BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Program Studi Akuntansi/Accountpreneurship Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya menggelar Webinar Akuntansi Publik bertajuk “Antara Kepatuhan dan Celah: Di Mana Fraud Bisa Terjadi?” pada Senin, (11/5/26).
Kegiatan yang menghadirkan Staf Analis Kebijakan Pemeriksaan Keuangan Negara Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), Ahmad Dwi Irianto sebagai narasumber ini digelar secara daring melalui zoom meeting. Webinar dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis IIB Darmajaya, Dr. Winda Rika Lestari, S.E., M.M. dengan diikuti ratusan peserta.
Dalam webinar juga dipandu oleh moderator Fitri Agustina, S.E., M.Acc., Ak. Webinar ini menjadi ruang diskusi akademik bagi mahasiswa untuk memahami berbagai potensi kecurangan (fraud) yang dapat terjadi dalam pengelolaan keuangan publik meskipun organisasi telah memiliki aturan dan prosedur yang jelas.
Dalam pemaparannya, Ahmad Dwi Irianto menjelaskan bahwa fraud tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran hukum, tetapi juga erat kaitannya dengan moralitas, integritas, serta perilaku manusia dalam menjalankan kewenangan.
Menurutnya, akuntansi publik memiliki peran penting dalam menciptakan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Ia menjelaskan bahwa akuntansi tidak hanya dipahami sebagai proses pencatatan dan pelaporan keuangan, tetapi juga sebagai instrumen pengendalian dan dasar pengambilan keputusan dalam organisasi publik.
“Fraud dapat muncul ketika ada niat, kesempatan, dan lemahnya pengendalian. Aturan bisa memiliki celah, namun integritas dan adab menjadi benteng utama agar seseorang tidak memanfaatkan celah tersebut,” ujarnya dalam webinar.
Ia juga mengulas berbagai teori terkait fraud, seperti Fraud Hexagon Theory, Hubris Syndrome, hingga Lucifer Effect yang menjelaskan bagaimana seseorang dapat berubah ketika memiliki kekuasaan, tekanan, maupun lingkungan yang mendukung terjadinya penyimpangan. Selain itu, ia menekankan bahwa manusia sering kali lebih dinamis dibanding aturan dan prosedur yang dibuat organisasi.
Dalam sesi diskusi, peserta diajak memahami pentingnya fungsi akuntansi sebagai alat pengawasan dan pengendalian internal. Ahmad Dwi Irianto menilai bahwa seorang akuntan harus mampu membangun sistem pengendalian yang baik sekaligus memiliki sensitivitas terhadap pola-pola penyimpangan yang berpotensi terjadi dalam organisasi.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis IIB Darmajaya, Dr. Winda Rika Lestari, S.E., M.M., menyampaikan bahwa webinar ini menjadi bagian dari upaya Prodi Akuntansi dalam memperluas wawasan mahasiswa terkait praktik akuntansi sektor publik dan isu fraud yang saat ini menjadi perhatian berbagai lembaga.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya perlu memahami aspek teknis akuntansi, tetapi juga harus memiliki etika dan integritas dalam menjalankan profesi di masa depan. “Kami berharap mahasiswa dapat memahami bahwa kepatuhan saja belum cukup. Integritas, transparansi, dan akuntabilitas menjadi nilai penting dalam profesi akuntansi,” ungkapnya.
Sementara Ketua Prodi Akuntansi IIB Darmajaya Dedi Putra, S.E., M.S.Ak., mengatakan webinar ini merupakan program kerja dari Prodi Akuntansi dalam membuat seminar akuntansi publik dan akuntansi keuangan. “Ini mengulik tentang adanya fraud. Diikuti 325 peserta dari google form yang terdaftar,” ungkapnya.
Webinar ini, lanjut dia, untuk menambah wawasan mahasiswa tentang akuntansi publik. “Kedepan kita juga akan menggelar webinar tentang akuntansi keuangan,” tuturnya.
Kegiatan webinar berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang aktif berdiskusi mengenai praktik fraud, pengendalian internal, hingga tantangan pengawasan keuangan negara di Indonesia. Webinar ini juga diharapkan dapat membuka peluang riset dan pengembangan kajian terkait fraud dan tata kelola keuangan publik bagi mahasiswa Prodi Akuntansi IIB Darmajaya. (**)