KEP. YAPEN -(deklarasinews.com)- STKIP PGRI Papua memberdayakan Kelompok Tani Sagu Kampung Menawi/Roipi 1, Distrik Angkaisera, Kabupaten Kepulauan Yapen, melalui program pengabdian kepada masyarakat yang didapatkan dari hibah Dikti program studi pendidikan biologi melaksanakan kegiatan dengan fokus mengintegrasikan edukasi biologi dan teknologi pengolahan pangan lokal. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah sagu dan mendorong kemandirian ekonomi warga. Kegiatan ditutup pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Serah terima peralatan untuk pengabdian masyarakat dilakukan pada 18 Juli 2026. Acara dihadiri Ketua STKIP PGRI Papua Drs. Orgenes Runtuboi, M.Si., perwakilan pemerintah kampung, anggota kelompok tani, dosen, mahasiswa, dan masyarakat setempat. Program ini dibiayai melalui hibah pengabdian dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Biologi.
Menurut Drs. Orgenes Runtuboi, perguruan tinggi tidak boleh berperan sebagai “menara gading” semata, melainkan harus menjadi obor bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengabdian masyarakat merupakan bagian penting dari Tridarma Perguruan Tinggi dan berharap program memberi dampak nyata bagi kelompok tani sagu di Kampung Menawi.

Potensi lokal dan tujuan program
Kampung Menawi kaya akan sumber pangan lokal, terutama sagu dan berbagai umbi-umbian, yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya. Selama ini pemanfaatannya lebih banyak untuk konsumsi sederhana atau dijual sebagai bahan mentah sehingga nilai ekonominya belum maksimal. Program ini dirancang untuk membangun kemampuan masyarakat mengolah sagu secara mandiri menggunakan teknologi tepat guna sederhana, bukan untuk mengembangkan industri skala besar.
Dukungan dan keterlibatan masyarakat
Pemerintah Kampung Menawi, yang diwakili Sekretaris Kampung atas nama Kepala Kampung Herkilas Bonai, menyambut baik inisiatif tersebut dan berharap kegiatan berlangsung berkelanjutan, bukan sekadar serah terima peralatan. Ketua Kelompok Tani, yang diwakili Engel Daud Kaui, menyatakan kesiapan kelompok untuk mendukung program hingga tuntas dan mengharapkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Pelaksanaan teknis dan edukasi biologi
Tim pengabdian dipimpin oleh Muhamad Imron, M.Pd., dengan anggota Dwi Yarmalinda, M.Pd., dan Roy Marthen Rahanra, M.Si.
Kegiatan melibatkan lima dosen undangan, lima mahasiswa, serta masyarakat mitra. Setelah serah terima peralatan, pada 19–20 Juli 2026 dilakukan penebangan sagu dan pengambilan pati, sebagai tahap awal pengolahan bahan baku. Pada 21–22 Juli 2026 tim memberikan sosialisasi pengolahan pangan yang dikaitkan dengan edukasi biologi, meliputi nilai gizi sagu, prinsip higienitas, keamanan pangan, serta perubahan fisika-kimia selama pengolahan. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat memperoleh keterampilan teknis sekaligus pemahaman ilmiah tentang pengolahan pangan.

Dari pati ke tepung hingga produk jadi
Setelah proses penjemuran dan pengeringan, pada 3 Agustus 2026 sagu dikayak untuk menghasilkan tepung dengan tekstur halus.
Tepung kemudian ditimbang dan dikemas masing-masing 500 gram sebagai produk setengah jadi yang siap dipasarkan. Selanjutnya tepung sagu dimanfaatkan untuk produksi kue kering (cookies) yang diproduksi bersama mahasiswa dan anggota kelompok tani. Dalam uji pasar awal dihasilkan 25 kemasan cookies ukuran 120 gram, masing-masing dijual seharga Rp10.000; seluruhnya laku terjual, menandakan respon pasar yang positif meski masih berskala kecil.
Pendekatan pemberdayaan berkelanjutan
Program menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam perencanaan, pelaksanaan, praktik produksi, dan evaluasi. Teknologi yang diterapkan sederhana sehingga dapat dijalankan sebagai unit produksi bersama atau usaha rumah tangga. Keberhasilan awal membuka peluang pengembangan produk, perbaikan mutu, variasi, kemasan, dan strategi pemasaran yang lebih luas.
Langkah berikutnya
Tim pengabdian berharap kegiatan ini berlanjut melalui pendampingan lanjutan, penelitian terapan, dan pemanfaatan pengalaman lapangan sebagai bahan ajar kontekstual bagi mahasiswa Pendidikan Biologi. Bagi masyarakat Kampung Menawi, program ini diharapkan mengubah pandangan terhadap sagu: dari bahan pokok sederhana menjadi sumber pengetahuan, produk bernilai tambah, dan peluang ekonomi lokal.
Acara penutupan program dilaksanakan pada 9 Agustus 2026 di Kampung Menawi, Distrik Angkaisera.