Belum Resmi Diwisuda, Amelia Sudah Jadi Accounting! Inilah Kisah Wisudawan Terbaik IIB Darmajaya

BANDAR LAMPUNG –(deklarasinews.com)- Komitmen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya dalam menghasilkan lulusan yang siap dalam bersaing di dunia usaha dan dunia industri (DUDI) terbukti dari wisudawan terbaik tingkat Fakultas Ekonomi dan Bisnis dalam wisuda ke 41.

Amelia Elga Christine, S.Ak. membuktikannya dengan telah bekerja sebelum menjalani prosesi wisuda ke-41. Peraih IPK sempurna 4,00 ini dapat menyelesaikan studi sesuai target yang direncanakannya sejak awal studi di Kampus Unggul IIB Darmajaya.

“Dari awal saya berkuliah, saya memang menetapkan target untuk menjadi lulusan dengan nilai yang terbaik. Puji Tuhan dengan penuh perjuangan dan dukungan dari orang terdekat, saya bisa mencapai target tersebut. Dan kemarin pada saat wisuda bisa menjadi lulusan terbaik fakultas,” ucap dia pada Jumat, (22/5/26).

Bahkan Amelia Elga Christine telah bekerja pada 7 April 2026 sebelum pelaksanaan wisuda ke-41 periode Ganjil 2025/2026 pada 20 Mei 2026. “Setelah selesai sidang (23 Februari 2026), dari pada menganggur di pagi – sore, sembari mengajar les, saya coba melamar pekerjaan dibeberapa perusahaan. Puji Tuhan setelah melewati berbagai proses melamar kerja, saya diterima kerja sebagai accounting di perusahaan yang saya lamar,” bebernya.

Berkuliah di IIB Darmajaya, lanjut dia, mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. “Materi perkuliahan membantu saya memahami bidang akuntansi dengan lebih baik dan mendalam. Selain itu, dosen-dosen Akuntansi di Darmajaya sangat baik, sabar, dan profesional dalam mengajar, sehingga materi lebih mudah dipahami,” tuturnya.

Amelia menjelaskan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah membantunya dalam dunia pekerjaannya saat ini. “Ilmu serta pengalaman yang saya peroleh selama perkuliahan juga sangat mendukung dan dapat mempermudah pekerjaan saya saat ini,” tutupnya. (**)

Universitas Paramadina Bahas Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?

JAKARTA  -(deklarasinews.com)-  Universitas Paramadina bersama Universitas Harkat Negeri menggelar diskusi bertajuk “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?” di Gedung Trinity Universitas Paramadina, Jakarta. Forum ini menghadirkan ekonom, akademisi, dan peneliti. Acara diselenggarakan secara hibrid bertempat di Universitas Paramadina Kampus Kuningan, Jakarta dan dimoderatori oleh M. Rosyid Jazuli, Ph.D.

Titik berangkat diskusi adalah dua artikel The Economist yang terbit pertengahan Mei 2026: “Indonesia on a Risky Path” dan “Indonesia’s President is Jeopardizing the Economy and Democracy.” Kedua artikel tersebut mengkritik keras arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo, menyoroti risiko fiskal, pelemahan institusi, dan erosi demokrasi. Respons pemerintah yang datang secara terbuka di panggung internasional justru memperkeruh situasi.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D.,  menegaskan pentingnya ruang akademik yang terbuka dalam membahas berbagai persoalan kebangsaan. Menurutnya, kampus harus menjadi tempat lahirnya kebijakan berbasis data, teori, dan bukti empiris.

“Di sini bebas ya Paramadina ini satu kandang akademik, kebebasan sangat dipelihara. Tentu saja apa yang dibicarakan punya dasar-dasar akademik, evidence based policy, data dan teori,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, Ak., MBA., menjelaskan bahwa laporan The Economist perlu dibaca sebagai peringatan serius mengenai kondisi tata kelola pemerintahan dan kepercayaan publik terhadap institusi negara. Ia menilai isu utama yang diangkat media internasional tersebut berkaitan dengan ancaman terhadap ekonomi dan demokrasi Indonesia.

Menurut Sudirman, persoalan yang paling mendasar adalah menurunnya kepercayaan publik akibat melemahnya integritas, meritokrasi, dan mekanisme pengawasan dalam pemerintahan.

“Seluruh uraian dari The Economist dan akibat ikutannya baik di pasar politik maupun ekonomi ini adalah soal declining trust, soal gap yang melebar antara otoritas di satu sisi dengan legitimasi di sisi lain,” katanya.

Ia menambahkan bahwa upaya utama yang perlu dilakukan saat ini adalah memulihkan kepercayaan masyarakat dan pelaku ekonomi melalui tata kelola yang lebih baik.

“Semua pihak rasanya mesti bahu-membahu melakukan restoring confidence, membangun kembali trust,” ujarnya.

Dalam paparannya, ekonom Universitas Indonesia, Prof. Moh. Ikhsan, Ph.D., menilai Indonesia belum berada di tepi jurang krisis, tetapi ruang untuk menghindari risiko tersebut semakin menyempit. Ia mengingatkan bahwa sejumlah pola yang muncul saat ini memiliki kemiripan dengan gejala yang mendahului krisis ekonomi 1997–1998.

“Indonesia belum di tepi jurang, tapi sejarah tidak sedang diam. Ia sedang berbisik dan bisikannya semakin keras,” katanya.

Ikhsan menjelaskan bahwa pelemahan kredibilitas fiskal, toleransi terhadap pelanggaran aturan, melemahnya institusi independen, dan ekspansi fiskal tanpa disiplin pendapatan merupakan sinyal yang patut diwaspadai. Namun demikian, Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan ekonomi yang membuat situasinya berbeda dengan kondisi menjelang krisis 1998.

Ia juga menekankan pentingnya belajar dari pengalaman reformasi yang dilakukan oleh Presiden B. J. Habibie dan Megawati Soekarnoputri, yang menurutnya berhasil memulihkan kepercayaan publik dan menjaga stabilitas ekonomi melalui penghormatan terhadap institusi dan aturan main demokrasi.

Sebagai penutup, Ikhsan mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukan semata-mata krisis ekonomi, melainkan hilangnya kredibilitas institusi negara.

“Indonesia belum di jurang, tapi kita sedang berjalan menuju ke sana perlahan tapi nyata. Kita masih punya ruang yang besar untuk berbalik arah,” tegasnya.

Pandangan senada disampaikan ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Ia menilai sebagian besar kritik yang disampaikan The Economist memiliki dasar yang kuat, terutama terkait tantangan fiskal, komunikasi pemerintah, independensi bank sentral, iklim usaha, dan kualitas tata kelola kebijakan publik.

Menurut Wijayanto, pola pengambilan kebijakan yang dilakukan tanpa perencanaan matang berpotensi menciptakan ketidakpastian jangka panjang.

“Pemerintah untuk menghentikan cara kerja dengan pola reverse planning. Pakai planning yang benar. Kalau project besar ada analisis, kemudian impact analysis, ada piloting, kemudian baru di-eskalasi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kritik dari lembaga internasional seharusnya diperlakukan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan, bukan dianggap sebagai serangan terhadap pemerintah.

“Apa yang disampaikan oleh The Economist itu dianggap oleh pemerintah sebagai referensi untuk perbaikan, bukan kritik, bukan mengedepankan teori konspirasi,” katanya.

Sementara itu, peneliti senior BRIN, Prof. Dr. R. Siti Zuhro, memandang laporan The Economist sebagai alarm yang perlu disikapi secara serius. Menurutnya, kritik terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi Indonesia tidak seharusnya ditolak mentah-mentah, melainkan dijadikan bahan refleksi untuk memperbaiki tata kelola negara.

“Narasi Indonesia menuju jurang sebaiknya dibaca sebagai alarm peringatan bagi kita. Jadi enggak usah sensi. Masa sih nunggu jurang beneran kita masuk jurang baru benar?” ujarnya.

Siti menilai Indonesia tengah menghadapi tantangan berupa melemahnya oposisi politik, meningkatnya pragmatisme partai, sentralisasi kekuasaan, serta berkurangnya kualitas partisipasi publik dalam demokrasi. Ia mengingatkan bahwa kemunduran demokrasi sering kali terjadi secara perlahan dan dianggap sebagai sesuatu yang normal.

“Demokrasi Indonesia belum runtuh, tetapi mengalami proses erosi. Demokrasi formal tetap ada, tapi substansi pengawasan dan partisipasi publik melemah,” katanya.

Dalam kesimpulannya, Siti menegaskan bahwa Indonesia belum tentu menuju jurang, namun tanpa pembenahan tata kelola politik dan ekonomi yang serius, risiko tersebut dapat menjadi kenyataan.

“Indonesia belum menuju jurang secara pasti, tetapi tanpa koreksi serius terhadap tata kelola politik dan ekonomi, jurang itu bisa menjadi kenyataan serius dan akut,” tuturnya.

Melalui seminar ini, para pembicara sepakat bahwa kritik terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi Indonesia perlu dijadikan momentum evaluasi untuk memperkuat institusi, meningkatkan kualitas kebijakan publik, menjaga disiplin fiskal, memperbaiki iklim usaha, serta memastikan demokrasi tetap berjalan secara substantif dan inklusif.

Jamaah, Selain Untuk Mencari Dan Menjaring Bibit Terbaik, Turnamen Futsal Ini Menjadi Ajang Yang Positif Bagi Perkembangan Bakat Dan Karakter Siswa

PALEMBANG -(deklarasinews.com)- Turnamen Futsal antar Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Plaju, digelar dilapangan SD Negeri 222 Palembang, resmi dibuka oleh Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) kecamatan Plaju, Jamaah, S.Pd,. M.Pd, turnamen ini diikuti 35 team perwakilan dari 15 Sekolah Negeri dan 11 Sekolah Swasta yang ada di Kecamatan Plaju Palembang, Sabtu, (23/05/26).

Jamaah, Menyampaikan tujuan diadakan turnamen futsal antar Sekolah Dasar ini adalah, untuk mencari dan menjaring bibit terbaik, Turnamen futsal ini menjadi ajang yang positif bagi perkembangan bakat dan karakter siswa SD di Palembang. Melalui turnamen ini, mereka belajar tentang pentingnya kerja sama tim, sportivitas, dan rasa hormat terhadap lawan dan juga untuk menjalin silaturahmi antar Kelompok Kerja Guru Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan (PJOK) di kecamatan Plaju.

Kegiatan Turnamen Futsal dan minisocer merupakan pelaksanaan tahun yang ke empat, berkat kerjasama dan sinergi sehingga kegiatan ini bisa terlaksana pada hari ini, dan dibawah pimpinan Andre, S.Pd kegiatan olahraga di kecamatan Plaju kita berharap dapat semangkin maju, ujarnya Jamaah, Kepala SDN 231 Palembang ini.

Kegiatan turnamen futsal dan minisocer yang digelar di Halaman SD Negeri 222 Palembang (Sentosa) dihadiri oleh Lurah Plaju Ulu, Davy Angreana, ST. M.Si, Kepala SD Negeri 222 Palembang Zainuri AK, S.Pd, Bhabinkamtibmas Plaju Ulu,, Aiptu Ahmad Zikrillah SH, M.Si, Ketua RW.14 Plaju Ulu, Agus Rachmat, SIP, Zamhari Amin, Ketua RT.39 Plaju Ulu, berlangsung dengan meriah dan mendapat apresiasi positif dari para siswa, sekolah, serta masyarakat setempat.

Turnamen tidak hanya menekankan pada hasil akhir pertandingan, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan kebersamaan. Panitia turnamen juga telah menyiapkan hadiah menarik bagi para pemenang, berupa trofi, piagam, dan medali. Namun, lebih dari sekadar hadiah, pengalaman bertanding dan menjalin persahabatan dengan sesama siswa SD dari sekolah lain menjadi kenangan tak ternilai bagi para peserta.

Kecamatan Plaju, Alhamdulillah di tahun ini. kita mendapatkan predikat Juara Umum, prestasi membanggakan ini menunjukkan peningkatan besar dalam pembinaan olahraga di Kecamatan Plaju, padahal sebelumnya kita belum pernah mendapatkan predikat juara umum, keberhasilan menjadi juara umum adalah buah kerja keras, strategi latihan yang matang, dan semangat juang yang tinggi, membuktikan bahwa Plaju mampu bersaing dan mengungguli kecamatan-kecamatan lain di kota Palembang. Untuk menjaga tren positif dan mempersiapkan kompetisi berikutnya agar tetap menjadi juara.

Bahkan di tahun ini juga ada rencana dari pengurus PSSI dan FIFA akan mewadahi untuk memberikan bantuan bola dalam rangka pembinaan kalangan pelajar tingkat SD dan SMP ini, Sebagai ketua K3S Kecamatan Plaju tentunya sangat mendukung sekali kegiatan ini, harapan kami kedepan, akan muncul bibit berprestasi bukan hanya dari kegiatan olahraga saja di kecamatan Plaju ini, tetapi juga dalam kegiatan pembelajaran lainnya seperti kegiatan keagamaan, kegiatan seni dan lainnya, jelas jamaah.

Tentunya turnamen seperti ini akan terus diadakan untuk mendorong minat dan bakat anak-anak dalam bidang olahraga, khususnya futsal dan minisocer. Selain itu, turnamen ini juga dapat mempererat tali silaturahmi antar sekolah dan menciptakan generasi muda yang sehat, berprestasi, dan berkarakter, pungkasnya. (Ags).

Haflah Takhorruj & Wisuda Tahfiz, Ponpes Annida Siapkan Generasi Emas 2045

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Suasana Khidmat dan haru mewarnai menyematan mahkota kepada wali santri yang hadir pada Haflah Takhorruj & Wisuda Tahfiz di  Pondok Pesantren Modern (PPM) Annida, Sabtu (23/5/26). Tangis wali santri tak dapat terbentung ketika para santri yang diwisuda dan hafizd Qur’an memeluk orangtua sebagai ungkapan terima kasih.

Pada Haflah Takhorruj & Wisuda Tahfiz itu, M. Arizus Safiqy, merupakan santri yang menyandang santri berprestasi, Haizd Qur’an Terbaik 1, dan Wisudawan Terbaik 1 dengan Predikat Istimewa. ”Mohon doa restu dari ananda agar bisa melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir,” kata M. Arizus Safiqy, wisudawan aal Baturaja, Sumatera Selatan, kepada ayahandanya Abdullah.

Sementara, Wakil Rektor 3 IIB Darmajaya, mewakili Ketua Yayasan Alfian Husin Ary Meizari, S.E., MBA., mengatakan Haflah Takhorruj & Wisuda Tahfiz menjadi salah satu momen penting  dalam perjalanan para santri yang menuntut ilmu di PPM Annida. “Hari ini kita menyaksikan para penghafal Alqur’an, yang disebut sebagai ‘Qur’an Berjalan’.  Kalian akan dijaga dan dilindungi oleh malaikat Allah SWT sepanjang hidup kalian,” kata Muprihan.

Menurutnya, keberhasilan para santri bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi amanah besar bagi keluarga dan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa hafalan Alqur’an adalah bekal utama untuk menghadapi kehidupan yang penuh tantangan.

Dalam kesempatan itu, hadir penanggung jawab Ponpes Modern Annida, Dr. Ir. Firmansyah Y. Alfian, MBA., M.Sc., yang turut memberikan dukungan penuh terhadap acara tersebut. “Pendiri pesantren pernah berpesan bahwa bangsa ini suatu saat akan hancur jika tidak didasari dan diperkuat dengan ilmu agama. Oleh sebab itu, keberadaan PPM Annida menjadi benteng moral dan spiritual bagi generasi muda,” kata Muprihan, menambahkan.

Turut hadir Kepala Kemenag Kabupaten Lampung Selatan yang diwakili Zulkarnain; Kasi PAPKI Kemenag Lampung Selatan Hj. Septi Suharwita, S.Ag., M.Pd.; dan Pengasuh PPM Annida Buya Dr. Ir. H. Firmansyah Y. Alfian, MBA., M.Sc. Kehadiran mereka menambah khidmat acara yang penuh makna.

Selain itu, hadir pula Kepala SDI Pelangi Ibu Siti Khanifah, S.Pd.I, Babinsa, dan Babinkamtibmas yang menunjukkan dukungan lintas sektor terhadap keberlangsungan pendidikan di PPM Annida. Kehadiran para tokoh ini menjadi bukti bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun generasi muda yang berakhlak mulia dan berprestasi.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Lampung yang diwakili Zulkarnain, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Haflah ke-6 PPM Annida.

Dia menyampaikan rasa syukur atas segudang prestasi yang diraih PPM Annida, serta memberikan ucapan selamat kepada para wisudawan baik dalam studi formal maupun tahfizul Qur’an dari 1 juz hingga 30 juz. “Hal ini menegaskan bahwa Ponpes Modern Annida konsisten menyiapkan lulusan terbaik untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” kata dia.

Menurutnya, hafalan yang diselesaikan para santri merupakan fase penting dalam konsentrasi terhadap Alqur’an. Ia menjelaskan tiga fase utama yang harus diperhatikan, yakni interaksi dengan bacaan dan hafalan Alquran, tilawatan yang mendalami aspek bacaan dan tajwid, serta fase pengamalan kandungan Alquran untuk didakwahkan kepada seluruh dunia. (**)

Dr. Novita Sari Ungkap Kunci Pelanggan Loyal: Bukan Sekadar Produk, Tapi Pelayanan dan Motivasi Kerja!

​BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Ketua Program Studi Manajemen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, Dr. Novita Sari, menjadi narasumber dalam Pelatihan Karyawan PT. Sungai Sumatera Jawa yang digelar di Bandar Lampung pada (21/5/26). Dalam pelatihan tersebut, materi yang disampaikannya “Service Excellent dan Menumbuhkan Motivasi Diri”.

Dalam pemaparannya, Dr. Novita Sari menjelaskan bahwa pelayanan prima atau service excellent merupakan upaya memberikan layanan terbaik kepada pelanggan guna menciptakan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Menurutnya, kualitas layanan menjadi faktor penting dalam membangun citra perusahaan dan meningkatkan daya saing usaha.

“Pelayanan prima bukan hanya tentang melayani pelanggan, tetapi bagaimana perusahaan mampu memberikan pengalaman terbaik melalui keramahan, kecepatan, ketepatan, dan sikap profesional,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pelayanan berkualitas harus didukung dengan karakter karyawan yang ramah, komunikatif, bertanggung jawab, cepat, tepat, dan profesional. Dalam sesi pelatihan, peserta dikenalkan dengan konsep 3A yakni Attitude, Attention, dan Action sebagai dasar pelayanan prima kepada pelanggan.

Menurutnya, motivasi kerja memiliki hubungan erat dengan kualitas pelayanan. Karyawan yang memiliki motivasi tinggi akan bekerja lebih disiplin, ramah, dan peduli terhadap pelanggan sehingga berdampak pada meningkatnya kepuasan konsumen.

“Kafe, restoran, maupun toko retail saat ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga pengalaman dan kenyamanan pelanggan. Karena itu, motivasi kerja menjadi kunci penting dalam menciptakan pelayanan terbaik,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa motivasi dipengaruhi faktor intrinsik maupun ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi disiplin, tanggung jawab, kemauan belajar, dan kepedulian terhadap pelanggan. Sedangkan faktor ekstrinsik mencakup gaji, bonus, reward, lingkungan kerja yang nyaman, hingga hubungan baik dengan atasan.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diajak melakukan simulasi pelayanan pelanggan, mulai dari menghadapi pelanggan yang bingung memilih menu, menangani komplain keterlambatan pesanan, hingga memberikan rekomendasi produk oleh-oleh khas.

Dr. Novita berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan semangat kerja karyawan serta membangun budaya pelayanan yang lebih baik di lingkungan perusahaan.

“Ketika karyawan bekerja dengan semangat, pelanggan datang dengan senang. Pelayanan terbaik dari semua pihak akan menciptakan pelanggan loyal dan membantu perusahaan mencapai tujuan bersama,” ungkapnya. (**)

Desa Tidak Bertransaksi Dolar, Akademisi UBL Nilai UMKM Tetap Rentan Dampak Global

​BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari memang mencerminkan realitas transaksi domestik masyarakat Indonesia. Meski demikian, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap memiliki keterkaitan kuat dengan dinamika ekonomi global yang memengaruhi stabilitas dan keberlanjutan usaha di daerah.

Pandangan tersebut disampaikan akademisi Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Bandar Lampung (UBL), Niki Agus Santoso, S.A.B.,M.Si dalam kajiannya mengenai pengaruh ekonomi global terhadap sektor UMKM nasional, khususnya di daerah berbasis agribisnis dan ekonomi kreatif seperti Lampung.

Menurut Niki, masyarakat desa memang tidak melakukan transaksi menggunakan dolar secara langsung. Namun dalam struktur ekonomi modern yang saling terintegrasi, perubahan nilai tukar mata uang global tetap memiliki implikasi terhadap berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

“Pernyataan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar memang benar dalam konteks transaksi sehari-hari. Akan tetapi, dalam sistem ekonomi yang semakin terbuka dan terkoneksi, fluktuasi nilai tukar dolar tetap memberikan pengaruh terhadap biaya produksi, distribusi, harga bahan baku, hingga daya beli masyarakat,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa UMKM Indonesia saat ini tidak lagi berada dalam sistem ekonomi tertutup. Sebagian besar sektor usaha telah terhubung dengan rantai pasok nasional maupun global, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan ekonomi internasional turut berdampak terhadap aktivitas usaha di tingkat lokal.

Pada sektor kuliner misalnya, kenaikan nilai dolar dapat memengaruhi harga bahan baku, kemasan, hingga peralatan produksi yang masih bergantung pada pasar global. Dampak serupa juga dirasakan sektor fesyen, konveksi, kerajinan, jasa, pertanian, hingga peternakan.

Menurutnya, pelaku UMKM di Lampung juga menghadapi tantangan serupa seiring meningkatnya keterhubungan pasar lokal dengan sistem perdagangan dan distribusi yang lebih luas.

“Pelaku UMKM kopi di Lampung misalnya, tidak hanya menghadapi tantangan dalam proses produksi, tetapi juga pada aspek pengemasan, distribusi, pemasaran, dan pengembangan pasar. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekonomi lokal tetap memiliki keterkaitan erat dengan dinamika ekonomi global,” katanya.

Niki menilai salah satu dampak yang paling dirasakan pelaku UMKM saat ini adalah semakin menyempitnya margin keuntungan akibat meningkatnya berbagai komponen biaya operasional. Di sisi lain, pelaku usaha tidak selalu memiliki ruang untuk menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat.

Akibat tekanan tersebut, banyak pelaku UMKM mulai melakukan langkah adaptif melalui efisiensi usaha, inovasi produk, diversifikasi bisnis, serta penguatan strategi pemasaran berbasis digital untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Di tengah tantangan ekonomi global, ia menilai kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui pengembangan UMKM berbasis potensi lokal dan peningkatan daya saing produk dalam negeri.

“Yang lebih penting bukan sekadar apakah masyarakat menggunakan dolar atau tidak, melainkan bagaimana Indonesia mampu membangun ekosistem usaha yang kuat, produktif, inovatif, dan berdaya saing di tengah ketidakpastian ekonomi global,” jelasnya.

Lebih lanjut, Niki menegaskan bahwa penguatan penggunaan bahan baku lokal, percepatan digitalisasi usaha, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan media menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan UMKM nasional.

“Ketahanan UMKM akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas dan daya tahan ekonomi nasional, baik pada masa pertumbuhan ekonomi maupun ketika menghadapi tekanan dan ketidakpastian global,” pungkasnya.

Tak Hanya di Kelas, Mahasiswa Hukum Bisnis Darmajaya Turun Langsung ke Pengadilan

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Program Studi Hukum Bisnis Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya menghadirkan pengalaman belajar berbeda bagi mahasiswa semester 2 melalui program pembelajaran langsung di ruang sidang Pengadilan Negeri Tanjungkarang pada 18–26 Mei 2026.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 15 mahasiswa setiap kunjungan sebagai bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Hukum Pidana dan Hukum Perdata. Para mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga menyaksikan secara langsung proses persidangan, tata cara pemeriksaan perkara, hingga dinamika praktik hukum di pengadilan.

Dosen pendamping dalam kegiatan tersebut yakni Mashuril Anwar, S.H., M.H., Intan Meitasari, S.H., M.H., Dewi Noviyanti, S.H., M.H., Dr. Suratno, S.Pdi., M.H., Ichsan Jaya Kelana, S.H., M.H., serta Dra. Yuniwati, M.H.

Kepala Program Studi Hukum Bisnis IIB Darmajaya, Mashuril Anwar, S.H., M.H., mengatakan bahwa program belajar di ruang sidang ini menjadi langkah nyata kampus dalam membangun pemahaman praktis mahasiswa terhadap dunia hukum.

“Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana hukum bekerja di lapangan. Melalui kegiatan ini, mereka dapat memahami proses persidangan secara nyata, mulai dari peran hakim, jaksa, pengacara, hingga administrasi perkara,” ujar Mashuril Anwar.

Ia juga menegaskan bahwa pengalaman tersebut penting untuk membentuk pola pikir kritis dan profesionalisme mahasiswa sejak dini. Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja maupun profesi hukum di masa depan.

Mashuril Anwar menambahkan bahwa antusiasme mahasiswa selama mengikuti kegiatan sangat tinggi. Para peserta aktif mengamati jalannya persidangan serta berdiskusi mengenai penerapan hukum pidana dan hukum perdata yang dipelajari di bangku kuliah.

“Harapannya, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman empiris sehingga lebih siap menjadi lulusan hukum yang kompeten, adaptif, dan berintegritas,” tambahnya.

Melalui program ini, Prodi Hukum Bisnis IIB Darmajaya terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan metode pembelajaran inovatif yang menghubungkan dunia akademik dengan praktik hukum secara langsung.(**)

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Hadiri Acara Penyerahan Juara Lomba “Cawo Bubalah Lampung” dalam Rangka Hari Pendidikan Nasional 2026

BANDARLAMPUNG -(deklarasinews.com)- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghadiri acara “Cawo Bubalah Lampung” dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, di Gedung Balai Keratun Lantai III, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (22/5/2026).

Pada kesempatan itu, Gubernur Mirza  menegaskan pentingnya budaya sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Lampung.

Gubernur Mirza mengatakan pendidikan tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga harus mampu menanamkan kecintaan terhadap budaya dan identitas daerah.

“Pendidikan bukan hanya soal belajar di sekolah, nilai rapor, atau mengejar prestasi akademik saja. Pendidikan juga tentang bagaimana anak-anak kita mengenal budaya, mencintai daerah, dan menjaga jati diri Lampung,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan Lampung menuju Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh langkah yang dilakukan saat ini, baik dalam sektor ekonomi, industri, pariwisata, infrastruktur, maupun pendidikan.

Ia menjelaskan, budaya merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat Lampung. Falsafah hidup masyarakat Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan, dinilai menjadi kekuatan yang menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat.

Gubernur Mirza juga menekankan bahwa nilai Piil Pesenggiri sering disalahartikan sebagai sikap keras, padahal maknanya adalah menjaga martabat, memiliki rasa malu, dan semangat saling menolong antarsesama.

Ia menilai budaya Lampung selama ini berhasil menjadi perekat sosial, termasuk dalam keberhasilan program transmigrasi di daerah tersebut. Menurutnya, keterbukaan masyarakat Lampung membuat hubungan antarsuku dan agama tetap harmonis.

Lanjut, Gubernur Mirza mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat asli Lampung hanya sekitar 13 persen dari total 9,5 juta penduduk. Namun, ia menilai seluruh masyarakat yang tinggal dan mencintai Lampung merupakan bagian dari identitas Lampung itu sendiri.

“Nilai-nilai budaya inilah yang harus kita pertahankan hingga ratusan tahun ke depan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak perkembangan teknologi dan media sosial terhadap perubahan karakter generasi muda. Karena itu, peran keluarga dinilai sangat penting dalam menanamkan nilai budaya kepada anak-anak.

“Anak-anak hanya beberapa jam berada di sekolah. Selebihnya bersama keluarga. Karena itu, keluarga memiliki peran besar dalam menanamkan nilai budaya Lampung,” katanya.

Selain sebagai identitas daerah, jelas Gubernur Mirza, budaya juga dinilai memiliki potensi ekonomi melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Berbagai kekayaan budaya Lampung seperti seruit, kain tapis, siger, dan tarian tradisional sebagai daya tarik wisata unggulan.

Gubernur Mirza juga mengapresiasi organisasi masyarakat dan komunitas budaya yang aktif melestarikan adat Lampung, termasuk Mighrul Lampung Bersatu (MLB).

Ia berharap gerakan pelestarian budaya dapat terus berkembang hingga tingkat kecamatan agar bahasa, adat istiadat, dan kesenian Lampung tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

“Mari jadikan Hari Pendidikan Nasional sebagai pengingat bahwa anak-anak Lampung harus maju dalam pendidikan dan pemikirannya, tetapi tidak melupakan akar budayanya,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP Mighrul Lampung Bersatu Dwita Ria Gunadi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian perempuan Lampung terhadap kelestarian bahasa daerah. Menurutnya, semangat kebangkitan nasional harus relevan dengan upaya menjaga akar budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

“Kebangkitan saat ini dimulai dari kesadaran bahwa identitas, ilmu pengetahuan, dan budaya adalah kekuatan utama bangsa. Melalui Lomba Cawo Bubalah dan kursus daring bahasa Lampung, kita sedang menjaga identitas generasi muda,” ujar Dwita Ria.

Dwita Ria menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan implementasi dari Instruksi Gubernur Nomor 4 Tahun 2025 mengenai program “Kamis Beradat”. Ia berharap kebijakan tersebut tidak hanya menjadi simbol seremonial, melainkan menjadi budaya yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung.

Berikut daftar pemenang Lomba Video Bubalah Bahasa Lampung Tahun 2026.

# Kategori DPP/DPD Mighrul Lampung Bersatu

Juara 1: DPP Bidang Seni dan Olahraga

Juara 2: DPD Kota Metro

Juara 3: DPP Bidang Pendidikan

Juara Harapan 1: DPD Kabupaten Tulang Bawang

Juara Harapan 2: DPD Kabupaten Lampung Barat

Juara Harapan 3: DPD Kabupaten Way Kanan

# Kategori Umum

Juara 1: Tim Inti (Asal Kota Bandar Lampung)

Juara 2: Anisa Tri Oktavia dan kawan-kawan (Asal Kota Bandar Lampung)

Juara 3: Mutia dan kawan-kawan (Asal Kabupaten Tulang Bawang)

Juara Favorit: Tim Nyenyok (Asal Kabupaten Way Kanan)

#Penghargaan Khusus

Penghargaan Karya Motivasi Terbaik: Tim Jejamo Production (Asal Kota Bandar Lampung).(Red)

Handi Risza: Target Ekonomi 2027 Ambisius, Pemerintah Perlu Perkuat Implementasi dan Reformasi Struktural

JAKARTA -(deklarasinews.com)- Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza, menilai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 menunjukkan upaya pemerintah membangun optimisme terhadap prospek perekonomian nasional sekaligus menegaskan komitmen untuk mengembalikan sistem ekonomi Indonesia pada amanat Pasal 33 UUD 1945 secara konsisten.

Menurut Handi, pidato tersebut memberikan sinyal bahwa pemerintah memandang ekonomi tidak hanya sebagai persoalan teknokratis dan administratif, melainkan sebagai bagian dari komitmen politik kebangsaan yang harus diarahkan dan dijalankan secara serius.

Handi menyambut positif target pertumbuhan ekonomi yang dipatok sebesar 5,8–6,5 persen pada 2027 dan diarahkan mencapai 8 persen pada 2029. Pemerintah juga menargetkan defisit APBN tetap terjaga pada kisaran 1,8–2,4 persen terhadap PDB, kemiskinan turun menjadi 6–6,5 persen, serta tingkat pengangguran berada pada rentang 4,3–4,87 persen.

“Kita menyambut baik target pertumbuhan ekonomi yang direncanakan sebesar 5,8–6,5 persen pada 2027 dan menuju 8 persen pada 2029, dengan defisit APBN dijaga 1,8–2,4 persen PDB,” kata Handi.

Ia menilai berbagai target tersebut mencerminkan keinginan kuat pemerintah untuk bekerja keras memperbaiki kondisi ekonomi nasional. Ia juga menyatakan dukungan terhadap arah dan target ekonomi yang telah disampaikan Presiden. Namun demikian, Handi mengingatkan bahwa keberhasilan agenda tersebut sangat ditentukan oleh kualitas implementasi kebijakan.

“Kita mendukung sepenuhnya rencana dan target ekonomi tahun 2027 yang sudah disampaikan oleh Presiden Prabowo tersebut. Tetapi, kita juga perlu mengingatkan bahwa, terdapat kondisi yang perlu diperhatikan dan diperbaiki, jangan sampai rencana tersebut hanya sebatas konsep tetapi lemah dalam implementasi,” ujarnya.

Menurut Handi, visi politik yang kuat perlu diterjemahkan ke dalam reformasi ekonomi yang konkret, terukur, dan implementatif. Ia mengidentifikasi sedikitnya lima aspek yang perlu mendapat perhatian pemerintah.

Pertama, target pertumbuhan ekonomi dinilai sangat optimistis di tengah tekanan global dan pelemahan domestik. Hal ini terlihat dari asumsi nilai tukar rupiah yang diproyeksikan berada pada kisaran Rp16.800–17.500 per dolar AS, yang menunjukkan pemerintah sendiri mengakui adanya tekanan eksternal terhadap perekonomian nasional. Karena itu, pemerintah dinilai perlu merumuskan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar sebagai fondasi pencapaian target pertumbuhan.

Kedua, Handi menilai pidato Presiden belum memberikan penjelasan yang cukup mengenai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Selama ini perekonomian Indonesia masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor komoditas. Meskipun hilirisasi kembali menjadi agenda utama, tanpa strategi industrialisasi yang jelas kebijakan tersebut berisiko memperkuat ekonomi ekstraktif dibandingkan membangun basis manufaktur berteknologi tinggi dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.

“Pemerintah juga perlu memperkuat kebijakan industri yang berbasis komponen sumber daya lokal,” katanya.

Ketiga, Handi melihat masih terdapat tantangan antara ekspansi berbagai program prioritas pemerintah dan kapasitas fiskal negara. Dengan target belanja negara mencapai 14,8 persen PDB sementara pendapatan negara hanya berada pada kisaran 11,82–12,4 persen PDB, ruang fiskal dinilai tetap terbatas dan ketergantungan terhadap utang masih cukup tinggi.

Handi menegaskan bahwa reformasi perpajakan perlu terus diperkuat agar disiplin fiskal dapat terjaga secara berkelanjutan.

“Kita mendukung keberlajutan kebijakan reformasi perpajakan yang sudah dilakukan sebelumnya. Tanpa itu, ekonomi Indonesia akan mengalami ketimpangan untuk membiayai proses pembangunan,” ujarnya.

Keempat, meskipun pidato Presiden mengusung semangat “ekonomi untuk rakyat”, Handi menilai persoalan ketimpangan ekonomi belum dijawab secara memadai. Target penurunan rasio gini menjadi 0,362–0,367 dinilai positif, namun distribusi hasil pertumbuhan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Selama struktur ekonomi masih terkonsentrasi pada kelompok usaha besar dan bersifat oligopolistik, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu menghasilkan pemerataan kesejahteraan.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menghadirkan kebijakan turunan yang lebih dirasakan langsung oleh kelompok masyarakat menengah dan bawah.

Kelima, aspek kualitas belanja negara dinilai belum mendapat perhatian yang memadai. Menurut Handi, ekspansi fiskal yang direncanakan perlu diiringi dengan jaminan peningkatan kualitas belanja agar mampu menghasilkan dampak nyata bagi sektor riil.

“Masalah klasik yang masih kita hadapi, inefisiensi, kebocoran, dan rendahnya multiplier effect terangkum dalam angka ICOR yang tinggi belum dijawab secara sistemik,” katanya.

Ia berharap pemerintah memperkuat kembali reformasi tata kelola anggaran agar peningkatan belanja negara tidak hanya memperbesar defisit, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Meski demikian, Ia mengapresiasi kehadiran Presiden secara langsung dalam penyampaian KEM-PPKF 2027. Langkah tersebut dinilai menunjukkan bahwa arah kebijakan fiskal kini ditempatkan sebagai agenda politik nasional yang strategis, bukan sekadar dokumen teknokratis.

Handi menilai penekanan pemerintah pada ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja formal, dan perlindungan masyarakat menunjukkan adanya kesadaran bahwa legitimasi pemerintahan ke depan sangat bergantung pada peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat.

Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi membangun optimisme, melainkan memastikan kredibilitas pelaksanaan kebijakan. Pemerintah perlu memastikan APBN benar-benar menjadi instrumen transformasi ekonomi yang mampu memperkuat industri domestik, memperluas kelas menengah, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan mengurangi ketimpangan.

“Karena itu, tantangan berikutnya bukan lagi membangun optimisme, melainkan membangun kredibilitas implementasi,” tegas Handi.

Ia menambahkan bahwa target-target besar dalam KEM-PPKF hanya akan bermakna apabila diwujudkan melalui kebijakan yang efektif dan berdampak langsung bagi masyarakat. Untuk itu, Ia menantikan penjabaran lebih lanjut arah kebijakan fiskal pemerintah dalam pidato Nota Keuangan dan RAPBN 2027 yang akan disampaikan Presiden pada 16 Agustus 2026 mendatang.

Karya Mahasiswa dan Dosen DKV Darmajaya Bersinar di Gallery Sanggar Olah Seni Bandung

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Dosen dan mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya kembali menunjukkan eksistensi dalam berkarya dengan ikut serta pada pameran karya bertajuk TOREH di Gallery Sanggar Olah Seni, Bandung, pada 21–29 Mei 2026. Dalam pameran tersebut, DKV IIB Darmajaya diwakili dosen Sigit Yudi Prasetyo, M.Ds. bersama mahasiswa Fadhillah Wely Nasrizal, Rendy Max Sumaxer, M. Edly Yusuf Saputra, dan Ilham Langgeng Prayoga.

Pameran TOREH menghadirkan karya dari berbagai graphic artist, seniman, desainer, dan akademisi kreatif dari sejumlah daerah di Indonesia. Pameran ini mengangkat makna “toreh” sebagai jejak visual yang merekam pengalaman, emosi, dan proses kreatif dalam sebuah karya. Beragam karya yang ditampilkan menjadi bentuk ekspresi sekaligus ruang apresiasi bagi para perupa dan desainer untuk menyampaikan gagasan melalui medium visual.

Sigit Yudi Prasetyo mengatakan keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam pameran tersebut menjadi pengalaman penting untuk menambah wawasan dan memperluas jejaring kreatif. “Pameran TOREH menjadi ruang yang sangat positif bagi mahasiswa untuk belajar menghadirkan karya yang tidak hanya estetik, tetapi juga memiliki pesan dan nilai artistik. Kami ingin mahasiswa merasakan langsung atmosfer pameran profesional di tingkat nasional,” ujarnya.

Menurutnya, partisipasi dalam pameran nasional juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang diterapkan di Program Studi DKV IIB Darmajaya.

Sementara itu, mahasiswa peserta pameran, Fadhillah Wely Nasrizal, mengaku bangga dapat ikut menampilkan karya bersama seniman dan kreator dari berbagai daerah. “Kami sangat senang bisa memamerkan karya bersama seniman dan kreator dari berbagai daerah. Ini menjadi pengalaman yang memotivasi kami untuk terus berkarya dan lebih percaya diri menampilkan ide-ide kreatif,” katanya.

Keikutsertaan dosen dan mahasiswa dalam pameran TOREH menunjukkan komitmen DKV IIB Darmajaya dalam mendukung pengembangan kreativitas mahasiswa sekaligus memperkuat eksistensi kampus di bidang seni dan industri kreatif nasional.(**)