ACEH TIMUR -(deklarasinews.com)– Kalau soal jalan rusak di Idi Tunong, masyarakat mungkin sudah hafal ceritanya. Yang belum hafal hanya kapan ceritanya berakhir.
Bertahun-tahun diberitakan, dikeluhkan, bahkan janji perbaikan datang silih berganti. Namun lubang jalan masih menjadi bagian dari perjalanan warga setiap hari.
Sekretaris Desa (Sekdes) Keude Keumuneng, Aminullah, yang kebetulan ditemui awak media di sebuah warung kopi, menanggapi persoalan itu sambil bercanda.
“Kalau tidak hari ini mungkin minggu depan, kalau tidak bulan ini mungkin tahun depan. Segala harapan kan datang, yang kita impikan,” ujarnya sembari bernyanyi.
Candaan itu kemudian berubah menjadi sindiran ketika ia berbicara tentang panjangnya persoalan jalan tersebut.
“Seperti yang abang tahu, di media bukan sekali dua kali, bukan cuma tahun ini. Sudah bertahun-tahun. Kalau masalah janji mah sudah menjadi template topik kampanye,” katanya.
Aminullah mengaku dirinya juga sering ditanya warga kapan jalan akan diperbaiki.
“Jangankan abang yang nanya ke saya, warga aja yang nanya ke saya. Paling kita jawab, ‘Ya mau gimana lagi, kan ini jalan negara. Kita tunggu jawaban negara,’ daripada saya diamuk warga,” ujarnya sambil tertawa.
Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun di balik tawanya, ada persoalan yang tak kunjung selesai.
Warga tidak lagi membutuhkan penjelasan bahwa jalan itu rusak. Mereka sudah tahu karena setiap hari melewatinya.
Yang mereka tunggu bukan lagi janji kapan jalan diperbaiki, tetapi kapan janji itu benar-benar menjadi jalan yang diperbaiki.
Sebab di Idi Tunong, pejabat boleh berganti, janji boleh diperbarui, tetapi lubang jalan sepertinya masih setia menunggu.
Lukanya sudah lama. Jangan setiap datang membawa harapan, malah dikasih asam lagi. (Ami)