Mahasiswa UBL Borong Prestasi di Ajang Internasional Desain Arsitektur di Jepang

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dalam ajang University of Kitakyushu Student Exchange and Research Program (UK-SERP) International Design Workshop Asian Institute of Low Carbon Design Conference (AILCD 2026) yang diselenggarakan di Jepang pada 23 Februari hingga 10 Maret 2026, mahasiswa UBL berhasil meraih sejumlah penghargaan di tengah persaingan peserta dari berbagai negara.

Kompetisi yang mengusung tema “Rethinking the Future of Hibikino Campus” ini menantang para peserta untuk merancang konsep masa depan Kampus Hibikino melalui pendekatan desain arsitektur inovatif dengan integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam perancangan kawasan kampus. Ajang internasional tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara seperti China, Vietnam, Thailand, Jepang, dan Indonesia. Dalam kompetisi tersebut, mahasiswa UBL mampu menunjukkan kualitas gagasan, kreativitas desain, serta kemampuan kolaborasi lintas negara yang kompetitif.

Mahasiswa UBL yang meraih penghargaan dalam kompetisi tersebut yakni Rafa Alzena dari Program Studi Arsitektur yang meraih 2nd Prize, Shanaz Rizkyna dari Program Magister Teknik yang memperoleh 3rd Prize, serta Marsya Dinda Salsabila dari Program Studi Arsitektur dan Rani Octavia dari Program Magister Teknik yang masing-masing meraih Honorable Mention. Partisipasi ini bukan kali pertama bagi Universitas Bandar Lampung. Dalam 10 tahun terakhir, mahasiswa UBL secara konsisten mengikuti AILCD International Design Workshop, forum akademik internasional yang mempertemukan mahasiswa arsitektur dari berbagai universitas di Asia untuk berkolaborasi merancang solusi desain bagi isu perkotaan dan lingkungan masa depan.

Rektor UBL, Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman, MBA menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih para mahasiswa tersebut. Ia menilai prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UBL memiliki kemampuan akademik dan kreativitas yang mampu bersaing di tingkat global. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa UBL tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di forum internasional. Kami sangat bangga atas pencapaian ini dan berharap prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nama baik UBL di kancah global,” ujarnya, Senin (09/03/2026).

Ia juga menegaskan bahwa UBL akan terus mendorong mahasiswa untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan akademik internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan serta memperluas jejaring kolaborasi global. Prestasi yang diraih pada ajang ini sekaligus memperkuat komitmen UBL dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tantangan global di masa depan.

Sejak dijalankan, program UK-SERP telah dimanfaatkan oleh 41 alumni UBL. Sejumlah di antaranya bahkan melanjutkan studi magister (S2) dan doktoral (S3) di universitas yang sama dengan dukungan beasiswa dari pemerintah Jepang, hal ini mempertegas dampak nyata program tersebut dalam membuka akses studi lanjut mahasiswa UBL di kancah global.

Mau Kuliah Sambil Cuan Seperti Mahasiswi Teknologi Pangan! Daftar ke IIB Darmajaya

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)— Semangat wirausaha yang tak pernah padam di Kampus Unggul IIB Darmajaya tanpa harus menunggu lulus kuliah. Hal ini dibuktikan Khoirinnisa Zalyanti, mahasiswi semester II Program Studi Teknologi Pangan di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, yang sukses merintis usaha bakso aci sejak duduk di bangku kuliah.

Mahasiswi yang akrab disapa Kai ini menilai bahwa kuliah Teknologi Pangan di IIB Darmajaya bukan sekadar mempelajari teori di kelas. Menurutnya, ilmu yang didapat justru sangat aplikatif dan langsung bisa diterapkan dalam dunia usaha.

“Di Teknologi Pangan itu bukan cuma belajar teori, tetapi benar-benar bisa diterapkan ke bisnis. Mulai dari cara memilih bahan baku yang berkualitas, teknik pengolahan yang higienis, sampai memahami daya tahan produk,” ungkap Kai saat diwawancarai pada Jumat (6/3/26) seperti dikutip dari darmajaya.ac.id.

Kesibukan kuliah tidak menghalangi Kai untuk berjualan. Ia rutin memproduksi bakso aci setelah jam perkuliahan maupun pada akhir pekan. Usaha yang dijalankannya berlokasi di kawasan pusat kota, tepatnya di depan Masjid Al Bakrie, Bandar Lampung.

Kai mengakui perjalanan membagi waktu antara kuliah dan bisnis tidak selalu mudah. Ia pernah merasa kewalahan, terutama pada awal merintis usaha. “Saya sempat kewalahan membagi waktu, tetapi dari situ saya belajar manajemen waktu dan tanggung jawab,” katanya.

Perjalanan bisnis Kai dimulai pada 2023 dengan sistem penjualan online dan layanan antar di sekitar Teluk dan Karang. Seiring berkembangnya usaha, sejak September 2025 hingga kini, ia membuka lapak di kawasan Al Bakrie. Meski sempat menghadapi berbagai tantangan, semangatnya untuk mengembangkan usaha tidak surut. Kai mengaku kuliah di Teknologi Pangan membuatnya lebih percaya diri karena usaha yang dijalankan selaras dengan bidang ilmu yang dipelajari.

“Saya ingin melakukan diversifikasi produk. Harapannya, usaha saya bisa berkembang lebih besar dan memiliki standar kualitas yang lebih baik,” ujarnya optimistis.

Bagi yang ingin mencicipi bakso aci produksi Kai, informasi dan pemesanan dapat diakses melalui Instagram @boci.icaak2023. Kisah Kai menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak harus menunggu wisuda untuk memulai bisnis—cukup dengan ilmu yang tepat, keberanian, dan manajemen waktu yang baik, peluang bisa diciptakan sejak dini. (**)

Dari Masjid Baitul Ilmi, Spirit Kebersamaan Ramadan Menguat di Darmajaya

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)– Suasana Ramadan yang hangat dan penuh kekeluargaan terasa di Masjid Baitul Ilmi kampus Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya saat Yayasan Alfian Husin menggelar acara buka puasa bersama dengan tema Merajut Kebersamaan, Menebar Keberkahan, Jumat (6/3/26) sore.

Kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi antara pimpinan yayasan, civitas akademika, hingga keluarga besar unit usaha yang berada di bawah naungan yayasan dan wartawan dari berbagai media massa.

Sekretaris Yayasan Alfian Husin Dr. Ir. Firmansyah Y. A. Alfian, MBA., M.Sc., dalam sambutannya mengajak seluruh jamaah untuk mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT. Ia mengatakan bahwa manusia sejatinya tidak akan mampu menghitung seluruh karunia yang telah diterima dalam kehidupan.

“Kita tidak mampu menghitung nikmat yang diberikan kepada kita dari Allah SWT. Karena itu Ramadan menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan ibadah dan rasa syukur kepada-Nya,” ujarnya di hadapan jamaah yang memadati masjid.

Ia juga mengingatkan bahwa seluruh amal ibadah yang dilakukan selama bulan suci Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya. Oleh sebab itu, momentum Ramadan harus dimanfaatkan dengan memperbanyak amal kebaikan dan memperkuat keimanan.

“Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Semua ibadah kita dilipatgandakan pahalanya. Semoga kita semua bisa dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar dengan terus meningkatkan ibadah,” kata Ketua APTISI Wilayah Lampung ini.

Sementara itu, Rektor Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, RZ Abdul Aziz, ST., MT., Ph.D., menyampaikan bahwa momen buka puasa bersama tersebut juga bertepatan dengan malam ke-17 Ramadan yang identik dengan peringatan Nuzulul Qur’an.

“Malam ini adalah malam 17 Ramadan, malam Nuzulul Qur’an. Semoga kita semua dapat dipertemukan dengan keberkahan malam ini sekaligus menjadikannya momentum untuk memperkuat keimanan kita,” kata RZ Abdul Aziz.

Ia juga mengajak seluruh keluarga besar yayasan untuk senantiasa mendoakan agar Yayasan Alfian Husin terus berkembang dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Mari kita sama-sama berdoa agar yayasan semakin baik dan terus berkembang, sehingga seluruh unit yang berada di bawah naungannya dapat mengayomi masyarakat luas dan terus berkembang dengan baik,” ujarnya.

Dalam tausiah Ramadan, penceramah Ustadz Abdullah mengingatkan bahwa waktu Ramadan terasa sangat cepat berlalu bagi orang dewasa. Menurutnya, tanpa terasa sepuluh hari pertama, kemudian dua puluh hari Ramadan berlalu begitu cepat.

“Ramadan itu terasa sangat cepat berlalu. Tiba-tiba sudah sepuluh hari, lalu dua puluh hari. Kita seperti baru memulai, tapi tiba-tiba sudah mendekati akhir Ramadan,” katanya.

Ia juga menggambarkan perbedaan cara memandang waktu antara orang dewasa dan anak-anak dalam menyikapi Ramadan. “Kalau anak-anak menghitung Ramadan dengan menghitung maju menuju hari raya, sementara kita sering menghitung mundur sisa hari Ramadan. Karena itu mari manfaatkan waktu yang ada untuk memperbanyak ibadah,” ujarnya.

Acara buka puasa bersama ini turut dihadiri Ketua Dewan Pembina Yayasan Alfian Husin Dr. Andi Desfiandi, SE., MA., Ketua Yayasan Alfian Husin Ary Meizari, SE., MBA., pimpinan dan karyawan unit usaha di bawah naungan yayasan, wartawan, serta keluarga dekat. Kebersamaan yang terjalin di Masjid Baitul Ilmi diharapkan dapat memperkuat silaturahmi dan menebarkan keberkahan bagi seluruh keluarga besar yayasan di bulan suci Ramadan. (**)

Buku, Politik Hukum dan Harapan bagi Kaum Miskin

BANDARLAMPUNG -(deklarasinews.com)- Ditengah derasnya arus informasi dan perdebatan publik mengenai kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia, sebuah buku sering kali menjadi ruang refleksi yang lebih tenang dan mendalam. Buku memberikan kesempatan bagi pembaca untuk memahami persoalan secara komprehensif, tidak sekadar melalui potongan berita atau opini singkat yang beredar di ruang digital.

Dalam konteks itulah saya menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga kepada Dr. Raja Agung Kusuma ARC, SH., MH, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai (Saburai), yang telah memberikan kepada saya sebuah buku berjudul “Sistem Jaminan Kesehatan Bagi Fakir Miskin di Kota Bandar Lampung.”

Bagi saya pribadi, buku ini bukan sekadar hadiah atau koleksi bacaan. Ia merupakan sumber pengetahuan yang berharga dalam memahami politik hukum di sektor pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat miskin.

Lebih dari itu, buku karya Raja Agung Kusuma A.R. Caropeboka tersebut menghadirkan perspektif akademik yang penting dalam melihat bagaimana kebijakan hukum di tingkat daerah dapat mempengaruhi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Dalam negara yang menganut prinsip negara kesejahteraan (welfare state), kesehatan bukan hanya urusan individu, melainkan juga tanggung jawab negara. Konstitusi Indonesia melalui Pasal 28H UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Namun, antara norma konstitusi dan realitas di lapangan sering kali terdapat jarak yang tidak kecil. Di sinilah politik hukum memainkan peran penting.

Politik hukum dapat dipahami sebagai arah kebijakan negara dalam membentuk dan menerapkan hukum guna mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks pelayanan kesehatan, politik hukum menentukan sejauh mana regulasi dan kebijakan negara benar-benar berpihak pada kelompok rentan, termasuk fakir miskin.

Buku “Sistem Jaminan Kesehatan Bagi Fakir Miskin di Kota Bandar Lampung” mencoba menjawab pertanyaan penting tersebut melalui kajian yang sistematis dan berbasis data.

Penulisnya tidak hanya memotret kebijakan secara normatif, tetapi juga menganalisis bagaimana kebijakan tersebut dijalankan dalam praktik pemerintahan daerah.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada analisis kebijakannya. Penulis menggambarkan bagaimana Pemerintah Kota Bandar Lampung merumuskan berbagai regulasi untuk memastikan masyarakat miskin tetap memperoleh akses terhadap layanan kesehatan.

Kebijakan tersebut tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari sistem nasional yang dikenal dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan.

Namun implementasi program nasional ini di tingkat daerah sering menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga persoalan administratif.

Buku ini menguraikan bagaimana pemerintah daerah berupaya menyelaraskan kebijakan lokal dengan program nasional tersebut.

Sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah menjadi aspek penting dalam keberhasilan program jaminan kesehatan. Tanpa koordinasi yang baik, program yang dirancang secara nasional bisa mengalami hambatan serius di tingkat implementasi.

Di sinilah pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa kebijakan kesehatan tidak berhenti pada dokumen regulasi semata, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Selain aspek regulasi, buku ini juga menyoroti dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni keberpihakan anggaran.
Dalam praktik pemerintahan, kebijakan yang baik tidak akan berjalan tanpa dukungan anggaran yang memadai. Oleh karena itu, pembahasan mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjadi bagian penting dalam analisis buku ini.

Penulis menjelaskan bagaimana alokasi anggaran daerah dapat menjadi indikator nyata dari keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat miskin. Apakah pemerintah daerah benar-benar menempatkan pelayanan kesehatan sebagai prioritas? Ataukah program jaminan kesehatan hanya menjadi slogan kebijakan tanpa dukungan finansial yang cukup? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab melalui pendekatan akademik yang komprehensif.

Dalam perspektif politik hukum, anggaran bukan sekadar angka dalam dokumen keuangan daerah. Ia merupakan bentuk konkret dari komitmen politik pemerintah dalam menjalankan amanat konstitusi.

Keunggulan lain dari buku ini adalah fokus wilayahnya yang spesifik, yaitu Kota Bandar Lampung.

Pendekatan lokal semacam ini sangat penting dalam studi hukum dan kebijakan publik. Setiap daerah memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan administratif yang berbeda.

Apa yang berhasil di satu daerah belum tentu berhasil di daerah lain. Oleh karena itu, kajian berbasis wilayah memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai tantangan implementasi kebijakan.

Buku ini menghadirkan potret tentang bagaimana sistem jaminan kesehatan dijalankan di tingkat kota, termasuk berbagai kendala yang dihadapi dalam memastikan masyarakat miskin memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

Potret lokal tersebut memberikan pelajaran berharga, tidak hanya bagi Bandar Lampung, tetapi juga bagi daerah lain yang menghadapi persoalan serupa.

Bagi kalangan akademisi, buku ini merupakan referensi penting dalam kajian hukum kesehatan, kebijakan publik, dan politik hukum daerah.

Sementara bagi praktisi hukum dan pengambil kebijakan, buku ini memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana kebijakan publik di sektor kesehatan dapat dirumuskan dan dijalankan secara efektif.
Dalam dunia akademik, karya semacam ini memiliki nilai strategis karena menjembatani antara teori dan praktik.

Ia tidak hanya membahas konsep hukum secara abstrak, tetapi juga menunjukkan bagaimana konsep tersebut bekerja dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai seorang wartawan, saya memandang buku sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga tradisi intelektual. Jurnalisme memang bekerja dengan kecepatan informasi, tetapi buku memberikan kedalaman analisis yang sering kali tidak bisa dicapai oleh berita harian.

Karena itu, kehadiran buku-buku akademik seperti karya Raja Agung Kusuma A.R. Caropeboka menjadi sangat penting dalam memperkaya wacana publik.

Ia tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga mendorong diskusi yang lebih kritis mengenai kebijakan publik.
Dalam masyarakat demokratis, diskursus semacam ini merupakan bagian penting dari proses pembangunan.

Pada akhirnya, buku “Sistem Jaminan Kesehatan Bagi Fakir Miskin di Kota Bandar Lampung” bukan hanya sebuah karya ilmiah.
Ia juga merupakan refleksi tentang bagaimana negara dan pemerintah daerah menjalankan tanggung jawabnya terhadap kelompok masyarakat yang paling membutuhkan perlindungan. Kesehatan adalah hak dasar manusia. Negara memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa hak tersebut dapat diakses oleh semua warga, tanpa terkecuali.

Melalui kajian akademik yang mendalam, buku ini mengingatkan kita bahwa keberpihakan terhadap kaum miskin tidak cukup hanya dengan retorika. Ia harus diwujudkan dalam regulasi yang adil, kebijakan yang tepat, serta anggaran yang memadai.

Sebagai pembaca sekaligus insan pers, saya berharap buku ini dapat memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi kalangan akademisi dan praktisi hukum, tetapi juga bagi masyarakat umum yang peduli terhadap masa depan pelayanan kesehatan di daerah.

Sebab pada akhirnya, kualitas kebijakan publik akan selalu berbanding lurus dengan kualitas pengetahuan yang melahirkannya.

Dan buku, dalam segala kesederhanaannya, tetap menjadi salah satu sumber pengetahuan paling penting bagi peradaban manusia. (*) Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama

Dari Langit Qatar: Kisah Hani, Mahasiswi IIB Darmajaya Terjebak di Tengah Perang

QATAR (DOHA) -(deklarasinews.com)- Langit Doha yang biasanya tenang dan berkilau oleh gemerlap gedung-gedung modern kini terasa berbeda. Sirene peringatan dan notifikasi darurat di telepon genggam menjadi bunyi yang paling ditunggu sekaligus ditakuti. Di tengah situasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ribuan warga negara Indonesia di Qatar hidup dalam kecemasan yang tak pernah benar-benar reda.

Hani Shafa Fadillah, mahasiswi Prodi Manajemen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, menjadi salah satu saksi hidup suasana mencekam itu. Sejak konflik memanas, ia belum bisa kembali ke Indonesia untuk mengikuti perkuliahan. Penerbangan dihentikan, dan ruang udara ditutup demi alasan keamanan.

“Assalamualaikum Pak, mohon maaf belum bisa mengikuti perkuliahan. Saya belum bisa pulang ke Indonesia karena situasi perang di Timur Tengah,” tulis Hani dalam pesannya Rabu, (4/3/26).

Dia meminta izin untuk mengikuti kuliah secara daring atau menerima tugas pengganti, sembari memohon doa untuk seluruh WNI di kawasan tersebut. Bandara utama negara itu, Hamad International Airport, ditutup sementara. Sekitar 8.000 WNI dilaporkan terjebak karena hendak transit dari Doha. Total warga Indonesia di Qatar diperkirakan mencapai 38.000 orang, dan semuanya kini berada dalam bayang-bayang eskalasi konflik regional.

Setiap hari, Hani dan keluarganya menerima peringatan darurat di ponsel ketika ada potensi rudal yang melintas dari arah Iran. Notifikasi itu muncul tiba-tiba, memerintahkan warga untuk waspada dan tetap berada di dalam rumah. “Mencekam, Pak. Setiap hari ada warning di HP ketika ada bahaya atau missiles Iran datang,” ungkapnya, sembari mengirim foto layar ponselnya setelah mendapat warning dari pemerintah Qatar.

Hani menjelaskan dari pusat Kota Doha, jarak ke Pangkalan Militer Al Udeid sekitar 28 kilometer. Pangkalan ini dikenal sebagai salah satu fasilitas militer terbesar milik Amerika Serikat di kawasan Teluk, yakni Al Udeid Air Base. Kedekatan jarak itu membuat rasa cemas semakin nyata.

Di rumah mereka, Hani tinggal bersama ibu, ayah, kakak, dan adiknya. Sang ayah bekerja di salah satu perusahaan minyak di Qatar, sektor strategis yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut. Sejak 2022, keluarganya menetap di sana, sementara Hani kerap bolak-balik Qatar–Indonesia demi menyelesaikan kuliahnya di kampus biru IIB Darmajaya.

Kini, mobilitas itu terhenti. Tidak ada kepastian kapan bandara kembali dibuka. Tidak ada kepastian kapan situasi benar-benar aman. Yang ada hanya imbauan resmi dari pemerintah Qatar agar warga tidak panik dan selalu mengikuti arahan otoritas setempat.

Namun imbauan untuk tenang tak selalu mampu meredam kegelisahan. Warga bergegas mengisi kebutuhan logistik, membatasi aktivitas di luar rumah, dan memperbanyak komunikasi dengan keluarga di tanah air. Grup-grup percakapan WNI dipenuhi kabar terbaru dan saling menguatkan.

Bagi Hani, yang paling berat adalah ketidakpastian akademiknya. Sebagai mahasiswi aktif, ia merasa bertanggung jawab untuk tetap mengikuti perkuliahan. Di tengah suara sirene dan notifikasi ancaman rudal, ia masih memikirkan tugas, absensi, dan masa depannya.

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memang bereskalasi di sejumlah titik Timur Tengah. Meski Qatar bukan medan perang langsung, posisi strategisnya serta keberadaan pangkalan militer asing membuat negara kecil itu ikut merasakan getar dampaknya.

Setiap malam, keluarga Hani memilih berkumpul di satu ruangan, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu situasi memburuk. Doa menjadi penguat utama. “Mohon doanya buat kami semua WNI yang ada di Timur Tengah. Doakan kami selamat,” kata dia lirih.

Di balik kemegahan Doha sebagai kota global, ada ketakutan yang kini bersemayam di sudut-sudut rumah para perantau. Mereka bukan tentara, bukan diplomat, melainkan pekerja dan mahasiswa yang hanya ingin hidup dan belajar dengan tenang.

Perang mungkin terjadi karena kepentingan geopolitik, tetapi dampaknya merambat hingga ruang-ruang pribadi: ruang keluarga, ruang belajar, dan ruang harapan. Hani adalah satu dari puluhan ribu WNI yang kini menunggu, antara cemas dan pasrah.

Dan di setiap bunyi notifikasi peringatan di layar ponselnya, ada satu harapan yang tak pernah padam: semoga langit Doha kembali sunyi, bandara kembali dibuka, dan ia bisa pulang ke kampus dengan cerita tentang bagaimana ia bertahan di bawah bayang rudal. (**)

Mahasiswa UBL Bawa Solusi Kota Berkelanjutan ke Konferensi Internasional AILCD 2026 di Jepang

JEPANG -(deklarasinews.com)- Mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL) kembali menunjukkan kontribusi akademik di tingkat global dengan mempresentasikan riset terkait kota berkelanjutan dan desain rendah karbon dalam International Conference of Asian Institute of Low Carbon Design (AILCD) 2026 yang digelar pada 27 Februari hingga 1 Maret 2026 di The University of Kitakyushu, Jepang.

Forum ilmiah tersebut mempertemukan mahasiswa dan peneliti dari berbagai negara Asia, seperti Indonesia, Vietnam, China, Thailand, dan Jepang, untuk bertukar gagasan mengenai inovasi desain perkotaan yang ramah lingkungan serta strategi menghadapi tantangan perubahan iklim.

Konferensi tahun ini mengangkat tema “1925: Art Deco + 2025: AI Deco = 2125: A? Deco — Shaping the Next Age of Beauty, Technology and Urban Life.” Tema tersebut menghubungkan optimisme teknologi pada era Art Deco dengan perkembangan desain berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diproyeksikan akan membentuk wajah kota masa depan.

Dalam forum internasional tersebut, enam mahasiswa UBL mempresentasikan riset yang mengangkat berbagai persoalan nyata di perkotaan, seperti pengelolaan banjir, pengembangan fasilitas kesehatan berkelanjutan, hingga peningkatan kualitas infrastruktur publik.

Mahasiswa yang terlibat yakni Rafa Alzena, Marsya Dinda Salsabila, Shanaz Rizkyna, Fauzan Bima Wicaksana, Rani Octavia, dan Feri Anggoro. Penelitian mereka antara lain membahas strategi desain rumah sakit berbasis simulasi berkelanjutan, rekayasa lanskap perkotaan untuk mitigasi banjir, model hunian berkelanjutan pada kawasan permukiman informal, hingga analisis standar trotoar di Kota Bandar Lampung.

Berbagai topik tersebut dinilai relevan dengan tantangan pembangunan kota di Indonesia, terutama dalam menghadapi peningkatan risiko banjir, kebutuhan infrastruktur ramah lingkungan, serta pentingnya desain kota yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Rektor Universitas Bandar Lampung, Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman, MBA menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam forum internasional menjadi bagian dari komitmen universitas dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang berdampak.

“UBL terus mendorong mahasiswa untuk menghasilkan riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Kehadiran mahasiswa kami di forum internasional ini menunjukkan bahwa gagasan anak bangsa dapat berkontribusi dalam diskursus global mengenai pembangunan kota yang berkelanjutan,” ujarnya, Kamis, (05/03/2026).

Menurutnya, pengalaman akademik di forum internasional juga membuka peluang kolaborasi lintas negara yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di masa depan.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa UBL juga berinteraksi dan berdiskusi dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi internasional, termasuk Qingdao University of Technology, China, serta akademisi dari The University of Kitakyushu selaku tuan rumah kegiatan. Partisipasi mahasiswa UBL dalam konferensi ini diharapkan tidak hanya memperluas jejaring akademik internasional, tetapi juga memperkuat kontribusi perguruan tinggi Indonesia dalam menghasilkan inovasi dan solusi bagi pembangunan kota yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Tak Tunggu Lulus, Mahasiswa Darmajaya Ini Sudah Mengajar

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)— Menjalani perkuliahan sambil aktif bekerja bukan perkara mudah. Namun, hal itu justru menjadi pembuktian diri bagi Muhammad Rifki Deofiyan, mahasiswa semester IV Program Studi Desain Interior Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya.

Berstatus mahasiswa, Rifki juga mengabdikan diri sebagai guru SMK mata pelajaran videografi di SMK Tri Sukses Natar, Lampung Selatan. Ia menegaskan bahwa dua peran tersebut saling melengkapi, bukan saling menghambat.

“Kuliah jadi fondasi, kerja jadi pembuktian,” ujar Rifki saat diwawancarai pada Rabu (4/3/26).

Menurut Rifki, pengalaman mengajar justru memperkaya sudut pandangnya dalam memahami dunia desain dan multimedia. Ia mengaku tetap mampu menjaga perkembangan akademiknya meski memiliki tanggung jawab profesional.

Secara tidak langsung, Rifki menuturkan bahwa baik desain interior maupun videografi sama-sama menuntut kepekaan visual, komposisi, serta perhatian pada detail. Kesamaan itulah yang membuatnya mampu menyeimbangkan keduanya.

“Perkuliahan membentuk pola pikir dan dasar perancangan, sementara aktivitas mengajar dan berkarya di bidang multimedia menjadi ruang untuk mengasah kreativitas sekaligus menerapkan ilmu secara nyata,” jelasnya.

Rifki juga menyampaikan bahwa dukungan lingkungan kampus sangat berperan dalam perjalanan akademiknya. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani produktif sejak dini.

Dengan semangat technopreneur yang menjadi tagline kampus The Best IIB Darmajaya, kisah Rifki menunjukkan bahwa mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk mulai berkarya. Selama mampu mengelola waktu dan komitmen, bangku kuliah dapat menjadi pijakan kuat menuju dunia profesional.(**)

Mudik 2026 Jadi Ujian Besar Lampung sebagai Gerbang Sumatera

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinwes.com)- Lonjakan mobilitas masyarakat saat arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan kembali menembus angka lebih dari 100 juta orang secara nasional. Besarnya pergerakan ini menjadikan momentum mudik sebagai ujian tahunan bagi sistem transportasi nasional, terutama bagi daerah strategis seperti Lampung yang menjadi gerbang utama Pulau Sumatera.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung (UBL) sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Pemberdayaan Wilayah I (Barat) Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Mahatidanar Hidayat, Ph.D., menilai kesiapan infrastruktur fisik saja tidak cukup untuk menjamin kelancaran arus mudik tahun ini.

“Lampung memegang posisi sangat strategis karena menjadi pintu masuk kendaraan dari Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni. Pada periode puncak, puluhan ribu kendaraan keluar dari pelabuhan setiap hari dan langsung masuk ke jaringan jalan darat menuju berbagai wilayah di Sumatera. Ini menjadikan Lampung sebagai salah satu titik kritis transportasi nasional,” ujarnya, Rabu (04/03/2026).

Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menargetkan kondisi jalan provinsi dalam keadaan mantap dan bebas lubang sebelum puncak arus mudik. Saat ini, tingkat kemantapan jalan provinsi berada pada kisaran 79–80 persen. Percepatan penambalan lubang, perbaikan permukaan jalan, serta penanganan titik kerusakan dilakukan guna menjaga kelancaran arus kendaraan.

Menurut Aditya, kondisi jalan yang baik memang berpengaruh langsung terhadap kecepatan perjalanan, kenyamanan, efisiensi bahan bakar, dan keselamatan. Namun, ia menegaskan bahwa tantangan utama bukan semata kualitas perkerasan jalan, melainkan konsentrasi arus kendaraan pada koridor tertentu.

“Pergerakan kendaraan dari pelabuhan menuju Jalan Lintas Sumatera maupun akses jalan tol kerap menimbulkan titik sempit (bottleneck). Jika volume kendaraan melampaui kapasitas jalan, kemacetan tetap terjadi meskipun jalannya mulus,” katanya.

Untuk itu, strategi pengelolaan arus dinilai harus lebih komprehensif. Dinas Perhubungan Provinsi Lampung menyiapkan penerapan sistem pengaturan arus (delaying system) serta zona penyangga (buffer zone) sebelum kendaraan memasuki kawasan pelabuhan. Skema ini bertujuan mencegah penumpukan kendaraan di area pelabuhan dan menjaga proses penyeberangan tetap tertib.

Selain manajemen lalu lintas, penguatan transportasi massal juga menjadi perhatian. Optimalisasi terminal dan angkutan umum antarkota diharapkan mampu mengurangi dominasi kendaraan pribadi, yang berdasarkan berbagai survei nasional masih digunakan lebih dari 60 persen pemudik.

“Ketergantungan pada mobil dan sepeda motor meningkatkan beban jalan, risiko kecelakaan, serta tekanan pada rest area dan SPBU. Karena itu, pengelolaan mudik harus berbasis data real-time, rekayasa lalu lintas di titik rawan, serta koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, kepolisian, operator transportasi, dan pengelola jalan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penyediaan fasilitas istirahat yang memadai untuk menekan risiko kecelakaan akibat kelelahan, serta edukasi publik terkait perencanaan perjalanan dan keselamatan berkendara. Aditya menilai kebijakan jalan tanpa lubang merupakan fondasi penting, tetapi pemeliharaan infrastruktur seharusnya tidak bersifat musiman. Pendekatan berbasis manajemen aset jalan (road asset management) dengan pemantauan berkala dinilai lebih efektif dibandingkan perbaikan darurat menjelang Lebaran.

“Jika sistem transportasi mampu berfungsi baik saat beban puncak mudik, maka pada kondisi normal kinerjanya akan jauh lebih optimal. Mudik 2026 harus menjadi momentum evaluasi dan perbaikan menyeluruh,” katanya.

Dengan posisi strategisnya, keberhasilan Lampung mengelola arus mudik tidak hanya berdampak pada kenyamanan masyarakat lokal, tetapi juga pada kelancaran distribusi logistik dan mobilitas di seluruh Sumatera. Jalan yang mulus adalah langkah awal, namun integrasi sistem, manajemen lalu lintas adaptif, dan sinergi lintas sektor menjadi kunci menghadapi tantangan mobilitas ke depan.

Unila Gelar FGD Buku Panduan Penelitian dan Pengabdian DIPA BLU 2026

BANDARLAMPUNG -(deklarasinews.com)- Universitas Lampung (Unila) menyelenggarakan focus group discusion (FGD) Buku Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat DIPA BLU Unila tahun 2026. Kegiatan berlangsung Selasa, 3 Maret 2026, di ruang sidang lantai dua Rektorat.

Kegiatan dibuka Wakil Rektor Bidang Akademik Unila, Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si., M.T. Ia menegaskan FGD ini bertujuan mempercepat pengumuman laporan proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga program yang sudah dirancang dapat segera dilaksanakan.

FGD dihadiri Kepala LPPM Unila Dr. Eng. Ir. Dikpride Despa, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., Sekretaris LPPM Unila Dr. Suparman Arif, S.Pd., M.Pd., serta dimoderatori oleh Fajrin Satria Dwi Kesumah, S.E., M.FBE.

Dalam penyampaian materi, Dr. Dikpride Despa menjelaskan skema penelitian tahun anggaran 2026, meliputi penelitian dasar, terapan, pascasarjana, professorship, guru besar, pra-startup, dan startup. Adapun skema pengabdian kepada masyarakat mencakup PKMU, PKM Desa Binaan, serta PKM Diseminasi Hasil Riset.

Tema penelitian dan pengabdian tahun anggaran 2026 ditetapkan sebagai “Inovasi Berbasis Riset dan Kolaborasi untuk Mewujudkan Keberlanjutan dan Kesejahteraan Masyarakat.”

Lebih lanjut, ia menyampaikan pengumuman sekaligus penetapan penerima hibah penelitian dan PKM DIPA BLU Unila akan dilakukan pada bulan Maret ini, sementara seminar hasil PKM direncanakan berlangsung pada Oktober.

Melalui FGD ini, diharapkan buku panduan yang disusun dapat menjadi acuan komprehensif dan implementatif dalam mendukung pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Unila sepanjang tahun 2026.(Red)

 

FP Sinergikan Spiritual Ukhuawah Lewat Safari Ramadan

BANDARLAMPUNG -(deklarasinews.com)- Transformasi karakter dan penguatan kesejahteraan sosial menjadi fokus utama saat Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung (Unila) menggelar pembinaan mental dan spiritual bagi sivitas akademika, di Aula Dekanat FP, Selasa, 3 Maret 2026.

Kegiatan bertajuk “Cahaya Ramadan: Menjalin Ukhuwah, Memupuk Ikhlas dan Integritas” ini dirangkai dengan sosialisasi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) sebagai upaya integrasi peningkatan kinerja dosen dan tenaga kependidikan yang sekaligus menjadi momentum untuk memastikan pelayanan akademik kepada masyarakat tetap prima di tengah ibadah puasa.

​Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Kuswanta Futas Hidayat, dalam sambutannya menekankan efisiensi waktu selama Ramadan di mana tidak ada jeda istirahat makan seharusnya dikonversi menjadi energi kerja yang lebih fokus. Baginya, profesionalisme adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

​”Bulan suci Ramadan ini tidak menghalangi semua aktivitas, justru pada saat bulan Ramadan ini kinerja kita harus meningkat karena kita tidak ada acara istirahat makan dan sebagainya. Mari kita laksanakan kewajiban kita sehingga harapannya justru di bulan Ramadan ini semakin meningkat. Ramadan sendiri tidak menghalangi kita untuk beraktivitas,” ujarnya.

​Senada dengan hal tersebut, Rektor Unila Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., menilai iklim kerja yang produktif berakar dari hubungan kemanusiaan yang harmonis.

Ia menyoroti bagaimana integritas akademik berdampak langsung pada prestasi mahasiswa, termasuk inisiasi program fast track yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan studi magister lebih awal guna meningkatkan persentase SDM unggul di Indonesia.

​”Integritas dalam menjalankan amanah akan membangun kepercayaan, dan ukhuwah yang terjalin erat akan menciptakan lingkungan akademik yang harmonis dan produktif,” tutur Prof. Lusmeilia.

Ia juga mengapresiasi keberhasilan FP Unila yang terus mendorong dosen-dosennya membimbing mahasiswa hingga ke jenjang pascasarjana.

​Dalam kesempatan itu juga Ustaz Asep Kholis Nurjamil menyampaikan tausiahnya mengenai esensi kebersamaan dalam Islam. Menurutnya, Ramadan memiliki keunikan karena hampir seluruh aktivitas ibadahnya dirancang untuk dilakukan secara kolektif demi memupuk rasa kasih sayang.

​”Salah satu kenikmatan di bulan Ramadan hampir semua diikat dengan kebersamaan. Buka puasa bersama, kita sering makan bareng di luar Ramadhan tapi tidak disebut dengan buka puasa bersama. Kita sering shalat berjamaah di luar Ramadan tapi tidak disebut tarawih bersama, sahur bersama, bahkan berbagi bersama,” urai Ustaz Asep.

​Dalam konteks sosial, Ustaz Asep memberikan edukasi mendalam mengenai zakat sebagai instrumen pemerataan ekonomi. Ia mengingatkan, meski zakat memiliki ketentuan nisab (setara 89 gram emas) dan haul (satu tahun), Ramadan adalah waktu terbaik untuk menunjukkan kepedulian.

​”Zakat yang terbaik itu adalah zakat yang dikeluarkan bulan Ramadan, walaupun zakat kapan pun juga bisa. Kata nabi kalau ada orang yang belum sampai pada haulnya maka bulan Ramadan tetap diperintahkan untuk disegerakan. Apalagi ada zakat yang wajib dikeluarkan di akhir Ramadhan sebelum khatib naik ke atas mimbar,” tambah Ustaz Asep.

​Melalui sosialisasi UPZ Unila dalam acara ini, diharapkan kesadaran berzakat di lingkungan universitas semakin sistematis. Dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan serta masyarakat sekitar yang berhak, membuktikan bahwa kegiatan spiritual di Unila memiliki output sosial yang terukur dan berkelanjutan.(Red)