YAPEN -(deklarasinews.com)- Pagi Sabtu, 10 Januari 2026, laut di Tanjung Andei tampak lebih sunyi dari biasanya. Riak ombak seolah ikut menyimpan duka, saat satu per satu bunga ditaburkan ke permukaan laut sebagai penghormatan terakhir bagi para korban kecelakaan laut Waindu yang terjadi pada 24 Desember 2025 lalu.
Di tengah keheningan itu, Wakil Bupati Kepulauan Yapen berdiri memandang laut lepas. Dengan langkah perlahan, ia menaburkan bunga ke laut, mewakili seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Yapen dan Pemerintah Daerah. Prosesi ini bukan sekadar seremonial, melainkan simbol empati dan kebersamaan pemerintah dengan keluarga korban yang masih berduka.

Prosesi pemakaman laut yang dipusatkan di Tanjung Andei tersebut dipimpin oleh Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Kepulauan Yapen (PGGK), Pdt. Kristiano Tanawani. Doa-doa dipanjatkan, air mata jatuh tanpa suara, mengiringi pelepasan para korban ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Tabur bunga juga dilakukan oleh Komandan Distrik Militer (Dandim) 1709/Yawa, Letkol Inf Baskoro Wijaya Atmanto, serta Anggota DPRK Kepulauan Yapen, Mika Runaweri. Kehadiran unsur pemerintah, TNI, dan legislatif dalam satu prosesi memperlihatkan bahwa duka ini adalah duka bersama.
Usai prosesi di laut, rombongan bergerak menuju Kampung Waindu, Distrik Raimbawi. Di kampung inilah, keluarga korban dan masyarakat berkumpul kembali dalam suasana yang berbeda. Tangis duka perlahan berganti dengan puji-pujian, saat Ibadah Pengucapan Syukur dilaksanakan sebagai ungkapan iman dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Dalam ibadah tersebut, H. Ampasoi, mewakili keluarga duka, berdiri dengan suara yang bergetar namun penuh keteguhan. Ia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, sekaligus ucapan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Yapen yang telah hadir dan membantu keluarga sejak musibah itu terjadi.
Di balik ungkapan syukur, terselip harapan yang sederhana namun bermakna. H. Ampasoi menyuarakan kerinduan masyarakat agar akses transportasi darat, khususnya jalur Trans Yapen, dapat menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Harapan kami, Trans Yapen kalau boleh, kami minta supaya akses jalan darat bisa dilihat oleh pemerintah daerah,” ujarnya, disambut anggukan warga yang hadir.
Wakil Bupati Kepulauan Yapen bersama rombongan menyimak dengan seksama setiap kata yang disampaikan. Kehadiran mereka di tengah ibadah bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai sesama yang turut merasakan kehilangan. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati menyampaikan empati dan mengajak masyarakat untuk tetap kuat, saling menopang, dan menjaga kebersamaan.
Hari itu, Waindu bukan hanya menjadi saksi perpisahan, tetapi juga tempat lahirnya harapan. Dari laut Tanjung Andei hingga doa-doa di Kampung Waindu, tersirat pesan bahwa di tengah duka, selalu ada ruang untuk iman, kebersamaan, dan harapan akan hari esok yang lebih baik.