YAPEN -(deklarasinews.com)- Pegiat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) asal Serui, Mark Imbiri, S.I.Kom, melontarkan kritik keras terhadap pola pendekatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Cenderawasih (Uncen) yang saat ini ditempatkan di Kabupaten Kepulauan Yapen.
Sebanyak 1.035 mahasiswa yang terbagi dalam 50 kelompok dan disebar di 50 kampung pada Distrik Yapen Selatan, Anotaurei, Angkaisera, Yawakukat, dan Kosiwo dinilai belum menunjukkan arah kerja yang jelas meski telah hampir sepekan berada di lokasi KKN.
Menurut Mark, mahasiswa seharusnya datang ke lokasi dengan bekal data awal serta rancangan program yang matang, bukan baru mencari tahu apa yang akan dikerjakan setelah tiba di kampung.
“Mahasiswa itu dikenal sebagai agen perubahan. Sebelum turun KKN sudah tahu tempatnya, otomatis sudah punya rancangan kegiatan yang akan dilakukan. Bukan tiba di kampung lalu banyak main TikTok dengan konten tidak jelas,” tegas Mark kepada , Jumat (24/7/2026).
Mark menilai kehadiran lebih dari seribu mahasiswa seharusnya mampu memberikan solusi dan gagasan bagi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Yapen.
Ia menyebut sejumlah persoalan mendasar seperti penanganan sampah, pencegahan HIV/AIDS, hingga persoalan administrasi kampung masih membutuhkan perhatian serius.
“Serui ini ada masalah yang perlu sentuhan banyak pihak, yaitu masalah HIV/AIDS, masalah sampah, hingga masalah administratif. Seribu tiga puluh lima mahasiswa kalau berpikir dan membuat sesuatu saja pasti ada satu perubahan kecil yang ditinggalkan di setiap kampung,” ujarnya.
Tak hanya mengkritik, Mark juga mendorong agar 50 akun TikTok kelompok KKN dimanfaatkan sebagai media edukasi dan publikasi kegiatan positif selama pengabdian di masyarakat.
Ia mengusulkan agar mahasiswa membuat konten edukatif, menampilkan hasil kerja kelompok, hingga menggelar diskusi publik melalui siaran langsung mengenai persoalan di kampung tempat mereka bertugas.
“Buat live TikTok dan bahas masalah yang ada di kampung masing-masing atau publikasi hasil kerja. Jangan live TikTok hanya mengeluh takut suanggi, sunyi, jaringan internet lelet, rindu pacar dan konten-konten tidak masuk akal. Akun atas nama kelompok KKN harus berisi publikasi edukasi. Kalau mau mengeluh, silakan di akun pribadi,” kritiknya.
Mark juga mengingatkan para mahasiswa agar bersyukur karena lokasi KKN di Yapen relatif mudah dijangkau dibanding mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang ditempatkan di wilayah yang lebih terpencil.
Sebagai Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi, ia mengajak seluruh kelompok KKN untuk meninggalkan program nyata yang dapat dirasakan masyarakat melalui tiga gerakan utama.
Pertama, menghidupkan Gerakan JUMPA BERLIAN (Jumat Pagi Bersih Lingkungan) sebagai budaya gotong royong membersihkan lingkungan setiap hari Jumat.
Kedua, menggerakkan masyarakat di 50 kampung untuk mengibarkan Bendera Merah Putih dalam menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.
Ketiga, melaksanakan sosialisasi kesehatan sekaligus membantu pembenahan administrasi kampung, seperti pembuatan papan nama keluarga, penataan batas RT/RW dan kampung, administrasi surat-menyurat, hingga penguatan kelembagaan Karang Taruna.
Mark berharap waktu KKN yang hanya berlangsung sekitar satu bulan benar-benar dimanfaatkan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Sebelum 20 Agustus nanti, harus sudah banyak hasil KKN yang terlihat dan bisa dirasakan masyarakat. Tinggalkan karya, bukan hanya konten,” pungkasnya