LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan bahwa neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada Juli 2026 kembali mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar US$437,29 juta. Kinerja tersebut ditopang oleh nilai ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan nilai impor selama periode Juli 2026.
Nilai ekspor Provinsi Lampung pada Juli 2026 tercatat mencapai US$582,54 Juta. Angka ini meningkat 5,93 persen secara tahunan (y-on-y) dibandingkan Juli 2025 yang sebesar US$549,93 juta. Namun demikian, secara kumulatif (c-to-c), nilai ekspor Provinsi Lampung selama periode Januari–Juli 2026 mencapai US$3.591,80 juta, atau turun 0,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar US$ 3.597,29 juta.
Dari sisi pelabuhan muat, nilai ekspor Provinsi Lampung selama Januari–Juli 2026 didominasi oleh pelabuhan yang berada di Provinsi Lampung, yaitu sebesar US$2.482,64 juta atau sebanyak 82,50 persen dari total ekspor. Sementara itu, ekspor melalui pelabuhan di luar Provinsi Lampung tercatat sebesar US$526,62 juta atau 17,50 persen.
Tiga negara tujuan utama ekspor Provinsi Lampung selama Januari – Juli 2026 adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$561,74 juta, atau berkontribusi sekitar 15,64 persen terhadap total ekspor; diikuti Tiongkok sebesar US$437,73 juta (12,19 persen), dan Belanda sebesar US$302,15 juta (8,41 persen). Komoditas utama yang diekspor ke ketiga negara tersebut didominasi oleh Lemak dan Minyak Hewan/Nabati.
Secara keseluruhan, tiga komoditas ekspor terbesar selama Januari – Juli 2026 adalah Lemak dan Minyak Hewan/Nabati senilai US$1.586,01 juta (44,16 persen), Bahan Bakar Mineral sebesar US$547,34 juta (15,24 persen), serta Kopi, Teh, dan Rempah-Rempah sebesar US$532,58 juta (14,83 persen).
Di sisi lain, nilai impor Provinsi Lampung pada Juli 2026 tercatat sebesar US$145,25 juta. Nilai ini menunjukkan peningkatan sebesar 10,33 persen secara tahunan (y-on-y) dibandingkan Juli 2025 yang sebesar US$131,66 juta. Secara kumulatif (c-to-c), nilai impor Januari–Juli 2026 mencapai US$973,40 juta, atau turun 24,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$1.284,42 juta.
Tiga negara asal impor terbesar selama Januari–Juli 2026 adalah Amerika Serikat dengan nilai impor sebesar US$174,65 juta (atau berkontribusi sekitar 17,94 persen terhadap total impor) yang didominasi komoditas utamanya adalah Kereta Api, Trem dan bagiannya.
Kemudian disusul Jerman dengan nilai impor sebesar US$158,40 juta (16,27 persen) dengan komoditas utama Kapal, Perahu, dan Struktur terapung), serta Australia sebesar US$114,60 juta (11,77 persen) dengan komoditas utama binatang hidup.
Secara keseluruhan, tiga komoditas impor terbesar selama Januari–Juli 2026 adalah Kapal, Perahu, dan Struktur Terapung senilai US$149,50 juta (atau berkontribusi sekitar 15,36 persen); Ampas dan Sisa Industri Makanan yang bernilai sebesar US$141,50 juta (14,54 persen); serta Binatang Hidup dengan nilai impor sebesar US$111,68 juta (11,47 persen).
Dengan nilai ekspor sebesar US$582,54 juta dan nilai impor sebesar US$145,25 juta pada Juli 2026, Provinsi Lampung mencatatkan tren surplus pada neraca perdagangan luar negeri sebesar US$437,29 juta.
Provinsi Lampung Alami Inflasi Bulanan 0,23 Persen pada Agustus 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada periode Agustus 2026 mengalami inflasi secara bulanan (m-to-m) sebesar 0,23 persen. Sementara itu, jika dilihat secara kumulatif sejak awal tahun, tingkat inflasi tahun kalender hingga Agustus 2026 telah mencapai 2,16 persen.
Jika kita lihat berdasarkan kelompok pengeluaran, dari 11 kelompok yang ada, 9 kelompok pengeluaran memberikan andil inflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada Kelompok Pendidikan, yaitu sebesar 1,80 persen. Kelompok ini memberikan andil inflasi terbesar, yaitu sebesar 0,10 persen terhadap inflasi Provinsi Lampung. Sementara itu, 2 kelompok lainnya tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi (m-to-m) Provinsi Lampung, yaitu kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta kelompok Transportasi.
Lima komoditas utama yang memberikan andil inflasi secara bulanan (month-to-month) pada Agustus 2026 adalah Beras, Daging Ayam Ras, Kacang Panjang, Jagung Manis dan Sekolah Menengah Atas. Kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut menjadi faktor utama pendorong inflasi pada periode ini.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga berperan sebagai penahan laju inflasi. 5 komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah Bawang Merah, Tomat, Bawang Putih, Bensin dan Angkutan Udara. Penurunan harga komoditas tersebut membantu meredam tekanan inflasi yang lebih tinggi pada Agustus 2026.
Selanjutnya, jika dilihat secara tahunan (y-on-y), Provinsi Lampung mencatatkan inflasi sebesar 3,53 persen pada Agustus 2026 dibandingkan Agustus 2025. Capaian inflasi tahunan ini lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada Agustus 2025 yang tercatat sebesar 1,05 persen.
Jika dirinci berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 9,42 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,61 persen. Namun demikian, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tetap menjadi penyumbang andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yaitu 1,23 persen dengan tingkat inflasi 3,61 persen. Di sisi lain, kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya mencatat deflasi sebesar 0,17 persen, namun tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi tahun ke tahun Provinsi Lampung.
Lima komoditas penyumbang andil inflasi tahunan terbesar pada Agustus 2026 adalah emas perhiasan (0,39 persen), bensin (0,29 persen), beras (0,23 persen), minyak goreng (0,21 persen), dan daging ayam ras (0,21 persen). Adapun lima komoditas yang menahan laju inflasi atau andil deflasi tahunan adalah Bawang Merah (0,51 persen), Telur Ayam Ras (0,09 persen), Tomat (0,08 persen), Makanan Hewan Peliharaan (0,04 persen), dan Bedak (0,02 persen). BPS Provinsi Lampung juga memantau perkembangan inflasi di empat kabupaten/kota cakupan IHK. Pada Agustus 2026, inflasi tahunan tertinggi dialami Kota Bandar Lampung sebesar 3,86 persen (IHK 110,69), dan untuk inflasi terendah terjadi di Kabupaten Lampung Timur sebesar 2,90 persen (IHK 114,62). Sementara jika dilihat secara bulanan, inflasi tertinggi dialami Kabupaten Mesuji sebesar 0,26 persen. Sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi di Kota Metro mengalami inflasi sebesar 0,22 persen.
Nilai Tukar Petani Lampung Agustus 2026 Mencapai 134,81
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada periode Agustus 2026. Sebagai pengingat, NTP merupakan indikator yang membandingkan antara indeks harga yang diterima petani atas hasil produksinya dengan indeks harga yang dibayar petani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi.
Pada Agustus 2026, NTP Provinsi Lampung tercatat naik sebesar 1,64 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dengan nilai indeks mencapai 134,81.
Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan pada subsektor Tanaman Pangan sebesar 2,78 persen, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,85 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,56 persen Sedangkan subsektor yang mengalami penurunan yaitu, Tanaman hortikultura yang turun sebesar 4,78 persen, dan Peternakan sebesar 0,11 persen.
Perkembangan Pariwisata Lampung Juli 2026: TPK Hotel Berbintang Tercatat 46,01 Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis data perkembangan pariwisata untuk periode Juli 2026. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Lampung pada Juli 2026 tercatat 46,01 persen, turun 3,76 persen poin dibandingkan Juni 2026 dan menurun 1,28 persen poin dibandingkan Juli 2025. Di sisi lain, TPK hotel non-Bintang mencapai 26,62 persen yang turun sebesar 0,81 persen poin dibandingkan Juni 2026 dan naik 1,49 persen poin dibandingkan Juli 2025.
Tren Transportasi Lampung Juli 2026: Penumpang Udara Melonjak, Laut dan Kereta Menyusut
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis data perkembangan transportasi untuk periode Juli 2026. Dari perkembangan angkutan udara melalui Bandara Raden Intan II: Jumlah keberangkatan penumpang angkutan udara pada Bulan Juli 2026 sebanyak 54.635 orang. Angka tersebut naik sebesar 12,63 persen dibandingkan Bulan Juni 2026. Hal tersebut juga sejalan jika dibandingkan kondisi Juni 2025 yang juga mengalami kenaikan sebesar 4,50 persen.
Selanjutnya, berikut disajikan potret keberangkatan penumpang angkutan laut melalui Pelabuhan Bakauheni Jumlah penumpang yang berangkat dari Pelabuhan Bakauheni pada Bulan Juli 2026 sebanyak 55.252 penumpang, atau mengalami penurunan sebesar 22,03 persen dibandingkan kondisi Juni 2025. Sebaliknya jika dibandingkan kondisi Juli 2025, mengalami kenaikan sebesar 2,15 persen. Beralih ke jenis transportasi berikutnya yaitu Angkutan Kereta Api. Jumlah penumpang angkutan kereta api pada Bulan Juli 2026 sebanyak 76.659 Penumpang. Angka ini mengalami penurunan 13,39 persen jika dibanding kondisi Juni 2026. Sementara, jumlah penumpang kereta api secara year on year mengalami kenaikan sebesar 3,23 persen dibanding dengan Juni 2025.