BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Universitas Bandar Lampung (UBL) terus memperkuat peran strategisnya dalam mendorong literasi lingkungan di kalangan generasi muda. Melalui program edukasi perubahan iklim berbasis boardgame interaktif berbasis SDGs, UBL menyasar siswa SMP, SMA hingga mahasiswa di Bandar Lampung dengan pendekatan pembelajaran partisipatif dan kontekstual.
Program ini menggunakan boardgame yang berjudul “How Climate Resilient & Inclusive Is Your City?” yang dibuat oleh UCLG ASPAC melalui proyek Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) yang didukung oleh European Union (EU). SDGs Center UBL melibatkan mahasiswa lintas program studi untuk mengembangkan implementasi boardgame tersebut menjawab tantangan pembelajaran isu perubahan iklim yang selama ini dinilai masih dominan teoritis. Melalui metode game-based learning, mahasiswa menghadirkan simulasi yang menggambarkan hubungan sebab-akibat antara aktivitas manusia dan dampaknya terhadap lingkungan.
Dosen pembimbing kegiatan, Dr.Eng. Fritz Akhmad Nuzir yang juga Direktur SDGs Center UBL menegaskan bahwa inovasi pembelajaran ini menjadi bagian dari upaya kampus UBL menghadirkan solusi edukatif yang relevan dengan tantangan global. “Perubahan iklim adalah isu global yang kompleks. Dengan boardgame, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi mengalami langsung simulasi pengambilan keputusan dan melihat konsekuensinya terhadap lingkungan. Ini membuat pemahaman menjadi lebih komprehensif,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Kegiatan diawali dengan observasi serta Focus Group Discussion (FGD) guna memetakan tingkat pemahaman awal peserta. Hasil identifikasi menunjukkan sebagian besar siswa telah mengenal istilah perubahan iklim, namun belum memahami secara mendalam faktor penyebab, dampak jangka panjang, maupun langkah mitigasi yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Boardgame ini memvisualisasikan konsep perubahan iklim, emisi karbon, krisis lingkungan, serta strategi adaptasi melalui mekanisme permainan kelompok. Dalam setiap sesi, peserta diajak berdiskusi dan merefleksikan hasil permainan untuk dikaitkan dengan kondisi nyata di sekitar mereka.
Antusiasme terlihat dari partisipasi aktif siswa selama kegiatan berlangsung. Reza, salah satu siswa peserta kegiatan mengaku metode tersebut membuat materi lebih mudah dipahami. “Biasanya kami hanya membaca atau mendengar penjelasan tentang perubahan iklim. Lewat permainan ini, saya jadi lebih mengerti bagaimana keputusan kecil, seperti penggunaan energi atau pengelolaan sampah, bisa berdampak besar. Belajarnya jadi lebih seru dan tidak membosankan,” ujarnya.
Di tingkat mahasiswa, pendekatan ini juga memperkaya perspektif akademik lintas disiplin. Mahasiswa program studi Arsitektur mengaitkan isu perubahan iklim dengan desain berkelanjutan dan konsep bangunan ramah lingkungan, sementara mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi menyoroti pentingnya strategi komunikasi publik dalam menyampaikan pesan-pesan iklim secara efektif.
Model pembelajaran berbasis permainan ini berpotensi direplikasi di berbagai institusi pendidikan sebagai alternatif edukasi lingkungan yang adaptif dan relevan bagi generasi muda yang meningkatkan pemahaman peserta, tumbuhnya kesadaran lingkungan, serta kemampuan menjelaskan kembali konsep perubahan iklim secara lebih sistematis. Melalui inovasi tersebut, UBL menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata dalam membangun kesadaran kolektif menghadapi tantangan perubahan iklim.