dengan santri, berorganisasi, sekaligus menjaga hafalan Al-Qur’an. (**)

11 Bab, 82 Halaman, Siap Dipakai Nasional! Buku PAI Kontemporer Karya Dosen Kampus Unggul IIB Darmajaya Resmi Terbit

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)– Dosen Agama Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya berhasil menelurkan sebuah buku berjudul “PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KONTEMPORER”. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga tersebut ditulis delapan penulis.

Kedelapan penulis tersebut yakni Dr. Suratno, S.Pd.I., M.H.; AK Yohanson, S.Ag., M.M.; Triowali Rosandy, S.Kom., M.T.I.; Abdurahim, S.Kom., M.Pd.; Ima Bahrum, M.Pd.I.; Endang Wakinah, S.E., M.M.; Ahmad Sholeh; dan Muhadditsin Haqqoni.

Ketua Tim dan penulis utama, Dr. Suratno, S.Pd.I., MH mengatakan buku ini ditulis dengan lama penggarapan selama enam bulan. “Kami semua merupakan dosen agama di Kampus The Best IIB Darmajaya. Buku ini juga dipakai dalam pembelajaran mata kuliah agama islam di Darmajaya,” dan kampus kampus lain serta masyarakat luas ungkap dia pada Jumat, (25/9/26).

Buku berisi 11 BAB dengan jumlah 82 halaman. “Buku dicetak secara nasional dan dapat dibeli di toko-toko buku serta dapat digunakan sebagai pembelajaran Pendidikan perguruan tinggi,” tuturnya.

Masih kata dia, buku yang ber ISBN 978-634-331-050-1 merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Darma Perguruan tinggi “Buku ini untuk perguruan tinggi dan masyarakat umum dengan bahasa sederhana yang mudah di pahami segala kalangan, khususnya siapapun yang ingin mendalami Islam. Buku ini juga menyesuaikan dengan era kekinian dalam mengimplementasikan pendidikan agama Islam,” ujarnya.

Suratno berharap buku yang ditulis bersama rekan-rekan dosen lainnya dapat bermanfaat dalam pembelajaran di kelas. “Semoga dapat menambah wawasan pengetahuan dalam pendidikan agama Islam dalam keseharian,” tutupnya. (**)

Dany Amrul Ichdan: Lampung Lari Kencang, Saatnya Nilai Tambah Tumbuh di Daerah

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)– Pertumbuhan ekonomi Lampung belum cukup menjawab satu pertanyaan penting yaitu berapa besar nilai tambah hasil pertaniannya yang tinggal di daerah? Pertanyaan itu mengemuka dalam orasi ilmiah Wakil Direktur Utama MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan, pada Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Natalis ke-61, Rabu, 23 September 2026.

Di Gedung Serbaguna Unila, Dany menunjukkan bahwa produk domestik regional bruto (PDRB) Lampung bertambah sekitar 3,5 kali dalam 15 tahun, dari Rp150 triliun pada 2010 menjadi sekitar Rp523 triliun pada 2025. BPS mencatat ekonomi Lampung tumbuh 5,28 persen pada 2025, melampaui rata-rata Sumatera. Namun, menurut Dany, kontribusi manufaktur masih berkisar 17–20 persen. Kenaikan nilai PDRB saja, menurutnya, belum menjawab persoalan struktur pengolahan komoditas.

“Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” ujar Dany.

Persoalan yang ia soroti ialah rantai nilai yang berhenti terlalu awal. Nilai sektor pertanian Lampung sekitar Rp150 triliun, sedangkan menurut paparan Dany, sekitar Rp20–30 triliun yang masuk ke industri pengolahan. Ia mengajak daerah memperbesar bagian komoditas yang diolah sebelum dipasarkan agar pekerjaan dan pendapatan dari proses itu lebih banyak tercipta di Lampung.

Modalnya tersedia. Kementerian Pertanian mencatat Lampung sebagai sentra ubi kayu terbesar nasional dengan produksi sekitar 7,9 juta ton pada 2024. Dalam orasinya, Dany juga menyebut nilai ekonomi ubi kayu sekitar Rp10,6 triliun dan pisang sekitar Rp25,3 triliun. Ia menempatkan jagung pada urutan ketiga dan kopi pada urutan kedua di tingkat nasional, serta menyoroti potensi lada hitam Lampung. Besarnya angka produksi dan nilai komoditas itu, menurutnya, perlu diikuti kemampuan menghasilkan produk olahan dan memperluas pasar.

Untuk menjelaskan langkah yang diperlukan, Dany menggunakan kerangka DAI: distinctive, adaptive, dan inclusive. Distinctive berarti memilih keunggulan yang berangkat dari komoditas Lampung sendiri. Adaptive berarti menyiapkan industri, energi, dan infrastruktur agar mampu mengolahnya. Inclusive berarti petani memperoleh manfaat yang lebih baik, bukan hanya memasok bahan mentah ke mata rantai berikutnya.

Pada sisi adaptif, ia mengapresiasi arah pengembangan Katibung, Kawasan Industri Lampung II (KAIL II), dan Rejosari. Katibung direncanakan sebagai kawasan energi terintegrasi dengan usulan kilang berkapasitas 300 ribu barel per hari serta pengembangan bioetanol berbahan baku pertanian. Dalam paparan Dany, peletakan batu pertama kawasan itu ditargetkan pada 2027. KAIL II dipersiapkan sebagai ruang pengolahan berbasis potensi agro, sedangkan Rejosari menjadi lokasi yang dijajaki untuk industri bioetanol berbahan baku sorgum. Semua itu masih merupakan rencana yang pelaksanaannya harus dibuktikan.

Sisi inklusif ia jelaskan melalui bed dryer di Pringsewu. Dalam contoh pengeringan gabah berkapasitas besar yang ia sampaikan, proses yang secara manual dapat memakan waktu hingga 15 hari diperkirakan bisa selesai dalam 10–12 jam dengan mesin. Gabah yang lebih cepat kering dan dapat disimpan memberi petani pilihan untuk tidak menjual segera ketika harga kurang menguntungkan. Contoh ini menunjukkan bahwa hilirisasi juga menyangkut kemampuan petani menjaga mutu dan menentukan waktu penjualan.

Bagi Dany, pekerjaan Lampung berikutnya ialah menghubungkan kawasan industri dengan pasokan lokal dan perbaikan proses pascapanen. Unila dapat berperan melalui riset pengolahan, mutu produk, dan pengembangan usaha yang menjawab kebutuhan petani serta industri. Dengan begitu, ukuran kemajuan tidak berhenti pada bertambahnya produksi atau berdirinya kawasan, tetapi tampak pada pekerjaan dan pendapatan yang diterima masyarakat Lampung.

Dany adalah alumnus S1 Manajemen Ekonomi Unila tahun 1998. Ia meraih gelar magister pada 2000 dan doktor pada 2011 dari Universitas Padjadjaran. Sebelum bergabung dengan PT Mineral Industri Indonesia (Persero), ia antara lain pernah memimpin PT Pertamedika–IHC dan PT Pertamedika Sentul.(Red)

Penghapusan UKT PTN Dan Menjaga Eksistensi PTS

JAKARTA -(deklarasinews.com)- Rencana pembebasan biaya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto menjadi momentum penting dalam penataan kembali sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Kebijakan tersebut juga diikuti desakan publik untuk mengevaluasi jalur mandiri PTN yang selama ini dinilai turut mendorong tingginya biaya pendidikan tinggi.

Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza, mengatakan kebijakan afirmatif bagi PTN perlu berjalan beriringan dengan regulasi yang mampu menjaga keberlangsungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Menurut Handi, pendidikan tinggi merupakan sebuah ekosistem yang saling berkaitan. Karena itu, perubahan kebijakan pembiayaan dan penerimaan mahasiswa di PTN perlu mempertimbangkan keberadaan PTS yang selama ini memiliki kontribusi besar dalam menyediakan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.

“Pendidikan tinggi adalah ekosistem yang saling bertaut satu dengan yang lain. Intervensi regulasi secara ekstrem tanpa kalkulasi makro yang matang dan teknokratis, niscaya akan berdampak terhadap stabilitas tata kelola komponen lainnya.”

Ia menilai wacana kuliah gratis di PTN dan penataan jalur masuk mahasiswa baru tidak semestinya dipahami sebagai upaya memarginalkan PTS. Sebaliknya, momentum tersebut dapat digunakan untuk menata kembali pembagian peran antara PTN dan PTS dalam sistem pendidikan tinggi nasional.

Beban Historis Komersialisasi Kampus

Handi menjelaskan, dalam satu dekade terakhir, perubahan status sejumlah PTN menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) turut menghadirkan persoalan dalam pembiayaan pendidikan tinggi. Menurutnya, kebutuhan PTN untuk meningkatkan kemandirian pembiayaan mendorong optimalisasi penerimaan mahasiswa melalui jalur mandiri.

Jalur tersebut, lanjut Handi, pada praktiknya dapat diikuti dengan penerapan UKT pada kelompok tertinggi serta Iuran Pengembangan Institusi (IPI) dengan nilai yang besar.

Kondisi tersebut dinilai memiliki dampak terhadap akses pendidikan tinggi. Di sisi lain, peningkatan daya tampung PTN juga berpotensi meningkatkan persaingan dalam mendapatkan calon mahasiswa dengan PTS yang sebagian besar mengandalkan pendapatan pendidikan sebagai sumber pembiayaan operasional.

“Akses ke perguruan tinggi negeri kini terdistorsi oleh kemampuan finansial, menggeser prinsip meritokrasi akademis yang seharusnya menjadi panglima.”

Karena itu, Handi memandang arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membebaskan biaya kuliah di PTN sekaligus mengevaluasi tata kelola jalur mandiri sebagai momentum untuk melakukan koreksi terhadap kebijakan pembiayaan pendidikan tinggi.

Menurutnya, penataan kembali kuota dan daya tampung PTN perlu menjadi bagian dari kebijakan tersebut sehingga keberadaan PTN dan PTS dapat ditempatkan dalam ekosistem yang lebih seimbang.

Mengembalikan PTN pada Kualitas

Handi menjelaskan, apabila biaya kuliah PTN sepenuhnya didukung oleh APBN, terdapat konsekuensi berupa perlunya pengaturan daya tampung secara lebih terukur. PTN tidak lagi perlu menjadikan penerimaan mahasiswa dalam jumlah besar sebagai salah satu instrumen untuk menutup kebutuhan pembiayaan institusi.

Dengan demikian, orientasi PTN dapat diarahkan dari ekspansi jumlah mahasiswa menuju peningkatan kualitas akademik, riset, inovasi, dan reputasi internasional.

“Kampus negeri harus dikembalikan pada fungsi intinya: menjadi pilar keunggulan akademis, pusat riset terapan, pencetak inovasi nasional, serta mampu bersaing di jajaran universitas bereputasi internasional (world-class university).”

Menurut Handi, pembatasan daya tampung yang disertai seleksi berbasis merit dapat membuat PTN lebih fokus dalam mengelola sumber daya negara untuk pengembangan talenta, peningkatan kualitas laboratorium, riset, dan publikasi ilmiah internasional.

Memberikan Ruang Bernapas bagi PTS

Di sisi lain, Handi menilai keberadaan PTS perlu diperkuat melalui diferensiasi dan spesialisasi. PTS dapat mengambil peran pada bidang pendidikan vokasi, pengembangan kurikulum yang terhubung dengan kebutuhan industri, serta pembelajaran digital yang adaptif.

“Eksistensi PTS ke depan harus dibangun di atas fondasi diferensiasi dan spesialisasi.”

Menurutnya, pembagian peran antara PTN dan PTS tidak perlu ditempatkan dalam perspektif persaingan antara institusi negeri dan swasta. Keduanya merupakan bagian dari sistem pendidikan tinggi nasional yang memiliki fungsi strategis masing-masing.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan kebijakan afirmatif bagi PTS agar proses redistribusi peran dalam pendidikan tinggi dapat berlangsung secara berimbang dan berkelanjutan.

Handi mengusulkan sedikitnya tiga langkah kebijakan.

Pertama, refocusing Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk PTS. Jika biaya kuliah PTN mendapatkan dukungan langsung dari APBN, skema KIP Kuliah dapat diarahkan secara lebih besar kepada mahasiswa kurang mampu yang menempuh pendidikan di PTS.

Kedua, perluasan insentif operasional dan afirmasi bagi PTS. Pemerintah dinilai perlu memperluas program seperti Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) serta mempertimbangkan dukungan biaya operasional bagi sektor swasta. Kebijakan afirmasi tersebut terutama diperlukan bagi PTS yang berada di wilayah 3T serta PTS yang konsisten menjaga kualitas tridharma perguruan tinggi.

Ketiga, penguatan standardisasi dan pengendalian mutu. Menurut Handi, dukungan negara terhadap PTS harus tetap disertai mekanisme evaluasi dan pembinaan. Perlindungan terhadap PTS tidak berarti mempertahankan institusi yang tidak memenuhi standar mutu pendidikan tinggi.

“Proteksi negara terhadap PTS tidak boleh diartikan sebagai upaya memelihara kampus swasta berkinerja buruk atau institusi yang sekadar berfungsi sebagai pabrik ijazah.”

Karena itu, Kemendiktisaintek tetap perlu menjalankan evaluasi dan pembinaan secara konsisten, termasuk mendorong konsolidasi perguruan tinggi yang memiliki keterbatasan kapasitas agar tetap memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti).

Menata Ekosistem Pendidikan Tinggi

Handi menilai pembebasan UKT dan restrukturisasi penerimaan mahasiswa baru di PTN dapat menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola pendidikan tinggi Indonesia secara menyeluruh.

Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dirancang tidak hanya untuk memperkuat PTN, tetapi juga memastikan PTS tetap memiliki ruang yang sehat untuk berkembang dan berkontribusi dalam penyediaan akses pendidikan tinggi.

“Melalui sinergi yang tepat, intervensi regulasi yang adil, serta komitmen mutu dari penyelenggara swasta, PTN dan PTS tidak lagi terjebak dalam kompetisi yang saling mematikan. Sebaliknya, keduanya akan tumbuh bersama dalam harmoni ekosistem pendidikan nasional yang kokoh, berkeadilan, dan berdaya saing global.”

Pernah Bela Persib U-20, Muhammad Aryono Siraj Kini Mantap Kuliah di PTI Kampus Unggul IIB Darmajaya Berkat Beasiswa Yayasan Alfian Husin

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Sempat memperkuat Persib Bandung U-20 hingga tampil di ajang PON Aceh-Sumut 2024, Muhammad Aryono Siraj kini melanjutkan langkahnya di dunia pendidikan. Atlet Futsal muda asal Lampung tersebut memilih Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Kampus Unggul Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya setelah meraih beasiswa kuliah dari Yayasan Alfian Husin.

Lulusan SMAN 1 Purbolinggo ini memiliki rekam jejak mentereng di futsal. Aryono tampil pada PON Aceh-Sumut 2024, memperkuat Persib Bandung U-20 pada 2024–2026, serta menjadi bagian dari Popnas Lampung 2023.

Pengalaman di lapangan tersebut kini ingin ia lengkapi dengan pendidikan tinggi di bidang teknologi informasi dan pendidikan.

Aryono memilih Prodi PTI IIB Darmajaya karena melihat adanya perpaduan antara ilmu komputer dan ilmu pendidikan yang dinilainya relevan dengan perkembangan dunia digital.

“PTI memberikan keuntungan karena saya bisa belajar di bidang ilmu komputer sekaligus ilmu pendidikan. Prospeknya ke depan juga cukup bagus di bidang digital,” ujarnya saat diwawancarai pada Jumat (25/9/2026).

Kesempatan menempuh pendidikan tinggi di IIB Darmajaya semakin terbuka setelah Aryono meraih beasiswa kuliah dari Yayasan Alfian Husin. Beasiswa tersebut menjadi dukungan penting bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan sekaligus tetap mengejar prestasi di bidang olahraga.

Bagi Aryono, memilih IIB Darmajaya bukan hanya soal pendidikan. Ia juga ingin terus mengembangkan kemampuan futsal selama menjalani perkuliahan. “Saya ingin mengembangkan bakat futsal saya di Darmajaya. Selain itu, reputasinya sebagai kampus IT dan bisnis unggulan dengan fasilitas yang lengkap juga menjadi alasan saya memilih IIB Darmajaya,” katanya.

Perjalanan Aryono menunjukkan bagaimana prestasi olahraga dapat berjalan beriringan dengan pendidikan. Pengalaman berkompetisi di berbagai level menjadi modal untuk membangun kedisiplinan dan mental, sementara pendidikan di bidang teknologi informasi menjadi bekal untuk menyiapkan masa depan di tengah perkembangan industri digital. (**)