PALEMBANG -(deklarasinews.com)– Bukan sekadar ajang mencari juara. Grand Final Icon Academy 2026 menjadi panggung bagi puluhan anak berbakat di Palembang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus melatih keberanian tampil di hadapan publik.
Sebanyak 30 finalis tampil dalam Grand Final Icon Academy 2026 yang digelar Academy Of Talent Modelling School di Amaris Hotel, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, Sabtu (29/8/2026).
Puluhan finalis tersebut sebelumnya harus melewati proses seleksi yang cukup ketat. Dari sekitar 50 peserta, panitia kemudian menyeleksi hingga tersisa 30 peserta yang berhak melaju ke babak grand final.
Ketua Pelaksana Grand Final Icon Academy 2026, Yayan Saputra, didampingi Owner Academy Of Talent Modelling School, Fitriani alias Kak Ipet, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengasah kreativitas sekaligus mengembangkan bakat yang mereka miliki.
“Tujuannya mengembangkan kreativitas dan bakat anak-anak, baik di dunia modelling maupun fashion show. Kemudian juga dancer dan singing,” ujar Yayan.
Tiga Bakat Dipertandingkan
Tahun ini, terdapat tiga bidang utama yang diperlombakan, yakni singing, modelling, dan dancer.
Pesertanya berasal dari berbagai kelompok usia. Mulai dari anak-anak berusia 4 tahun hingga 13 tahun. Sementara untuk kategori remaja, penyelenggara memberikan batas usia hingga 15 tahun.
Yayan mengatakan jumlah peserta remaja dalam ajang kali ini tidak terlalu banyak sehingga kategori usia tersebut dibatasi.
Menariknya, kompetisi ini juga menunjukkan bahwa kesempatan untuk tampil dan mengembangkan bakat terbuka bagi siapa saja.
Salah satu finalis diketahui memiliki keterbatasan penglihatan. Namun kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk mengikuti kompetisi.
Peserta tersebut berhasil terpilih setelah menunjukkan kemampuan bernyanyi yang dinilai cukup baik.
Kehadirannya menjadi salah satu gambaran bahwa panggung Icon Academy tidak hanya berbicara soal kemampuan tampil, tetapi juga tentang keberanian dan kesempatan untuk menunjukkan potensi yang dimiliki.
Bukan Sekadar Cantik dan Pandai Berlenggak-lenggok
Untuk menentukan para pemenang, juri tidak hanya melihat penampilan secara kasat mata. Setiap kategori memiliki sejumlah indikator penilaian.
Pada kategori modelling, peserta dinilai dari kemampuan melakukan catwalk, ekspresi wajah, make-up, kostum, hingga aksesori dan berbagai pernak-pernik yang digunakan.
Sementara untuk kategori singing, kemampuan vokal menjadi perhatian utama. Juri juga mempertimbangkan ketepatan tempo ketika bernyanyi serta penampilan peserta secara keseluruhan.
Berbeda dengan modelling, pada kategori foto model, peserta dituntut menunjukkan kreativitas melalui gaya dan pose.
Cara peserta berpose, kemampuan mengekspresikan diri di depan kamera, kreativitas, penggunaan properti hingga variasi gaya menjadi bagian yang diperhatikan juri.
“Dilihat dari ia bergaya seperti apa, cara ia berpose, cara berfoto, kreativitasnya, properti yang dipakai, apakah monoton atau tidak,” jelas Yayan.
Sedangkan untuk kategori dancer, penilaian mencakup gerakan tari, kostum, power, serta penampilan peserta secara keseluruhan.
Sudah Berjalan Sejak 2017
Icon Academy bukanlah ajang yang baru digelar tahun ini.
Menurut Yayan, kegiatan tersebut telah rutin dilaksanakan sejak 2017.
Selama ini, penyelenggaraan Icon Academy umumnya berlangsung di dalam pusat perbelanjaan atau mal.
Namun, ada perubahan konsep pada pelaksanaan tahun 2026.
Untuk pertama kalinya, kegiatan tersebut digelar di hotel. Pemilihan Amaris Hotel sebagai lokasi grand final disebut sebagai bagian dari upaya penyelenggara menghadirkan acara yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya ada di dalam sebuah mal. Baru tahun 2026 ini diadakan di sebuah hotel karena kami menginginkan event tahun 2026 ini bisa lebih bagus dan lebih baik dari event tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Yayan.
Peserta Lama Masih Punya Kesempatan
Ada pula kesempatan menarik bagi peserta yang pernah mengikuti Icon Academy pada tahun sebelumnya tetapi belum berhasil menjadi juara.
Panitia tetap membuka peluang bagi mereka untuk kembali berkompetisi.
Syaratnya, peserta tersebut belum pernah menyandang status sebagai Icon.
“Selama ia belum menjadi Icon, ia diperbolehkan ikut kembali,” kata Yayan.
Dengan aturan tersebut, peserta yang sebelumnya belum berhasil masih memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman, memperbaiki kemampuan, dan kembali mencoba peruntungannya.
Pesan Yayan: Jangan Takut Naik Panggung
Di balik persaingan menjadi juara, Yayan menyebut ada pesan yang jauh lebih penting yang ingin ditanamkan kepada para peserta.
Yakni kepercayaan diri.
Menurutnya, keberanian tampil di depan orang banyak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama bagi anak-anak.
Karena itu, ia mendorong seluruh peserta untuk tidak takut menunjukkan kemampuan mereka.
“Berani tampil di depan umum itu tidak mudah. Selama ingin berkembang dan punya bakat, ayo berani tampil di panggung,” pesannya.
Bagi Yayan, kemenangan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan.
Pengalaman tampil, keberanian, kemampuan mengembangkan bakat dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri juga merupakan bagian penting dari proses tersebut.
“Menang tidak menang itu rezeki. Yang penting PD (percaya diri),” pungkasnya. (Ning)