Oleh : Arief Surahman, Driver Ojek Online Palembang
PALEMBANG -(deklarasinews.com)- Deru mesin sepeda motor matic tua milik Arief Surahman (47) Driver Ojek Online, membelah hiruk-pikuk jalanan ibu kota Palembang menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI Ke – 81 Tahun 2026. Di bawah fluktuasi tarif ojek online (ojol) yang kian menipis dan potongan aplikator yang mencekik, pria paruh baya ini tetap setia memacu kendaraannya demi sebuah misi besar: melunasi biaya kuliah anak tunggalnya yang mencapai Rp.9 juta per semester.
Bagi Arief, kemerdekaan bukan sekadar seremoni kibar bendera atau pidato megah para pejabat. Kemerdekaan adalah perjuangan harian untuk bertahan hidup di tengah kontradiksi nyata negeri yang kaya akan sumber daya alam (SDA), namun menyisakan rekam jejak ekonomi yang sulit bagi rakyat kecil.
*Ironi Rumah Sendiri dan Sembako Mahal*
Arief termasuk beruntung dalam satu hal: ia tidak perlu memikirkan biaya sewa tempat tinggal karena rumah yang ditempatinya adalah milik sendiri, warisan dari orang tuanya. Namun, memiliki atap untuk berteduh ternyata belum cukup untuk membawa ketenangan finansial.
- *Penghasilan Tidak Pasti:*
Pendapatan bersih ojol kini berkisar Rp.70.000 hingga Rp.100.000 per hari setelah dipotong bensin.
- *Hambatan Algoritma:*
Sistem komisi aplikator yang ketat membuat driver harus bekerja hingga 14 jam sehari.
- *Beban Hidup Naik:*
Harga beras, minyak goreng, dan tarif listrik terus merangkak naik menggerus daya beli harian.
“Punya rumah sendiri itu berkah luar biasa, tetapi rumah tidak bisa dimakan. Setiap bulan Agustus tiba, saya selalu merenung. Kita sudah merdeka puluhan tahun, tapi kenapa buat makan layak dan menyekolahkan anak saja rasanya seperti menjajah diri sendiri secara fisik?” urai Arief saat ditemui di sela-sela waktu istirahatnya di kawasan perkantoran di Jalan Kapten A Rivai Palembang. Kamis, (06/08/26).
*Pertarungan Rp.9 Juta Per Semester*
Dilema terbesar Arief berakar pada biaya pendidikan tinggi. Anak tunggalnya berhasil menembus bangku universitas negeri, sebuah kebanggaan yang sekaligus menjadi beban finansial yang masif. *Tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp.9 juta* setiap enam bulan menuntutnya memutar otak tanpa henti.
Untuk mengumpulkan Rp9 juta per semester, Arief wajib menyisihkan sekitar *Rp.1,5 juta setiap bulan, atau sekitar Rp.50.000 per hari* murni hanya untuk tabungan kuliah. Angka ini memakan hampir separuh dari pendapatan bersih hariannya.
“Anak saya adalah harapan satu-satunya agar lingkaran kemiskinan ini putus. Dia tidak boleh jadi driver ojol seperti bapaknya. Biar bapaknya yang berdarah-darah di jalanan, asal dia bisa pakai toga,” ucap Arief dengan mata berkaca-kaca namun penuh ketegasan.
*Menggugat Keadilan di Negeri Kaya Raya*
Narasi hidup Arief adalah potret mikro dari jutaan kelas pekerja di Indonesia. Komoditas alam seperti nikel, batu bara, hingga kelapa sawit merajai pasar global dan menyumbang triliunan rupiah bagi kas negara. Namun, akses terhadap pendidikan tinggi yang terjangkau masih menjadi barang mewah yang sulit dijangkau oleh anak seorang pengemudi transportasi online.
Arief memaknai kemerdekaan hari ini bukan sebagai kebebasan fisik dari penjajah asing, melainkan sebagai perjuangan meraih keadilan sosial. Kemerdekaan sejati baru akan terwujud ketika kekayaan alam Indonesia dapat dikonversi menjadi subsidi pendidikan yang merata, sehingga tidak ada lagi orang tua yang harus menahan lapar di atas motor demi membayar lembar-lembar tagihan kuliah anaknya.
Sambil merapikan jaket hijaunya yang mulai pudar, Arief kembali memakai helm. Ponselnya berbunyi, sebuah notifikasi pesanan masuk. Ia kembali melaju, menjemput rupiah demi rupiah, memerdekakan masa depan anaknya di atas aspal jalanan yang panas. (Ags).