LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat perekonomian Provinsi Lampung pada Triwulan III-2026 tumbuh sebesar 5,02 persen secara year-on-year (y-on-y) dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung Triwulan III-2026 atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp150,55 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp80,42 triliun.
Secara triwulan ke triwulan (q-to-q), ekonomi Lampung tercatat tumbuh 0,43 persen, melambat jika dibandingkan dengan pola musiman triwulan III tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, secara kumulatif sampai dengan Triwulan III-2026 (c-to-c), perekonomian Provinsi Lampung tumbuh sebesar 5,29 persen.
Dari sisi produksi, perekonomian Lampung masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama, yaitu Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan peranan sebesar 28,17 persen (tumbuh 2,05 persen y-on-y, salah satunya disebabkan dampak El Nino), Industri Pengolahan sebesar 19,38 persen (tumbuh 5,63 persen y-on-y sejalan kenaikan ekspor produk industri), dan Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 13,68 persen (tumbuh 5,78 persen y-on-y). Laju pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 9,74 persen dan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 9,46 persen.
Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) menjadi penopang utama perekonomian dengan kontribusi 59,23 persen dan tumbuh 4,87 persen (y-on-y). Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB/Investasi) tumbuh 6,08 persen seiring peningkatan aktivitas konstruksi swasta dan pemerintah. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 5,77 persen didorong oleh realisasi program prioritas nasional, sedangkan Ekspor Barang dan Jasa tumbuh 2,63 persen.
Pertumbuhan ekonomi Lampung sebesar 5,29 persen (y-on-y) menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di Pulau Sumatera, setelah Kepulauan Riau (7,19 persen). Ekonomi Pulau Sumatera secara keseluruhan tumbuh sebesar 5,04 persen.
IPM Provinsi Lampung Tahun 2026 Mencapai 74,74 dan Berstatus “Tinggi”
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung tahun 2026 mencapai 74,74, atau meningkat 0,76 poin dibandingkan IPM tahun 2025 yang sebesar 73,98. Pembangunan manusia di Lampung terus mengalami perbaikan konsisten sejak 2022 dan berada pada kategori status “Tinggi”.
Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2026 didorong oleh perbaikan pada seluruh indikator penyusunnya. Pada dimensi Umur Panjang dan Hidup Sehat, Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH) tercatat mencapai 74,93 tahun atau meningkat 0,22 tahun dari tahun 2025. Dari dimensi Pengetahuan, Harapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 12,80 tahun dengan kenaikan 0,01 tahun, sementara Rata-rata Lama Sekolah (RLS) mencapai 8,70 tahun atau naik 0,09 tahun. Selain itu, pada dimensi Standar Hidup Layak, Pengeluaran Riil per Kapita per Tahun yang Disesuaikan mencapai Rp12.327.000,- per tahun, yang menunjukkan peningkatan sebesar Rp644.000,- dibandingkan dengan tahun 2025.
Secara spasial, Kota Bandar Lampung (IPM 81,84) dan Kota Metro (IPM 81,82) berstatus “Sangat Tinggi” (IPM ≥ 80), sementara 13 kabupaten lainnya berstatus “Tinggi”. Capaian IPM tertinggi dipegang oleh Kota Bandar Lampung (81,84) dan terendah di Kabupaten Mesuji (70,04). Laju pertumbuhan IPM tertinggi diraih oleh Kabupaten Pesisir Barat sebesar 1,17 persen, sedangkan pertumbuhan terendah di Kota Bandar Lampung sebesar 0,71 persen.
Perkiraan Luas Panen dan Produksi Padi Provinsi Lampung Tahun 2026
Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Padi amatan September 2026, total luas panen padi di Provinsi Lampung pada tahun 2026 diperkirakan mencapai 578,68 ribu hektare, atau mengalami penurunan sebesar 17,33 ribu hektare (2,91 persen) dibandingkan tahun 2025.
Total produksi padi tahun 2026 diperkirakan mencapai 3.252,63 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG), turun sebesar 159,06 ribu ton GKG (4,89 persen) dibandingkan tahun 2025. Penurunan produksi terutama berpotensi terjadi pada Subround III (September–Desember) 2026 sebesar 330,59 ribu ton GKG akibat dampak fenomena cuaca, meskipun pada Subround I (Januari–April) sempat mengalami peningkatan sebesar 184,42 ribu ton GKG.
Apabila dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan masyarakat, produksi beras Provinsi Lampung pada tahun 2026 diperkirakan mencapai 1.869,78 ribu ton beras, mengalami penurunan sebesar 91,44 ribu ton (4,89 persen) dibandingkan tahun 2025.
Perkiraan Luas Panen dan Produksi Jagung Provinsi Lampung Tahun 2026
Berdasarkan hasil KSA Jagung amatan September 2026 dan Survei Ubinan, total luas panen jagung di Provinsi Lampung selama tahun 2026 diperkirakan mencapai 195,08 ribu hektare, atau meningkat sebesar 0,59 ribu hektare (0,31 persen) dibanding tahun 2025. Peningkatan luas panen terjadi pada Subround I (naik 23,56 ribu ha) dan Subround II (naik 14,94 ribu ha), meskipun terdapat potensi penurunan pada Subround III (turun 37,91 ribu ha).
Sementara itu, total produksi Jagung Pipilan Kering Kadar Air 14% (JPK-KA 14%) pada tahun 2026 diperkirakan mencapai 1,255 juta ton, mengalami penurunan tipis sebesar 4,90 ribu ton (0,39 persen) dibandingkan tahun 2025. Kenaikan produksi pada Subround I (164,41 ribu ton) dan Subround II (72,92 ribu ton) tertahan oleh potensi penurunan pada Subround III (242,23 ribu ton).
Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Lampung Agustus 2026
Jumlah Penduduk Usia Kerja (15 tahun ke atas) di Provinsi Lampung pada Agustus 2026 mencapai 7,29 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5,16 juta orang merupakan Angkatan Kerja dan 2,13 juta orang merupakan Bukan Angkatan Kerja. Sepanjang periode Agustus 2025 hingga Agustus 2026, terjadi penyerapan tenaga kerja sebesar 97,07 ribu orang, sehingga total penduduk bekerja mencapai 4,95 juta orang..
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Lampung pada Agustus 2026 tercatat sebesar 4,01 persen, mengalami penurunan dibandingkan posisi Agustus 2025. Jumlah pengangguran mengalami penurunan dari 213,17 ribu orang di Agustus 2025 menjadi 206,77 ribu orang di Agustus 2026.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 70,76 persen, di mana TPAK Perempuan naik sebesar 1,83 persen poin dan TPAK Laki-laki turun 1,10 persen poin. Dilihat dari sektor utama penyerapan tenaga kerja, tiga lapangan usaha terbanyak adalah Pertanian, Perdagangan Besar dan Eceran, dan Industri.
Pada Agustus 2026, proporsi sektor formal tercatat sebesar 34,07 persen, sedangkan sektor informal mencapai 65,93 persen. Dilihat dari kategori jam kerja, mayoritas penduduk bekerja merupakan Pekerja Penuh (jam kerja ≥35 jam seminggu) yaitu sebesar 62,21 persen (3,08 juta orang). Sementara itu, Pekerja Tidak Penuh mencakup 37,79 persen (1,87 juta orang.
Dari sisi tingkat pendidikan penduduk bekerja, proporsi terbanyak masih didominasi lulusan SD ke bawah sebesar 34,64 persen (1,71 juta orang). Selanjutnya diikuti lulusan SMP sebesar 22,44 persen (1,11 juta orang), SMA sebesar 22,08 persen (1,09 juta orang), dan SMK sebesar 11,22 persen (555,52 ribu orang). Adapun tenaga kerja berpendidikan tinggi (Diploma/Universitas) tercatat sebesar 9,62 persen (476,32 ribu orang).