Ketua DPRK Yapen Serap Aspirasi dari Ujung Timur Pulau Yapen

YAPEN -(deklarasinews.com)- Ketua DPRK Yapen, Ebzon Sembai S.Pi., M.H., memilih cara sederhana untuk menunaikan amanah rakyat  duduk bersama warga di atas tanah, tanpa kursi atau meja, mendengarkan langsung jeritan kebutuhan masyarakat Distrik Raimbawi. Kegiatan Hering (hearing) atau dialog lapangan yang digelar Rabu (12/8/2026) di Kampung Sewenui (Paparu) menjadi bukti nyata komitmen wakil rakyat dari Dapil IV itu untuk memastikan suara terjauh dari pulau dari Ujung Timur Pulau Yapen tetap didengar.

Perjalanan panjang dari pusat kota ke Distrik Raimbawi menyingkap realitas yang memprihatinkan, jalan yang rusak parah, kampung-kampung tanpa penerangan, dan infrastruktur dasar yang belum memadai. Di tengah kondisi itu, Ebzon yang oleh warga dipanggil Wadefai atau “Kuda Hitam dari Timur” mendengarkan satu per satu aspirasi dengan sikap rendah hati, duduk bersisian dengan masyarakat, bahkan menumpang tanah yang sama sebagai tanda kesetaraan antara pemimpin dan rakyat tak ada sekat.

Sosok pemimpin dari latar belakang sederhana

Kisah Ebzon makin menyentuh karena ia berasal dari keluarga sederhana dari Kampung,  Ayahnya seorang pensiunan guru, dan Ibunya Ibu rumah tangga. Kehidupan sederhana itulah yang membentuk kepekaan politiknya.

Kehadirannya di Raimbawi bukan sekadar seremoni—melainkan hadir di antara warga, menyimak cerita dari Rakyat serta merasakan langsung getirnya banyak hal yang belum menyetuh kehidupan masyarakat.

Aspirasi mendesak masyarakat

Dalam dialog terbuka itu, warga memaparkan kebutuhan prioritas yang mendesak, Perbaikan jalan penghubung Distrik Raimbawi ke Distrik Yapen Timur, Penerangan listrik untuk kampung-kampung yang masih gelap gulita.

Jaringan internet di sekolah SMP Satu Atap Paparu dan SD setempat, Perbaikan rumah dinas guru serta dukungan untuk rumah pemetasan penyu (Rumah Beni), Bantuan alat tangkap dan fasilitas perikanan bagi nelayan, Fasilitas kantor dan infrastruktur penunjang di kantor Distrik Rainbawi.

Ebzon menyatakan bahwa aspirasi yang dihimpun dari Hering ini akan diformalkan dan disampaikan ke pemerintah daerah agar dapat dianggarkan sesuai kemampuan keuangan daerah. Ia mengakui kendala efisiensi anggaran dan penarikan dana infrastruktur ke pusat yang membatasi ruang fiskal, namun menegaskan DPRK dan pemerintah daerah akan terus mencari solusi agar kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi prioritas.

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat harus diwujudkan, termasuk masyarakat kampung yang selama ini jauh dari perhatian. Meski tidak semua permintaan bisa dipenuhi sekaligus, yang bersifat mendesak akan kami perjuangkan sesuai kemampuan daerah,” ujar Ebzon.

Aksi simbolis dan kehadiran bersama masyarakat

Selain dialog, Ebzon bersama Kepala Distrik Raimbawi, Dody Lefta, dan masyarakat juga anak anak sekolah , dewan guru, dan aparat  kampung , Bamuskam ikut melepas anak penyu di Pantai Losari (Lori, Sanuari, dan Buritari) bersama anak-anak sekolah—sebuah simbol kepedulian terhadap lingkungan dan warisan budaya pesisir.

Kepala Distrik Dody Lefta menyampaikan apresiasi atas perhatian Ketua DPRK:

“Terima kasih pak Ebzon, karena telah memilih Raimbawi sebagai tempat Hering. Kehadiran Bapak berarti kami ‘dilihat’ dan aspirasi kami didengar.”

Hadir dalam pertemuan tersebut para kepala kampung dan tokoh masyarakat dari empat kampung wilayah Distrik Raimbawi—Sewenui (Paparu), Waindu, Woda, dan Kororompui (Wasma)—serta dewan guru dan tamu undangan lainnya.

Kunjungan Ebzon Sembai ke Rangbawi menegaskan wajah politik yang dekat dengan rakyat: pemimpin yang mau duduk sebentar di atas tanah, menaruh telinga pada bisikan warga, dan membawa aspirasi itu ke meja pemerintahan.

Di balik keterbatasan anggaran, gestur sederhana tersebut memberi harapan baru bahwa suara rakyat, dari ujung timur pulau, masih menjadi prioritas dalam upaya pembangunan yang lebih adil dan merata.(GM)

Tinggalkan Balasan