Herman Deru Dukung Kanwil Kemenkumham Sumsel Jadikan Sumael Sebagai Percontohan Nasional untuk Posbakum Desa

PALEMBANG -(deklarasinews.com)-  Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Dr. H. Herman Deru, MM, menyambut baik dan memberikan dukungan penuh atas rencana pembentukan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di seluruh desa pada 17 kabupaten/kota di Sumsel. Rencana strategis tersebut digagas oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sumsel, yang saat ini dipimpin oleh Kepala Kanwil yang baru, Maju Amintas Siburian.

Dukungan itu disampaikan langsung oleh Herman Deru saat menerima audiensi Maju Amintas di Ruang Tamu Gubernur, Rabu (23/7/2025). Ia menyebutkan bahwa kehadiran Posbakum di setiap desa akan menjadi tonggak penting dalam menghadirkan keadilan hukum secara merata dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.

Gubernur menekankan bahwa layanan hukum tidak boleh hanya tersedia di pusat kota atau ibukota kabupaten saja, tetapi harus menyentuh langsung masyarakat di desa-desa. Oleh karena itu, ia mendorong semua pemangku kepentingan untuk terus membangun kolaborasi demi terciptanya keadilan yang berkeadaban dan inklusif.

“Pemprov Sumsel sangat mendukung inisiatif ini. Kami bersama aparat penegak hukum berkomitmen memperkuat sinergi dengan Kanwil Kemenkumham Sumsel serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang ada di daerah untuk mengoptimalkan peran Posbakum,” ujar Herman Deru.

Ia juga berharap Posbakum yang akan dibentuk tidak hanya hadir sebagai simbol, melainkan sebagai sarana aktif, responsif, dan solutif. Layanan ini, katanya, harus mampu memberikan edukasi hukum, pendampingan, serta akses keadilan yang memadai bagi warga yang membutuhkan.

Kepala Kanwil Kemenkumham Sumsel, Maju Amintas Siburian, mengungkapkan bahwa peresmian pembentukan Posbakum ini akan dilakukan secara serentak di seluruh desa di Sumsel. Ia menjelaskan bahwa Sumsel akan menjadi provinsi pertama di Indonesia yang berhasil membentuk Posbakum di 100 persen wilayah desanya.

“Peresmiannya akan dilakukan langsung oleh Menteri Hukum dan HAM RI, Bapak Supratman Andi Agtas, pada 28 Juli mendatang. Ini akan menjadi sejarah dan model bagi provinsi lain,” tutur Maju dalam audiensi tersebut.

Tak hanya itu, rangkaian kunjungan kerja Menteri Hukum dan HAM ke Sumsel juga akan diisi dengan kegiatan Pelatihan Paralegal Desa yang digelar secara daring. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat desa agar mampu menjadi garda terdepan dalam memahami dan menyebarkan informasi hukum secara tepat.

Maju menyampaikan rasa terima kasihnya atas sambutan hangat dari Gubernur Herman Deru dan jajaran Pemprov Sumsel. Ia juga menyatakan komitmennya untuk bersinergi penuh dalam mendukung berbagai program strategis Pemprov yang berorientasi pada pelayanan publik, khususnya bidang hukum.

Menurutnya, pelibatan masyarakat desa melalui Posbakum dan pelatihan paralegal merupakan pendekatan jangka panjang yang akan memperkuat fondasi hukum dari bawah. Dengan keterlibatan langsung warga desa, konflik atau persoalan hukum bisa lebih cepat diidentifikasi dan ditangani.

Dengan dukungan penuh dari Gubernur dan kerja sama lintas lembaga, Sumsel kini berada pada jalur tepat menuju provinsi percontohan nasional dalam pemerataan layanan hukum hingga ke tingkat desa. Upaya ini sekaligus menunjukkan keberpihakan nyata pemerintah terhadap masyarakat akar rumput.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berharap bahwa inisiatif Posbakum desa tidak hanya menjadi program unggulan, tetapi juga menjadi gerakan kolektif yang memperkuat nilai keadilan, kesetaraan, dan kesadaran hukum di seluruh pelosok Sumsel.

Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah pejabat penting Pemprov Sumsel, antara lain Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Dr. Drs. H. Sunarto, M.Si; Kepala Biro Hukum, SE, SH, M.Si, C.MSP; Kepala Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum, Hendri Pagiling; Kepala Bagian TUM, Bulan Mahardika Subekti; Koordinator Penyuluhan Hukum, Asnedi; serta beberapa Kepala OPD lainnya.(ning)

Dorong Pemerintahan Digital, Sumsel Mantapkan Peran Strategis PPID

PALEMBANG -(deklarasinews.com)- Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung tata kelola pemerintahan berbasis digital. Hal ini tercermin dalam kegiatan Rapat Koordinasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) se-Sumsel Tahun 2025, yang berlangsung di Graha Bina Praja Palembang, Rabu (23/7/2025).

Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel, Drs H Edward Candra MH, yang membuka acara tersebut, menekankan bahwa digitalisasi pelayanan publik hanya dapat terwujud apabila seluruh PPID memahami dan mengimplementasikan keterbukaan informasi secara maksimal.

“Era digital menuntut kecepatan dan ketepatan informasi. Masyarakat tidak bisa lagi menunggu lama untuk mendapatkan hak informasinya,” ujar Edward dalam sambutannya.

Menurut Edward, peran PPID sangat krusial dalam menjembatani kebutuhan informasi masyarakat dengan kebijakan dan program yang dijalankan pemerintah.

Ia menegaskan bahwa PPID harus terus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya dalam mengelola serta menyampaikan informasi secara efisien dan akurat.

“Setiap perangkat daerah harus memiliki PPID yang aktif, responsif, dan paham teknologi informasi. Ini adalah pilar pelayanan publik yang modern,” lanjutnya.

Edward juga menyampaikan bahwa perangkat daerah yang sudah memperoleh penghargaan atas keterbukaan informasi dapat dijadikan role model untuk daerah lainnya.

Kepala Dinas Kominfo Sumsel, Rika Efianti, dalam laporannya menyampaikan bahwa Pemprov Sumsel terus berinovasi dalam menyempurnakan sistem informasi publik. Salah satu indikator keberhasilannya adalah capaian predikat “Informatif” dari Komisi Informasi Pusat pada tahun 2024.

Selain menggelar Bimtek dan Rakor, Pemprov Sumsel juga memberikan PPID Award kepada kabupaten/kota dan perangkat daerah yang dinilai sukses menerapkan standar layanan informasi publik secara menyeluruh.

“Ini bentuk apresiasi sekaligus dorongan bagi PPID agar tidak cepat puas dan terus berinovasi,” ungkap Rika.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga melibatkan Komisi Informasi Sumsel dalam menyampaikan hasil Monev Keterbukaan Informasi Tahun 2025 serta mensosialisasikan standar baru dalam pelayanan informasi publik.

Dengan kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Sumsel berharap seluruh perangkat daerah dan kabupaten/kota mampu menyusun strategi komunikasi publik yang inklusif, berbasis data, dan adaptif terhadap dinamika digital.

Rika menutup laporannya dengan menegaskan bahwa semangat Sumsel “Maju Terus untuk Semua” hanya akan tercapai bila seluruh elemen pemerintahan bersatu padu dalam memberikan pelayanan informasi publik yang terbuka dan berkualitas. (ning)

Pemprov Sumsel Hadirkan Payung Hukum Perlindungan Anak dan Perempuan Pasca Perceraian

PALEMBANG -(deklarasinews.com)– Komitmen kuat untuk memperjuangkan hak perempuan dan anak kembali dibuktikan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Gubernur H. Herman Deru memimpin langsung penandatanganan kesepakatan kerja sama pencegahan perkawinan anak dan perlindungan hak pasca perceraian di Griya Agung Palembang, Selasa (22/7/2025).

Kesepakatan ini melibatkan Pemerintah Provinsi Sumsel, Pengadilan Tinggi Agama Palembang, serta seluruh Bupati dan Wali Kota se-Sumsel, sebagai wujud kolaborasi untuk memperluas perlindungan sosial dan hukum kepada kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak.

“Kita ingin memastikan bahwa tidak ada anak dan perempuan yang terabaikan setelah perceraian terjadi. Mereka tetap harus mendapatkan hak-haknya, baik secara hukum maupun sosial,” kata Herman Deru.

Ia menyoroti kondisi memprihatinkan yang dialami anak-anak korban perceraian, terutama di pedesaan. Menurutnya, tanpa pendampingan yang memadai, anak-anak tersebut berisiko mengalami penurunan mental, keterbatasan akses pendidikan, dan masa depan yang terancam.

Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat peran pemerintah daerah dalam menjalankan fungsi promotif, preventif, sekaligus eksekusi kebijakan di lapangan. Termasuk dalam mensosialisasikan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

“Peran bupati dan wali kota sangat penting karena struktur pemerintahan mereka sampai ke tingkat RT dan RW, lebih dekat dengan masyarakat,” jelas Herman Deru.

Dirjen Badilag Mahkamah Agung RI, Drs. H. Muchlis, menyambut positif inisiatif ini. Ia mengatakan, kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk menghadirkan keadilan yang lebih inklusif, terutama bagi perempuan yang sering terabaikan haknya setelah perceraian.

“Ini bukan sekadar kesepakatan administratif, tapi kerja nyata menuju keadilan sosial,” tegas Muchlis.

Ia menambahkan, hasil dari kesepakatan ini akan dilaporkan ke Mahkamah Agung RI sebagai contoh bagi provinsi lain. Harapannya, sistem peradilan kedepan lebih responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan.

Kepala Dinas PPPA Sumsel, Fitriana, menjelaskan bahwa kerja sama ini dilandasi oleh fakta empirik. Meskipun angka perkawinan anak di Sumsel menurun, masih terdapat 891 dispensasi kawin anak di tahun 2024, angka yang mencemaskan.

Fitriana menjelaskan, anak yang menikah dini umumnya belum matang secara fisik maupun psikis, dan berpotensi besar menghadapi tantangan hidup yang berat—termasuk risiko KDRT, kemiskinan, dan perceraian dini.

“Dengan perjanjian ini, kami berharap tidak hanya angka pernikahan dini yang menurun, tetapi juga kualitas hidup anak dan perempuan Sumsel bisa meningkat secara signifikan,” pungkas Fitriana.(ning)

 

Stok Darah Minim, PMI Palembang Jalin Kerja Sama Strategis dengan Alang-Alang Lebar

PALEMBANG -(deklarasinews.com)- ‎Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang terus memperkuat langkah kemanusiaan melalui kolaborasi lintas sektor. Kali ini, PMI menggandeng Kecamatan Alang-Alang Lebar dalam sebuah kerja sama strategis yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Senin, 21 Juli 2025. Fokus utama kerja sama ini adalah untuk meningkatkan kesadaran serta partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan donor darah secara rutin.

‎‎Ketua Tim Penggerak PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani, hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan dukungan penuh atas kolaborasi ini. Dalam sambutannya, Dewi menekankan bahwa kebutuhan darah di Kota Palembang tergolong sangat tinggi dan memerlukan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat.

‎‎”Sebagai lembaga kemanusiaan yang bertanggung jawab dalam penyediaan darah yang aman dan berkualitas, PMI tak mungkin bekerja sendiri. Kita sangat bergantung pada para donatur di Kota Palembang. Bayangkan saja, setiap bulan kita membutuhkan sekitar 5.000 hingga 7.000 kantong darah,” ungkap Dewi.

‎‎Dewi juga menyoroti fakta bahwa hingga saat ini, PMI Kota Palembang hanya mampu mengumpulkan sekitar 3.000 hingga 4.000 kantong darah per bulan. Angka tersebut baru memenuhi sekitar 50–60 persen dari total kebutuhan, sehingga kerap kali terjadi kekosongan stok darah di berbagai rumah sakit maupun klinik.

‎‎Kekurangan ini menjadi tantangan besar, mengingat kebutuhan darah tidak hanya datang dari pasien yang menjalani operasi. Pasien penderita anemia berat, talasemia, cuci darah, hingga yang menjalani transfusi rutin juga bergantung pada ketersediaan darah yang memadai.

‎‎“Dalam kegiatan ini, kami menargetkan setidaknya 100 kantong darah yang langsung akan dibawa ke PMI untuk diolah agar aman sebelum disalurkan kepada pasien yang membutuhkan,” ujar Dewi.

‎‎Melalui kerja sama ini, PMI Kota Palembang menaruh harapan besar untuk dapat menjangkau masyarakat di Kecamatan Alang-Alang Lebar secara lebih luas dan menyeluruh. Tak hanya itu, kegiatan serupa juga diharapkan dapat dicontoh oleh kecamatan-kecamatan lain serta instansi pemerintah di Kota Palembang.

‎‎Sinergi lintas sektor ini dianggap sebagai langkah awal yang konkret dalam membangun jaringan solidaritas sosial. Kerja sama ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kuantitas kantong darah yang terkumpul, tetapi juga mempererat hubungan antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga kemanusiaan seperti PMI.

‎‎Camat Alang-Alang Lebar, Sariyansyah Ismail, menyatakan bahwa kegiatan donor darah di wilayahnya sempat mengalami kevakuman selama satu tahun terakhir. Namun berkat inisiasi kerja sama ini, semangat untuk menyumbangkan darah kembali digelorakan.

‎‎“Kami bersyukur kegiatan ini bisa kita hidupkan kembali. Hari ini semua elemen masyarakat turut serta, mulai dari pegawai kecamatan, ketua RT/RW, hingga pendonor lama. Target hari ini tetap 100 kantong, dan ke depan kami harap kegiatan seperti ini bisa digelar rutin setiap dua bulan,” ujarnya.

‎‎Lebih lanjut, Sariyansyah mengungkapkan bahwa pihaknya juga memanfaatkan teknologi komunikasi sebagai alat monitoring kebutuhan darah. Salah satunya dengan bergabung dalam grup WhatsApp PMI yang khusus menangani wilayah Kecamatan Alang-Alang Lebar.

‎‎” Dari grup tersebut, kami bisa langsung tahu jika ada permintaan golongan darah tertentu. Jadi kami bisa segera bergerak dan berkoordinasi untuk mencarikan pendonor,” tutup Sariyansyah. (Ning)

 

Wagub Cik Ujang Ajak Pemuda Jadi Motor Kesejahteraan Sosial saat Buka Rapimnas Karang Taruna 2025

PALEMBANG -(deklarasinews.com)–  Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Selatan (Sumsel) H. Cik Ujang secara resmi membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Karang Taruna Tahun 2025. Kegiatan tersebut digelar di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang pada Minggu, (20/7/2025) siang dan dihadiri ratusan kader Karang Taruna dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Cik Ujang menegaskan bahwa dinamika kehidupan masyarakat terus berkembang, sehingga menuntut organisasi sosial seperti Karang Taruna untuk adaptif terhadap tantangan baru. Ia menyebut forum seperti Rapimnas penting sebagai ajang evaluasi dan penyempurnaan program kerja.

“Diperlukan suatu forum bagi organisasi sebagai proses evaluasi atas pelaksanaan program kerja, serta dirumuskannya langkah penyempurnaan agar dapat terus berkembang,” ujarnya di hadapan peserta Rapimnas.

Wagub menekankan pentingnya Karang Taruna untuk meninjau ulang capaian dan hambatan dalam programnya. Menurutnya, regulasi internal dan orientasi kepengurusan menjadi kunci agar Karang Taruna tetap relevan dan efektif dalam menjalankan misinya di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Cik Ujang menyampaikan bahwa Karang Taruna bukan sekadar organisasi kepemudaan biasa, melainkan wadah pembinaan generasi muda agar bertanggung jawab secara sosial dan berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Seyogyanya Karang Taruna sebagai potensi sumber kesejahteraan sosial dapat berperan aktif menjaga, menciptakan, mendukung, dan memperkuat penyelenggaraan kesejahteraan sosial,” ujarnya penuh semangat.

Ia pun mengajak seluruh kader Karang Taruna Sumsel untuk terus membangun sinergi dan kolaborasi antar sektor dalam rangka mendukung pembangunan berkelanjutan. Peran pemuda, menurutnya, sangat vital dalam pengembangan potensi daerah.

“Sumsel membutuhkan pemuda berkualitas, gesit, cerdas, inovatif, dan ikhlas dalam pengabdian. Semua sektor pembangunan membutuhkan peran pemuda yang solutif,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna, Didik Mukrianto, menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Sumsel atas dukungan penuh terhadap seluruh kegiatan Karang Taruna. Ia menyebut kehadiran pimpinan daerah dalam Rapimnas menjadi bukti komitmen terhadap penguatan peran pemuda.

Menurut Didik, tantangan sosial saat ini seperti kemiskinan memerlukan keterlibatan aktif generasi muda. Oleh karena itu, ia berharap seluruh peserta Rapimnas mampu menyerap semangat dan nilai perjuangan demi menciptakan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan di masyarakat.(ning)

Karang Taruna Sumsel Ukir Sejarah, Ditetapkan sebagai Inspirasi Nasional oleh PNKT

PALEMBANG -(deklarasinews.com)– Organisasi kepemudaan Karang Taruna Provinsi Sumatera Selatan kembali menorehkan sejarah membanggakan. Dalam acara pengukuhan Pengurus Masa Bakti 2025–2030 di Griya Agung, Palembang, Sabtu (19/7/2025), Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT), Didik Mukrianto, menyebut Karang Taruna Sumsel sebagai inspirasi dan role model tingkat nasional.

“Kalau ada pertanyaan siapa contoh terbaik Karang Taruna di Indonesia, maka saya sebut Sumsel. Karena mereka berhasil melahirkan pemimpin sosial, pengusaha, bahkan pejabat publik dari basis kepemudaan,” ujar Didik di hadapan undangan.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan meriah dari hadirin yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh nasional, kepala daerah, hingga aktivis pemuda. Didik menjelaskan bahwa pengakuan ini bukan sekadar pujian, melainkan hasil dari pengamatan mendalam atas kinerja Karang Taruna Sumsel selama lima tahun terakhir.

Menurutnya, organisasi ini telah menjadi wadah tumbuh kembangnya pemuda yang tangguh, kreatif, dan adaptif. Bahkan dalam dinamika sosial dan politik, alumni Karang Taruna kini banyak mengisi posisi strategis di DPRD, pemerintahan daerah, dan sektor swasta.

Di sisi lain, Gubernur Sumsel H. Herman Deru mengingatkan agar kepengurusan baru tidak lengah dalam menghadapi tantangan zaman, khususnya derasnya arus informasi dan teknologi.

Ia menyoroti kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang semakin berkembang dan meminta Karang Taruna untuk mengambil peran dalam pengendalian serta pemanfaatan teknologi demi kemajuan daerah.

Tak hanya itu, Herman Deru juga menekankan peran penting Karang Taruna dalam sektor pertanian. Ia menyampaikan bahwa Sumsel tengah dipercaya pemerintah pusat untuk membuka 48.000 hektare sawah baru dalam waktu dekat.

“Saya yakin Karang Taruna bisa menjadi mitra penting dalam mensukseskan target nasional ini. Kita butuh semangat muda untuk membuka dan mengelola lahan-lahan produktif,” ungkapnya.

Pengukuhan pengurus Karang Taruna kali ini berlangsung khidmat namun penuh semangat. Yudha Novhansa Utama kembali dipercaya sebagai Ketua, dengan didampingi Larrasati sebagai Sekretaris dan Teddy Meilwansyah sebagai Bendahara.

Dengan kepengurusan baru dan dukungan penuh dari pemerintah, Karang Taruna Sumsel diharapkan mampu terus menginspirasi, tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga secara nasional.

Acara ini turut dihadiri tokoh-tokoh nasional seperti Ir. H. Ishak Mekki, H. Wahyu Sanjaya, Hj. Eva Susanti, serta dr. Hj. Ratu Tenny Leriva Herman Deru. Hadir pula Ketua DPRD Sumsel Andie Dinialdie, Wakil Gubernur H. Cik Ujang, Forkopimda, para kepala OPD, serta para bupati dan wali kota se-Sumsel.(Ning)

Herman Deru Dorong Kolaborasi Lintas Instansi, Bagaimana Sekolah Rakyat Perkuat Perlindungan Anak di Sumsel

PALEMBANG -(deklarasinews.com)- Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Dr. H. Herman Deru, M.M., menegaskan komitmen kuat pemerintah daerah dalam memperkuat perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan. Hal ini disampaikannya saat membuka secara resmi Rapat Koordinasi (Rakor) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Sumsel, Selasa (15/7/2025) di Hotel The Zuri Palembang.

Dalam forum strategis ini, Gubernur Herman Deru menyoroti pentingnya sinergi antar instansi dalam upaya perlindungan anak dan perempuan. Ia menilai bahwa isu-isu sosial tersebut tidak bisa ditangani oleh satu dinas saja, melainkan memerlukan kolaborasi lintas sektor.

“Jadi saya minta ada peran serta dari dinas-dinas lain yang berkaitan dengan perlindungan anak,” ujarnya tegas.

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam Rakor tersebut adalah tentang program “Sekolah Rakyat” yang tengah disiapkan pemerintah pusat. Program pendidikan inklusif ini akan resmi diluncurkan secara nasional pada bulan Agustus 2025 dan direncanakan akan dimulai dengan 100 sekolah di seluruh Indonesia.

Herman Deru menyampaikan kabar menggembirakan bahwa beberapa sekolah dari program ini akan ditempatkan di wilayah Sumatera Selatan. Ia menganggap hal ini sebagai bentuk pengakuan terhadap komitmen Sumsel dalam mendukung program pendidikan yang pro-rakyat.

“Ini menunjukkan Sumsel mendapat perhatian khusus dalam pendidikan inklusif,” tuturnya.

Gubernur juga mengungkapkan bahwa kehadiran Sekolah Rakyat dapat menjadi salah satu solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi anak-anak di daerah. Menurutnya, pendidikan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Ia meminta semua pihak, terutama dinas-dinas yang berwenang seperti Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, agar bahu-membahu menyukseskan program-program ini.

“Tidak bisa satu dinas bekerja sendiri. Harus ada kerja sama yang kompak dan saling mendukung,” tegasnya.

Rakor PPA ini juga mengangkat sejumlah temuan penting dari laporan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sumsel. Laporan tersebut menunjukkan masih adanya banyak anak di Sumsel yang memerlukan perhatian khusus, baik dari sisi perlindungan hukum, pendidikan, hingga kesehatan.

Dalam konteks itu, Herman Deru menilai kehadiran program seperti Sekolah Rakyat sangat relevan. Menurutnya, pendidikan berbasis masyarakat harus menjadi garda terdepan dalam upaya membangun generasi yang terlindungi secara fisik dan psikologis.

“Sekolah Rakyat harus jadi medium untuk memperkuat nilai-nilai perlindungan,” tambahnya.

Ia pun mengajak seluruh kepala daerah di kabupaten/kota untuk ikut mendukung penuh pelaksanaan program ini, terutama dalam hal penyediaan sarana dan penguatan SDM yang memahami pentingnya perlindungan anak. Dengan begitu, kata Deru, Sumsel bisa menjadi contoh keberhasilan pelaksanaan program Sekolah Rakyat.

Melalui Rakor ini, Pemerintah Provinsi Sumsel berharap akan terbangun komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat tercapainya tujuan besar mewujudkan Sumatera Selatan sebagai provinsi yang ramah anak dan unggul dalam pemberdayaan perempuan.(ning)

Rakernas Perhiptani di Sumsel, Tonggak Baru Sinergi Penyuluh dan Pemerintah

PALEMBANG -(deklarasinews.com)– Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perhiptani Tahun 2025 yang digelar di Asrama Haji Palembang, Senin (14/7/2025), menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan penyuluh pertanian dalam rangka mendukung swasembada pangan nasional.

Gubernur Sumsel H. Herman Deru yang hadir langsung membuka acara, mengajak seluruh penyuluh untuk menanamkan semangat tulus dalam mengabdi kepada petani. Ia menyebut penyuluh sebagai ujung tombak pembangunan pertanian yang tak tergantikan.

“Kita harus menyadari bahwa penyuluh adalah navigator pertanian. Kita butuh arahan yang jelas agar bisa melaju cepat menuju swasembada pangan,” ujar Herman Deru penuh semangat.

Ia juga memberikan pandangan kritis terhadap Inpres Nomor 3 Tahun 2025 tentang pengangkatan penyuluh pertanian daerah ke pusat. Meski menyambut baik, ia menekankan pentingnya peran daerah dalam pengawasan dan pembinaan.

“Sinergi antara pusat dan daerah harus tetap terjalin. Jangan sampai setelah dialihkan, penyuluh justru tidak bisa beradaptasi dengan kebutuhan lokal,” imbuhnya.

Herman Deru juga mengusulkan agar tim Satu Data Pertanian Pusat dapat bekerja sama dengan Perhiptani agar informasi pertanian nasional dapat disusun lebih akurat dan bermanfaat dalam pengambilan kebijakan.

Rakernas kali ini mendapat perhatian besar karena menghadirkan berbagai pemangku kepentingan nasional. Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, DR. Widi Arsanti, menyampaikan bahwa proses pengalihan status penyuluh hampir rampung dengan 99% data telah dipadankan.

Sebanyak 37.811 penyuluh akan segera menjadi bagian dari sistem kerja nasional. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan integrasi antara teknologi, informasi, dan pendampingan lapangan bagi para petani.

Selain itu, insentif khusus bagi penyuluh berprestasi akan diberikan hingga tahun 2026 mendatang sebagai wujud apresiasi atas dedikasi mereka.

Rakernas juga menghasilkan kesepakatan penting melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Perhiptani dan PT. Malaka, yang diharapkan mampu mendukung inovasi pertanian berbasis kemitraan.

Selain Gubernur Sumsel, hadir pula Ketua Umum Perhiptani DR. Isran Noor, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Bupati Banyuasin DR. Askolani, serta para pimpinan OPD Sumsel dan kabupaten/kota lainnya.

Rakernas ini diharapkan menjadi momentum penguatan organisasi dan pembaharuan strategi pertanian yang berkelanjutan. Semua pihak sepakat bahwa kunci keberhasilan sektor pertanian nasional ada di tangan para penyuluh yang berdedikasi.(Ning)

Diajeng Kartika Sari Kembali Nahkodai FKPPAI Palembang, Teguhkan Komitmen Budaya dan Pengobatan Alternatif

PALEMBANG- (deklarasinews.com)– Suasana khidmat menyelimuti pelantikan Ketua DPC Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI) Kota Palembang, yang digelar di DKS Area, Jalan Jepang, Kecamatan Sako, Palembang, Minggu (13/07/2025). Momen istimewa ini menandai untuk kedua kalinya Diajeng Kartika Sari, SH kembali dipercaya untuk memimpin FKPPAI Kota Palembang, setelah sebelumnya sempat vakum akibat pandemi Covid-19.

Pelantikan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang turut memberikan apresiasi dan dukungan terhadap eksistensi organisasi yang menaungi para pelaku spiritual dan penyembuh alternatif tersebut. Hadir pula Ketua Umum DPP FKPPAI, Ki Sawung Rahsa, didampingi Ketua DPD FKPPAI Sumatera Selatan, Hang Sholahudin.

Dalam sambutannya, Ki Sawung Rahsa menyampaikan bahwa pelantikan Diajeng Kartika Sari sebagai Ketua DPC merupakan bentuk kepercayaan atas dedikasinya selama ini dalam menjalankan amanah Dewan Pendiri FKPPAI. Ia menilai, kehadiran langsung Wali Kota Palembang di acara ini merupakan capaian luar biasa yang mencerminkan keberhasilan Diajeng dalam menjalin sinergi dengan pemerintah daerah.

“Beliau mampu membuktikan bahwa arahan Dewan Pendiri untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah kota dapat diwujudkan. Hal ini menjadi semangat bagi seluruh anggota agar merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugas tanpa gangguan dari pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Ki Sawung.

Lebih lanjut, Ki Sawung menegaskan bahwa FKPPAI memiliki dua program utama yang menjadi fokus kegiatan. Pertama adalah program keparanormalan, yang berorientasi pada penyelesaian berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Kedua, program pengobatan alternatif, yang mengedepankan penggunaan herbal sebagai solusi penyembuhan non-medis.

“FKPPAI hadir untuk memberikan alternatif pengobatan kepada masyarakat. Kami tidak menolak pengobatan medis, tetapi kami menawarkan pilihan yang bersifat holistik, menyentuh aspek spiritual dan tradisional yang telah menjadi bagian dari budaya kita,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ki Sawung juga mengimbau kepada seluruh anggota FKPPAI untuk terus menjaga harmoni dan kedamaian antarsesama anggota. Ia menekankan pentingnya menjalankan Nawadarma – sembilan poin kode etik paranormal – sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan FKPPAI sebagai organisasi yang tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga nilai budaya yang tinggi. Ia berharap agar kepengurusan FKPPAI yang baru dapat segera melakukan konsolidasi dan menjalankan program-program yang telah direncanakan.

“Pengobatan alternatif ini nyata dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Saya harap program-program FKPPAI juga mampu menjangkau masyarakat Palembang secara lebih luas, tidak hanya terfokus di luar daerah,” ungkap Ratu Dewa.

Ia juga mendorong agar FKPPAI aktif melaksanakan kegiatan sosial seperti bakti sosial dan edukasi budaya kepada masyarakat. “Mari kita prakarsai kegiatan sosial dan budaya yang bermanfaat langsung bagi warga Palembang,” tandasnya.

Diajeng Kartika Sari, yang kini menjabat sebagai Ketua FKPPAI Kota Palembang untuk periode 2025–2030, mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali diamanahi posisi ini pada tahun 2015. Namun, kegiatan organisasi sempat terhenti akibat pandemi. Kini, ia kembali dengan semangat baru untuk melanjutkan perjuangan mengenalkan seni budaya dan pengobatan spiritual kepada masyarakat.

“Pelantikan ini menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-22 Paguyuban Kusuma Sejati, organisasi spiritual yang telah saya dirikan sejak 2003. Selama ini kami aktif melakukan berbagai kegiatan sosial dan budaya, termasuk memperkenalkan kembali nilai-nilai spiritual yang seringkali dipinggirkan,” ujar Diajeng.

Ia mengungkapkan harapannya agar masyarakat dapat lebih terbuka menerima pengobatan alternatif dan keilmuan spiritual sebagai bagian dari solusi kesehatan yang komprehensif.

“Insyallah kami siap menunjukkan kepada masyarakat bahwa pengobatan alternatif bisa menjadi jawaban, tentunya dengan pendekatan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan keilmuan spiritual yang kami pelajari,” tambahnya.

Tak hanya bergerak di bidang organisasi, Diajeng Kartika Sari juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin belajar pengobatan alternatif. Sejak tahun 2003, ia telah mendirikan sekolah pengobatan alternatif yang kini memiliki ribuan murid dari seluruh penjuru Indonesia.

Menariknya, sejak lima tahun terakhir, sekolah tersebut juga menyediakan sistem pembelajaran daring (online) yang menjangkau peserta dari luar negeri seperti Jepang, Belanda, dan Australia.

“Persyaratannya cukup mudah, yang penting ada kemauan, usia minimal 18 tahun, dan tidak memiliki riwayat gangguan jiwa karena proses pembelajaran perlu pendampingan. Program ini berjalan selama satu bulan dengan delapan kali pertemuan,” jelasnya. (Ning)

Herman Deru : IKAWARA Jadi Contoh Komunitas Kedaerahan yang Kuat di Tengah Gempuran Budaya Global

PALEMBANG -(deklarasinews.com)- Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Dr. H. Herman Deru, memberikan apresiasi tinggi terhadap peran strategis Ikatan Keluarga Warkuk Ranau (IKAWARA) sebagai komunitas kedaerahan yang mampu menjadi benteng budaya di tengah derasnya arus globalisasi.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat menghadiri acara Silaturahmi IKAWARA Palembang dan sekitarnya yang digelar di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Sabtu (12/7/2025). Acara ini berlangsung penuh kehangatan dan menjadi momentum penting mempererat jalinan persaudaraan.

Gubernur Herman Deru menilai, kekompakan anggota IKAWARA merupakan bukti nyata bagaimana kekuatan komunitas dapat menjaga nilai-nilai luhur budaya daerah.

“Saya sangat bangga melihat kekompakan dan kepedulian yang terjalin erat di antara anggota IKAWARA. Ini menjadi contoh teladan bagaimana silaturahmi tetap terjaga, meskipun kita jauh dari kampung halaman,” ujar Gubernur.

Ia menyebutkan, dalam menghadapi era keterbukaan global, komunitas seperti IKAWARA memainkan peran penting sebagai penjaga identitas budaya lokal.

Menurutnya, keterbukaan terhadap budaya asing boleh saja dilakukan, asalkan tidak menggerus nilai-nilai budaya sendiri. “Kita boleh tahu dan kenal budaya asing, tapi tidak mesti ikut-ikutan, apalagi kalau bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat kita,” jelasnya.

Lebih lanjut, Herman Deru menekankan pentingnya mempertahankan bahasa, adat, dan etika masyarakat Ranau. Hal itu, katanya, menjadi ciri khas sekaligus identitas yang harus terus dirawat.

“Kita ini tidak boleh kehilangan identitas. Orang Ranau punya budaya luhur, punya adat istiadat dan tutur kata yang khas. Itu yang harus dijaga,” tegasnya.

Gubernur juga mengingatkan pentingnya bahasa daerah sebagai bagian dari warisan budaya yang tak ternilai. Ia mengajak anggota komunitas untuk terus menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari.

“Bahasa daerah jangan sampai hilang. Kita boleh fasih berbahasa Inggris, boleh kenal bahasa lain, tapi bahasa kita tetap harus dijaga,” kata dia.

Selain menjadi ajang silaturahmi, acara ini juga menjadi sarana penguatan nilai-nilai sosial dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kesempatan itu, Gubernur berharap kegiatan seperti ini terus digelar secara rutin, agar kekompakan dan solidaritas diantara warga tetap terjaga.

“Komunitas seperti ini adalah kekuatan sosial kita. Jangan sampai hilang karena tergerus zaman,” pungkas Herman Deru. (ning)